Setelah Sahroni, Eko Patrio, Uya Kuya hingga Sri Mulyani: Rumah Siapa Lagi yang Akan Jadi Korban Amuk Massa?
Oleh: Coach Kaffa
OPINI, JEJAKNTB.COM||Media sosial kini lebih riuh daripada jalanan. Bukan lagi kabar demo di depan gedung DPR atau kantor polisi, melainkan potongan-potongan video viral yang memperlihatkan rumah para pejabat publik digeruduk massa.
Fenomena ini—apa pun bentuk detailnya—telah melahirkan pesan yang jauh lebih besar dari sekadar peristiwa. Ia adalah simbol tentang batas kesabaran rakyat.
Simbol Batas Sabar Rakyat
Rakyat bisa bersabar, bahkan sangat sabar. Tetapi sejarah bangsa ini berulang kali membuktikan: kesabaran ada batasnya. Ketika jurang antara rakyat dan penguasa makin lebar, ketika gaya hidup pejabat lebih sering dipertontonkan daripada tanggung jawabnya, maka rumah mewah, mobil berkilau, dan benda-benda mahal itu hanya menjadi bensin yang menyulut api amarah.
Peristiwa-peristiwa penyerbuan itu bukan lagi soal barang dirampas atau pagar rumah yang roboh, melainkan simbol runtuhnya kepercayaan rakyat terhadap legitimasi moral para pejabat.
Kesombongan Selalu Ada Ujungnya
Kekuasaan sering kali membuat orang lupa bahwa martabat pejabat bukan diukur dari seberapa tebal dompetnya, melainkan dari seberapa tipis jaraknya dengan rakyatnya.
Permintaan maaf publik, konferensi pers, atau unggahan di media sosial tak lagi cukup meredam bara. Karena bagi rakyat, itu hanya kosmetika yang datang terlambat. Kesombongan selalu ada ujungnya, dan ujungnya sering kali pahit.
Pelajaran untuk Para Penguasa
Apa pelajaran yang harus diambil dari rangkaian amuk massa ini?
Pertama, bahwa rakyat tidak lagi bisa diperlakukan sebagai objek yang hanya diminta bersabar. Ketika haknya diabaikan, suara kritisnya ditekan, dan penderitaannya tidak dipedulikan, rakyat akan mencari jalan ekspresi yang lain—bahkan di luar kanal formal.
Kedua, dalam setiap gejolak sosial, rakyat justru sering lebih “adil” daripada penguasa. Mereka bisa marah, tapi tetap tahu batas. Mereka bisa mengamuk, tapi sering kali menahan diri agar tidak menimbulkan kerugian yang lebih luas. Di sinilah justru tampak paradoks: rakyat lebih dewasa daripada elit yang semestinya menjadi teladan.
Ketiga, ini adalah peringatan keras. Jangan sampai negara salah membaca situasi. Jangan sampai penguasa tergoda menabuh genderang perang terhadap rakyatnya sendiri. Itu sama saja dengan menyalakan api di ladang kering.
Semua Menuai Kelakuannya
Pepatah Jawa mengingatkan: “Becik ketitik, olo ketoro. Kabeh ngunduh wohing pakarti.” Yang baik akan tampak, yang buruk pun nyata, semua akan menuai buah dari kelakuannya.
Hari ini, pejabat publik menuai apa yang mereka tanam selama bertahun-tahun: kesenjangan, arogansi, pamer kekuasaan, dan abai terhadap penderitaan rakyat.
Pertanyaan terbesar kini adalah: rumah siapa lagi yang akan menjadi korban?
Sebenarnya jawabannya sederhana. Jika para pemimpin bangsa segera kembali rendah hati, kembali mendekat kepada rakyat, dan kembali menegakkan keadilan—maka tak ada rumah yang perlu jadi korban. Tetapi jika tidak, sejarah akan menulis bab baru dari amuk rakyat yang tak bisa lagi ditahan.
#CoachKaffa




















