Gambar merupakan ilustrasi
JEJAKNTB.COM||Sebanyak 494 santri – santriwati di Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, diduga keracunan makanan bergizi gratis (MBG) dan segera dilarikan ke Rumah Sakit Asy-Syifa Taliwang. Insiden ini terjadi pada kamis 30 Oktober 2025, setelah para siswa mengonsumsi menu MBG berupa nasi dan lauk pauk sesuai porsinya.
Kronologis kejadian diduga jatah tersebut bukan jatahnya pondok namun terpaksa dipasok ke sebuah pondok padahal sejatinya menu itu untuk SMAN 1 Brang Rea.
Kepala SMAN 1 Brang Rea yang dikonfirmasi wartawan membenarkan, ” Kami tidak tahu setelah penolakan itu dibawa kemana yang jelas dalam satu mobil box yang biasa antar itu jumlahnya sekitar 494 porsi,” beberapa Kasek SMAN 1 Brang Rea via telepon.
Informasi yang diendus JejakNtb, Idealnya jatah tersebut bukan untuk santri santriwati pondok pesantren tersebut melainkan jatah SMAN 1 Brang Rea namun karena saat itu ditolak guru dan kepala sekolah dengan alasan sudah waktunya pulang, maka dialihkan lah ke santriwati pondok pesantren yang dimaksud.
” Kami menolak karena siswa mau pulang, pertimbangan kami sederhana saja kami tidak mau repot dengan omprengan yang dikembalikan sementara siswa dan guru pada pulang” katanya.
Saat itu, SPPG mengantarkan makanan sudah dalam posisi jam pulang peserta didik.
Gejala yang dikeluhkan para siswa meliputi mual, pusing, lemas, sakit perut, hingga muntah. Sebanyak 37 dari 494 siswa harus menjalani perawatan inap di rumah sakit karena gejala yang lebih parah, namun per tanggal 1 November, dikabarkan sejumlah siswa masih dirawat.
Pihak berwenang, termasuk Polres Sumbawa Barat dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat, sedang melakukan investigasi terkait kejadian ini.
Penyebab dugaan keracunan masih dalam penyelidikan, namun fokus pemeriksaan awal mengarah pada sanitasi dapur penyedia makanan.
” Kami telah mengambil sampel makanan untuk diteliti sehingga dapat mengetahui pemicu peristiwa ini. Sampel di kirim ke Laboratorium untuk diuji,” ungkap AKBP. Zulkarnain, S.IK., Kapolres Sumbawa Barat kepada JejakNtb, Sabtu, (1/11).
Saat peristiwa keracunan tersebut, ucap Kapolres , langsung memerintahkan Kasatreskrim untuk gercep mengambil sampel makanan.
” Saat ini tim kami tengah bekerja juga melakukan penyelidikan sebab musabab biang keracunan tersebut,” tambah Kapolres Sumbawa Barat.
Dinas Kesehatan juga merekomendasikan perbaikan sanitasi dan sirkulasi udara di dapur untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
Kasus ini menambah daftar panjang keracunan terkait program MBG di Indonesia, yang sebelumnya juga dilaporkan di beberapa daerah lain.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat melalui Sekertaris Daerah menegaskan bahwa tim assessment telah diturunkan ke PKM Brang Rea dan Pondok Pesantren Himmatul Ummah guna mengusir dan menuntaskan kasus tersebut.
” BGN pusat sudah mengeluarkan surat pemberhentian operasional SPPG Sumbawa Barat Brang Rea Tepas Yayasan Samawi Cahaya Ummat hingga batas waktu yang tidak ditentukan,” pungkas Sekda Sumbawa Barat.
Untuk diketahui Berdasarkan data sementara yang dihimpun redaksi dari dari berbagai sumber terpercaya ada 37 santri dan santriwati termasuk tukang yang bekerja di pondok pesantren tersebut mengalami keracunan usai santap MBG.

Foto, Salah satu petugas jaga yang ikut keracunan
“Usai santap MBG , para korban mengalami gejala keracunan mual, pusing, hingga muntah,” ujar salah satu petugas kesehatan
Para santri dan santriwati sebelumnya mengonsumsi menu MBG pada kamis [30/10], usai menyantap MBG tersebut selang beberapa jam kemudian mereka mengalami gejala keracunan. Sumber keracunan diduga masih dalam penelitian tim medis dan tim sedang bekerja untuk menyimpulkan.(Nkm)




















