Tambora disimpang jalan, begini Tanggapan Aktifis Kemanusiaan dan Pelaku Pariwisata

Berita Nasional

Oleh      |RED jjntb009

Editor    |Nukman


JEJAK.COM,- Pengelolaan Kawasan Tambora di ujung barat Bima dan Dompu disorot berbagai pihak, salah satunya adalah Shintaro Samuel Situmorang Batak dan Elshabir Alghura aktifis kemanusiaan dan lingkungan hidup Nusa Tenggara Barat,

Tambora acapkali disebut sebagai destinasi dan tujuan serta kawasan pengembangan ini dan itu namun secara faktual yang terdapat di tambora hanyalah view dan beberapa titik spot serta hamparan savana.

Kalaupun ada pembangunan disana hanyalah jalan raya yang terlihat kinclong, sarana prsarana yang lain seperti bangunan fisik boleh dibilang tidak prioritas melainkan dianaktirikan.

Mantan Wamen ESDM (Alm) yang sempat ke Tambora pun pernah mengakuinya kawasan tersebut, beliau sebelum mangkat dan meninggal akibat serangan jantung dan sesak napas saat mendaki gunung tambora Bima Dompu pernah berucap, bahkan masih terlihat di instagram pribadinya di google saat ini,

” Saya baru melihat tempat ini, hemat saya ini surga dan menentukan masa depan kita,” spontan ucapan ini keluar tiba tiba dari mulutny seorang Wamen ESDM kala itu.

Masih dirinya, beliau sangat takjub dengan keindahan alam terhampar tanpa batas, landai sejauh mata memandang serta kaya akan sumber daya nabati dan hayati serta alamnya.

Sayang kawasan tersebut hingga kini belum mampu dikelola dengan optimal masih saling klaim dan mendikotomikan sementara explore wisata dll sering terabaikan

Padahal kalau mau secara obyektif Tambora bakal memakmurkan pulau sumbawa bukan hanya Bima dan Dompu karena bonus demografi yang ditampilkan kawasan tersebut sangat menjanjikan,

Cadangan oksigen Tambora bisa men zakati  Bima dan Dompu, belum lagi lainnya,

Elshabir Alghura menilai Tambora masuk kawasan kaya namun kekayaannya Tambora sudah salah urus dan salah star mengelolanya dari awal

” Terlantarnya KTM misalnya,  salah satu contoh gagalnya tata kelola, terus rusaknya kawasan oleh illegal logging, penanaman jagung, mudahnya satwa seperti menjangan diperjual belikan warga, telur satwa penyu yang diboyong keluar oknum, madu yang sudah di kelompok kelompokkan hutan dan kawasaannya hingga tanah hak ulayat serta tanah tanah warga yang dijual seenaknya oleh oknum kepala Desa saat itu ke investor dan kini para cukong tersebut telah menguasai landmark dan lainnya merupakan kegagalan secara kolektif dan fatal kita bagi anak cucu generasi ke depan.,urai Elshabir, SH

Shintaro Samuel Situmorang salah satu pegiat wisata parekraf menilai Posisi Tambora dalam pengembangan kepariwisataan itu seperti apa,

“apakah pengembangannya prioritaskah atau unggulankah atau bagaimana? Nanti dari situ, baru bisa di peta kan Kemenparekraf RI bahwa kawasan Tambora baru bisa di petakan porsi dan jatah kue pembangunannya sekian persen, kan ada istilahnya kawasan prioritas strategis maupun kawasan unggulan destinasi yang mestinya harus jelas demarkasinya oleh Kepala Daerah dalam hal ini Bupati, Dengan posisi Tambora sebagai kawasan strategis maupun unggulan maka pihak pusat baru clear bisa menentukan sikap, kira-kira bantuan seperti apa, atau program program bermanfaat macam bagaimana yang sangat cocok dengan kawasan tersebut,

Pariwisata itu dikembangkan tidak melihat batas administrasi dan ijin serta mindset pengembangan wisata itu dibangun diatas komitmen dan kebersamaan dengan saling menguatkan kapasitas, sinergi merupakan kata kunci dalam menguatkan sources pariwisata daerah, festival misalnya tidak harus saling adakan melainkan disatukan aja dengan cara menerapkan giliran, umpama tahun 2022 untuk Kabupaten A dan Tahun 2023 untuk Kabupaten B jika wilayah atau kawasan tersebut milik A dan B. “Tuan rumah tahun ini Bima dan tahun depan Dompu, begitulah kira kira cara mensinergikan pola acara festival yang sulit digabung dan disatukan,

Harusnya masing masing bupati baik dompu maupum bima berpikir bagaimana masyarakat lokal setempat sibuk dan bisa ambil peran guna memutar perekonomian dan meningkatkan taraf hidupnya dalam event event yang digelar kedua pemkab tersebut,

Provinsi pasti punya rencana induk pengembangan pariwisata daerah, Nah, Tambora ini didalam RIPDA nya Propinsi Nusa Tenggara Barat seperti apa , Tambora ini didalam RIPDA nya Kabupaten Dompu seperti apa, Tambora ini didalam RIPDA nya Kabupaten Bima seperti apa, jika ini tidak jelas maka akan sulit mengembangkan Kawasan tersebut, misalnya kalau kami di pusat itu kan ada namanya RIKNAS begitu juga dengan Propinsi harusnya rencana induk pengembangan pariwisata Propinsi Nusa Tenggara Barat, RIPDA Propinsi NTB itu harusnya selaras dan mengacu dengan RIKNAS Pusat supaya sejalan

Begitu juga dengan RIKDA Kabupaten Dompu dan Bima harus selaras mengacu dengan RIKDA Propinsi NTB maupun Nasional supaya sejalan , kami di pusat sdh membuat konsep yang bagus namun di daerah mohon maaf pak sangat amburadul adanya, pungkasnya.

 

 

Facebook
Twitter
Email
WhatsApp

Berita Terbaru

Scroll to Top