Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI): Medium Komunikasi Menuju Inklusifitas

Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI): Medium Komunikasi Menuju Inklusifitas

-Ariputra-
Mahasiswa Program Studi Pendidikan bahasa Inggris, UNW Mataram, 2024
Tugas Akhir Mata Kuliah Psycholinguistics
Dosen Pengampu Mata Kuliah: M. Rajabul Gufron, S.Pd., M.A.

 

ESSAY, JejakNTB.com | Di antara ratusan bahasa isyarat dunia, Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) berdiri tegak sebagai jembatan komunikasi bagi para tunarungu di Indonesia. Lebih dari sekadar simbol jari dan gerakan tangan, SIBI adalah sistemisasi bahasa yang kompleks, indah, dan dinamis, mampu menerjemahkan kedalaman dan kekayaan bahasa Indonesia ke dalam dunia visual.
Lahir pada tahun 1994 melalui pembakuan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, SIBI tidak muncul begitu saja. Pengembangannya melibatkan studi mendalam terhadap berbagai isyarat yang sudah digunakan oleh komunitas tunarungu di seluruh Indonesia. Kriteria kemudahan, ketepatan makna, keindahan estetika, dan kesesuaian dengan budaya nasional menjadi poros bagi penyaringan dan penyempurnaan ratusan isyarat. Hasilnya, lahirlah sistem yang sistematis, mudah dipelajari, dan mampu memenuhi kebutuhan ekspresi bahasa yang kompleks.
SIBI bukan sekadar tiruan visual kata-kata; ia adalah refleksi struktural bahasa Indonesia. Tata kalimat, imbuhan, dan penekanan intonasi semuanya dituangkan dalam gerakan tangan dan ekspresi wajah. Gerakan tangan memegang peran utama, membentuk konfigurasi yang bervariasi untuk mewakili bunyi vokal dan konsonan. Ekspresi wajah, tarikan alis, dan gerakan kepala pun turut melengkapi makna, menyuntikkan nuansa emosi dan penekanan.
Penggunaan SIBI tidak terbatas pada ranah percakapan sederhana. SIBI mampu mengekspresikan konsep abstrak, humor, bahkan keindahan sastra. Puisi dan lagu diterjemahkan dengan elegan ke dalam tarian tangan, membuka gerbang bagi para tunarungu untuk turut serta menikmati estetika bahasa Indonesia. Namun, perjalanan SIBI masih menyisakan tantangan. Kurangnya kesadaran masyarakat umum terhadap keberadaan dan pentingnya SIBI menjadi penghalang komunikasi. Banyak stigma dan asumsi keliru yang membatasi inklusivitas.
Mengatasi tantangan ini membutuhkan upaya dari berbagai pihak. Sosialisasi SIBI di sekolah-sekolah, instansi pemerintah, dan media massa dapat meningkatkan pemahaman dan penerimaan masyarakat. Pengembangan teknologi seperti kamus elektronik SIBI dan penerjemah isyarat berbasis kecerdasan buatan pun perlu digalakkan.
SIBI lebih dari sekadar bahasa; ia adalah simbol kesetaraan dan inklusivitas. Di tangan anak-anak tunarungu SIBI menjadi senjata untuk meraih pendidikan, di jari para pekerja ia menjadi alat untuk meraih kesuksesan, dan di ruang seni ia bermetamorfosis menjadi pentas ekspresi dan apresiasi estetika.
Dengan terus mendukung dan mengembangkan SIBI, kita tidak hanya menjembatani komunikasi dan menghancurkan stigma, tapi juga membangun masyarakat yang lebih inklusif, di mana setiap individu, terlepas dari keterbatasannya, dapat berkarya, berpartisipasi, dan menikmati keindahan bahasa dan budaya Indonesia.

 

* Penulis adalah

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print
Scroll to Top
Scroll to Top