Pertemuan multipartit digagas Majelis Adat Syara Dana Mbojo bersama Tokoh Adat Masyarakat Wawo Maria, Foto (Facebook Firdaus Pengacara)
JejakNTB.com, JAKARTA | Keputusan Muhammad Firdaus Oiwobo, S.H., untuk menegaskan trah dan silsilahnya dari Cicit Sultan Ismail semakin berani dan bernyali, Firdaus tetap bersikeras mengaku cicit dari La Kako atau Sultan Ismail yang berkuasa di Wawo Maria hingga menimbulkan tanda tanya semua orang mengapa baru sekarang hal itu terungkap.
Dalam sepekan ini pria yang mengaku dari Wawo Maria dan Sumi Sape yang kini besar dan menetap di Jakarta tersebut kembali menyerang berbagai pihak dengan narasi dan argumentasi yang dimilikinya bahkan tidak tanggung tanggung menyiarkan secara langsung ketegasan sikapnya yang tetap mengakui dirinya dan keluarga di Maria dan Sumi merupakan Cicit dari Sultan Ismail atau yang akrab disapa Abu Kako.
Pemerintah Kabupaten Bima idealnya sudah saatnya meng intro persoalan kultural ini melalui OPD termasuk stakeholder, ada baiknya menjembatani polemik panjang yang viral dibangun akhir ini antar kedua cucu dan cicit sultan ini cenderung tak membawa manfaat.
Majelis Adat Syara Dana Mbojo akhirnya menginisiasi mengundang semua pihak Kamis 6 Oktober 2022 di Museum ASI guna duduk bersama membicarakan secara bersama sama terkait hal tersebut,
Baik dari pihak Keluarga Kesultanan Bima maupun dari Keluarga di Wawo Maria hadir dan lengkap guna meluruskan sejarah dan menguatkan kearifan lokal kita.
Turut hadir dalam pertemuan itu Tokoh Masyarakat Wawo H Supratman, H Nurdin, Ketua Jenateke Kesultanan Bima, Kepala Museum ASI Kalende (Samparaja.RED.)
Ketua Majelis Adat Syara Dana Mbojo melalui H Nurdin H Muhammad Saleh selaku Sekertaris sebagaimana yang dikutip dari SKPD youtube Channel mengungkapkan ada baiknya kita kembali menilik dan membuka kembali lembaran kita secara seksama,
“Pertemuan ini diinisiasi untuk meluruskan sejarah Kesultanan Bima yang saat ini viral atas pengakuan Saudara Firdaus Oiwobo sebagai bagian dari Keturunan Kesultanan Bima dan berharap kepadanya dalam memberikan pernyataan di media sosial agar dipastikan lebih dahulu kebenaran data -datanya,” papar H Nurdin H Muhammad Saleh selaku Sekertaris dari Majelis Adat Dana Mbojo.
Hadir pula tokoh adat masyarakat Wawo Maria, Yayasan Kesultanan Bima, dan pengurus Majelis Adat Syara’ Dana Mbojo

Disepakati hasil pertemuan dengan keluarga yang ada di Wawo dengan keluarga Kesultanan Bima adalah menyepakati terkait dengan meluruskan informasi yang beredar ditengah tengah masyarakat dan kami sangat berterimakasih atas kebersamaan dari bapak bapak kita yang ada di Majelis Adat Kesultanan Bima dan Lembaga Adat yang ada di Desa Maria Wawo untuk sama sama kita luruskan informasi yang barangkali kurang pas yang berkembang disaat ini khususnya masalah keturunan silsilah kerajaan Bima Kesultanan Bima maupun yang ada di Desa Maria Kecamatan Wawo.
Terlalu jauh Nurdin menjelaskan secara detil dan gamblang, mantan Kadis Kebudayaan teraebut menguraikan scara runut persoalan yang viral tersebut.
“Kami mengharapkan kepada Bang Firdaus sebelum mengeluarkan pernyataan apalagi secara luas di media sosial agar kiranya kita sama sama belajar dululah tentang sejarah silsilah Kesultanan Bima ini sebelum diedarkan ke khalayak
Tokoh masyarakat Wawo H Supratman mengaku bahwa Sultan Bima yang terakhir adalah H Ferry Zulkarnain dan Muhammad Ferriyandi Putra adalah Jenateke dari Kesultanan Bima dan berpesan kepada Firdaus Oi Wobbo agar bermusyawarah dan bertukar data dan informasi dengan keluarga di Wawo Maria dan Pihak Istana agar mendapatkan keterangan dan data yang valid.
“Untuk diketahui kita ini sangat menyanjung keberadaan Sultan Bima ini dari waktu ke waktu, dari dulu hingga kini dan inshaaAllah sampai masa masa mendatang silakan bang firdaus belajar mendalami secara mendalam menurut metode sejarah baru ada atau bisa menyimpulkan ada atau tidaknya garis nasabnya itu, sebab ini masih terlalu jauh dan rasanya juga seperti apa” urai Mantan Sekwan ini secara gamblang via SKPD Youtube Channel.
“Saya minta keluarga terkait (Keluarga Firdaus.RED) untuk mendalami lagi silsilah keluarga, dan saya intens pula komunikasi dengan pak Hasan selaku Ketua Lembaga Adat di Maria memang diakui Supra ada jejak itu namun dimintanya untuk divalidkan,” tambah Supra
Masih Supra, dirinya harap agar pak hasan dan keluarga besarnya di Wawo dan Maria sudahi lah perdebatan soal itu dan fahami kapasitas masing masing akan sejarah leluhur kita, kita harus bisa memilah dan memilih yang mana sejarah dan yang mana hikayat serta cerita rakyat itu harus bisa dipisahkan jangan dicampur aduk, intinya sesuai metodologinya sejarah” imbuhnya.
“Perlu ada perbaikan, diskusi, lalu ada kesimpulannya dan jangan langsung beredar luas dan kalau terlanjur yach tarik dulu, benahi, betulin” pungkasnya.
Sejumlah pihak termasuk H Supratman AS meminta kepada Ketua Lembaga Adat Wawo Maria Hasan Haji Abubakar, B.A. untuk menarik sejumlah buku yang diteliti olehnya yang menyingkap silsilah Sultan Ismail dengan Maria yang di Wawo yang sudah terlanjur beredar
Hal berdasarkan banyak kejanggalan yang dinilai oleh mereka diantaranya timeline atau durasi waktu hidup dari Sultan Ismail sampai dengan cucunya yang masih hidup saat ini yang bernama Siti Hawa terlalu singkat untuk sebuah Silsilah Keturunan, karena dimana Sultan Ismail itu sendiri lahir pada tahun 1211 Hijriah atau 1795 Masehi dan berbagai kejanggalan kejanggalan lain yang dinilainya tidak berdasarkan data dan fakta yang otentik.
Spontan Firdaus sangat jengkel dengan pernyataan Nurdin Muhammad Saleh maupun Supratman as yang menueutnya syarat dengan muatan dan kepentingan.
Supra adalah pensiunan ASN bersama Nurdin yang sudah barang tentu adalah peliharaan Bupati untuk menguatkan kapasitas kesultanan teraebut,
Menanggapi hal itu, Firdaus langsung bereaksi dengan mengeluarkan somasi kepada H Supratman As yang mewakili tokoh adat masyarakat Wawo namun tidak memihak kepada Wawo dan Maria,
“Haji Supra saya anggap bukan orang Wawo dan mewakili Maria karena saya lihat dalam pertemuan itu dia tidak memihak pada sejarah yang dikemukakan kakek dan nenek saya yakni Ismail dan Maria melainkan berkonspirasi dengan Sultan Bima,” ucap Firdaus.
“Saya Panglima Salatin Ashirof Azzahro bergelar Panglima Salatin Alif Muhammad Syah atau Muhammad Firdaus Oi Wobo, S.H. menegur atau mensomasi saudara Supratman AS ,” tegasnya.
“Saya somasi Haji Supra, jangan ikut campur di urusan keluarga saya, karena ini berurusan dengan nasab dan silsilah saya, anda atau saudara supra bukan orang Wawo Maria apalagi keturunan Sultan Muhammad Ismail,
“Anda jangan ber statement ! Nanti akan mengkaburkan silsilah karena kami sedang memperjuangkan nasab,” pintanya.
“Saudara supra , haji supra saya tidak kenal anda dan siapa anda haji supra saya tidak kenal, anda jangan ber statement mewakili keluarga Maria dan Wawo apalagi nama kami karena keluarga kami tidak perlu statement anda ” ujar Firdaus
Kemarin di SPD Channel, kakek kami dan nenek kami yang berusia 100 lebih sudah berstatement bahwa beliau (nenek) adalah cucu Sultan Muhammad Ismail Syah jangan lagi anda mengaku- ngaku orang Wawo dan atau Maria itu berita bohong semua dan bisa bermasalah serta akan berhadapan secara hukum dengan saya nanti,”
Sekali lagi Haji Supra anda saya somasi jangan statement!! Anda harus meminta maaf satu kali 24 jam kalau nggak maka akan berurusan dengan saya,” tutup pengacara koboy itu.
Dalam siaran langsungnya Firdaus mengaku akan mematahkan datanya Dewi Ratna dengan hanya statement dari neneknya yang telah berusia 135 tahun yang bernama Nene Sei,
Ketegasan meluruskan nasab keturunan teraebut hemat Muhammad Firdaus ada data dan bukunya serta bukan semata rekayasa seperti yang dianggap cucu Sultan Bima,
“Saya punya saksi sejarah yang telah berusia 135 tahun yang menguatkan buku menceritakan hal tersebut,” terangnya

Tokoh Adat Wawo
“Hey, Ratnah bagi kami pengacara pengakuan langsung dari tokoh adat langsung tempat Sultan Muhammad Ismail lahir menjabat dan berkeluarga itu sudah cukup jelas nenek saya telah menjelaskan secara gamblang bahwa nenek sei anaknya some satu satunya yang memiliki kakek Sultan Ismail dan ber nenek kan wa’i se’o nene maria,” ungkapnya.

Panglima Salatin Muhammad Alif Syah yang ditunjuk Majelis Ashirof Azzahro bahkan telah valid sebanyak 500 kk keluarga sultan (foto.pengacarakoboy.jejakntb.com/ist)
“Enggak mungkin nenek yang sudah berusia 135 tahun berkata bohong Ratnah, kamu datang kesana ngomong baik baik sudahi saling serang dan menjelekkan di sosmed baik facebook, youtube maupun lainnya. Tegasnya.
Masih Panglima Salatin julukan bagi Firdaus Oiwobo yang disematkan 500 keluarga raja se nusantara, dirinya bersama keluarga besar Sultan Ismail Maria Wawo tetap teguh pendirian dan tetap istiqomah pada prinsip awal bahwa kami merupakan cucu kandung dari Sultan Ismail Muhammad Syah dari hasil pernikahan pertamanya dengan nenek Maria Wa’i Seo Donggo Na’E yang telah melahirkan Putra Mahkota yang bernama La Kako Muhammad Syah.,” tambah Panglima Salatin penuh semangat.
(TIM)




















