Sejumlah Proyek DAK 2021 tidak diserahterimakan, Diduga Kabid Dikdas Dikbudpora Main Mata

Gambar sebuah ilustrasi diambil dari Google untuk menarasikan praktik mafia proyek DAK di Bima.

 

Kabupaten Bima, JejakNTB.com|Kegiatan DAK Fisik Tahun Anggaran 2021 di Kabupaten Bima dibawah Dikdas Dikbudpora diduga tidak diserahterimakan aktifitasnya, hal ini diketahui dari beberapa pengakuan Kepala Sekolah yang sekolahnya dikerjakan oleh pihak ketiga pemilik CV masing masing yang dipercayakan oleh pemerintah Kabupaten Bima.

Berdasarkan informasi yang dihimpun media salah satu Kecamatan dari wilayah Kabupaten Bima yakni Madapangga menjadi testimoni bobroknya kegiatan fisik yang bersumber dari DAK tahun anggaran 2021 tepatnya di SMP Negeri 4 Madapangga Desa Ndano yang melaksanakan rehab sarana perpustakaan dan rumah penjaga.

Hal ini dikuatkan pula oleh pengakuan salah seorang pimpinan sekolah, Kepala SMPN 4 Madapangga Damsus MS SPd beberapa hari yang lalu 13 April 2022 di ruang kerjanya pada Media Online Regional JejakNTB.com,

“Kami bukannya mau meminta jatah hanya karena lokasi kami mendapat kegiatan ini, namun sejatinya ada saling menghargai antara tamu dengan tuan rumah atau antara pihak pertama dan kedua, masah kegiatan resmi tidak ada serah terimanya, ucapnya

Damsus mengungkapkan dirinya sangat terenyuh dan tersayat hatinya melihat ulah oknum kontraktor dari salah satu CV yang ditunjuk pihak Dikdas Dikbudpora Kabupaten Bima yang hasil kerja kegiatannya sangat jauh dari standar kegiatan sebuah proyek DAK.

” Saya jujur telah berpengalaman mengerjakan proyek yang dulu dengan sistem swakelola dengan menggunakan dana DAK sudah berkali kali, jika dibandingkan dengan pekerjaan swakelola yang saya lakukan jauh lebih baik ketimbang ini, katanya pada Media.

Damsus mencontohkan seperti kegiatan rumah penjaga yang diperkirakan menelan anggaran lumayan untuk merehab satu ruangan sangat tidak layak pakai ,

Selain ruang penjaga, begitupula dengan perpustakaan sekolah yang direhab dimana cetnya sudah terkelupas disana sini padahal belum diserahterimakan ditambah dengan pengembangan berupa satu unit toilet yang dibangun bagaikan kolam cebong pembuangannya dan tidak bisa dimanfaatkan secara baik oleh anak anak karena pembuatannya tidak memenuhi standar.

 

” Perpustakaan yang direhab oleh keluarga dekatnya Kadis ini menggunakan CV dari luar dan sempat ditegur pengawas namun oleh pelaksana yang akrab disapa Dae Jii malah dilayani dengan cara kasar dan mempelototi yang bersangkutan saat itu, besar kemungkinan kegiatan DAK ini sebagai testimoni dan sampel bahwa ketidakbecusan pekerjaannya memang benar benar terjadi adanya,

Pantauan sementara kami ruang perpustakaan tidak dilengkapi Meja Petugas sebagaimana layaknya sebuah ruang perpust ditambah dengan tidak adanya bangku khusus buat para pengungjungnya, artinya pelaksana hanya mengganti atap dengan seng metal lalu kayu kayu kusen dengan rangka baja ringan super murah ditambah pengecetan sementara daya dukung seperti lemari perpust bangku meja dan sarana pendukung meubeleir lainnya tidak dibuatkan oleh oknum kontraktor tersebut,

Yang sangat miris adalah penjaga sekolah hingga kini terlantar dan terpaksa tidur ditengah kegelapan,

” Penjaga saya atas nama pak Hasan alias Amaq Heso usianya lebih 60 tahun dan masih tidur di sembarang tempat mengingat ruang penjaga yang di rehab CV Sang Bima masih gelap gulita dan tidak dipasangkan lampu penerang oleh oknum kontraktor nakal di Madapangga, sudah kami hubungi pihak pekerjanya guna selesaikan tanggungjawab namun hanya di iya iyakan saja dan tidak diselesaikan item pemasangan instalatir tersebut, ungkap Damsus yang sebentar lagi pensiun.

Pantauan media, hingga hari ini rumah penjaga sangat gelap di perumahan SMPN 4 Madapangga dan Amaq Heso tidak berani tidur karena ketiadaan instalatir penunjang sehingga dirinya menumpang tidur di ruangan sekitar sekolah yang ada instalasi lampu guna melancarkan aktifitasnya sebagai penjaga seperti memantau aktifitas gangguan dalam internal sekolah, memasak dll membutuhkan listrik yang baik.

Masih Damsus, dirinya mengaku sudah menghubungi Pengawas Proyek Rumah Penjaga atau Fasilitatornya bahkan Kabid Dikdas Khusnul Khatimah dan melaporkan kaitan dengan aktifitas CV Sang Bima maupun CV rekanan yang mengerjakan perpustakaan sekolah.

” Hanya merespons melalui sms saja mas, tanpa ada turun lokasi mengecek kembali sejauhmana kebenaran imformasi dan data yang saya sampaikan, intinya amaq heso seorang penjaga saya tidak bisa memanfaatkan status rumah penjaga yang baru direhab dengan cara ecek ecek itu dan beliau masih terlantar tempat tidurnya bahkan tidur diruangan saya sesekalinya, pungkasnya.

Analist Kebijakan Publik Elshabier Alghura,SH menduga aktifitas DAK tahun anggaran 2021 diduga bermasalah dan ada konspirasi jahat antara Oknum di Dikdas bersama pelaksana maupun fasilitator dan pengawas,

” Jika jawaban Kabid selaku PPK seperti itu maka bisa saya simpulkan semua rehab fisik di wilayah Madapangga tidak diserahterimakan antara pelaksana dan penerima manfaat melainkan secara kedalam ” nuntu narira mpida” antara Ibu Khusnul dengan pelaksana kegiatan maupun sejumlah sarjana tekhnik sipil yang dipercaya menjadi fasilitator kegiatannya selesai sehingga bisa jadi seperti itu, beber alumni sekaligus pakar pidana ini dihadapan media.

Perlu diketahui juga bahwa pada tahun anggaran 2021 sejumlah sekolah di wilayah Madapangga mendapatkan jatah rehab yang pengerjaannya dilaksanakan pihak ketiga seperti SMPN 2 Madapangga, SMPN 3 Madapangga, SMPN 4 Madapangga, SDN Inpres Ndano, SDN Tonda, SDN Bolo 1 dan 2 , SDN Inpres Dena serta banyak lagi lainnya semuanya diduga tidak diserahterimakan sebagaimana SOP yang seharusnya.

Hingga berita ini dirilis belum ada yang bisa menjelaskan secara detail terkait pelaksanaan kegiatan DAK 2021 namun media tetap terbuka menunggu itikad baiknya untuk keberimbangan berita(TIm)

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print
Scroll to Top