JEJAKNTB.COM||Keluarga korban Almarhum Brigadir Esco Faska Rely yang datang dari Lombok Tengah merasa kecewa rekonstruksi di TKP penemuan mayat dilakukan pemeran pengganti. Salah satunya bernama Zainab, ia menuturkan kekecewaan yang sangat mendalam.”Seharusnya dia yang memeragakan pembunuhan itu kenapa pakai pemeran pengganti atau orang lain, percuma dong kita datang jauh-jauh dari Desa Bon Jeruk neh, kesini, hanya untuk menyaksikan yang tidak asli” sesalnya dihadapan sejumlah media saat reka adegan, Senin (29/9) di TKP Nyiur Lembang.
Ketika ditanya salah satu awak media, langsung Zainab merespon,” Saya dari Bon Jeruk keluarganya almarhum Brigadir Esco, seharusnya dia (pihak kepolisian.red.) bawa tersangka Bripka Riska Sintiani kesini bukan orang lain yang memperagakan biar kita tahu bagaimana caranya pelaku membawa mayat almarhum ke tempat kejadian perkara, kita penasaran bahkan motifnya pun apa” tandasnya.
Keluarga yang datang melihat rekonstruksi sejak pagi pukul 09.00 Wita tak kuasa menahan kekecewaan lantaran rekonstruksi di TKP penemuan mayat di dekat bukit belakang rumah almarhum Brigadir Esco telah dilakukan pemeran pengganti. Tersangka Brigadir Rizka Sintiyani kembali ke rumah tahanan Polda NTB setelah olah TKP di rumahnya. Dia menolak olah TKP di lokasi penemuan mayat karena merasa tidak pernah ke lokasi tersebut. Sehingga olah TKP terpaksa dilakukan pemeran pengganti.
” Kami keluarga almarhum sangat kecewa, ini menyangkut nyawa manusia bukan nyawa binatang , enggak boleh begitu caranya polisi,” tegasnya.
Sementara Pihak kepolisian yang diwakili Kompol Catur Erwin mengatakan bahwa tersangka Bripka Riska Sintiani masih kooperatif. ” Tersangkanya masih kooperatif kok,” ucapnya dihadapan sejumlah media di sela sela kesibukannya. Ketika ditanya apakah benar reka adegan atau rekonstruksi menggunakan peran pengganti Catur Erwin tak membantahnya.
“Iya benar, ada pemeran pengganti,” katanya.
Ketika dikejar media dengan pertanyaan Benarkah pelaku tidak mau ke TKP ? Catur Erwin enggan menanggapi sembari tersenyum,”Soal itu nanti mas ya hehehehe,” ujar catur Erwin .
Tersangka Bripka Riska Sintiani pun masih keukeuh dan tidak mau mengakui perbuatannya. Erwin mengatakan pula bahwa haknya tersangka jika masih membantahnya sebagai pelaku,”Itu haknya dia gitu mas ya, kami tidak bisa mengintervensi atau memaksanya” tambahnya.
Dari proses rekonstruksi Senin (29/9), Dr.Lalu Anton Hariawan, SH., MH selaku kuasa hukum keluarga korban almarhum Brigadir Esco yakin akan ada tersangka lain. Jumlahnya lebih dari satu.
” Saya yakini tadi, hasil diskusi kita sama teman – teman di dalam dalam waktu dekat inshaallah kemungkinan ada tersangka lainnya, nanti penyidik yang punya kewenangan untuk menyampaikan
Dr. Lalu Anton Heriawan sangat meyakini hal tersebut,” Intinya dan pada prinsipnya akan ada tersangka lainnya, sabar ajaa,”
Terkait peran dari Bripka Riska Sintiani, menurut Anton nanti akan disampaikan penyidik yang menangani,” Nanti akan ada rekonstruksi secara tertutup di polres lobar, silakan teman teman mengkonfirmasi,” pungkasnya.
Sementara Samsul Herawadi, ayah Brigadir Esco menyayangkan rekonstruksi dengan tersangka Brigadir Rizka hanya dilakukan di rumah korban. Sedangkan rekonstruksi di lokasi penemuan mayat atau TKP 1 tidak dilakukan dengan tersangka. Sehingga ini membuat pihak keluarga bertanya-tanya dan merasa kecewa.
” Tim media bisalah mempertanyakan itu ke pihak kepolisian terutama Kapolres Lombok Barat ada apa? Agar ini terang benderang . Katanya terbuka kenapa ditutup -tutupi begini, ini kita , enggak paham jadinya,” tutup Ayah almarhum Brigadir Anumerta Esco Fasca Rely.
Senada dengan Herawadi, Mas Gun keluarga almarhum Brigadir Anumerta Esco merasa tidak yakin pembunuhan sadis dan keji itu dilakukan sendiri oleh Bripka Riska Sintiani.”Seorang suami yang tinggi besar gitu terus kemudian dibawa ke sini (TKP) belakang rumah tanpa jejak dan bekas hal yang tidak mungkin, saya yakin polisi punya rahasia besar. Polisi saya yakin akan mengeluarkan itu pada saat yang tepat.Dan polisi tidak gegabah dalam memutuskannya,” urai Mas Gun.
Ia menambahkan, dengan kejadian ini menurutnya polisi sedang diuji sejauhmana teruji integritasnya dalam menjalankan tugasnya.”Ini adalah ujian yang paling besar bagi kepolisian dalam rentang yang sama ada dua kejadian yakni kasus almarhum Brigadir Anumerta Nurhadi dan Brigadir Anumerta Esco Fasca Rely,” bebernya.
Sebuah akun bernama Ebot Asbun dalam mengomentari reka adegan ulang Pembunuhan dalam komenannya menyampaikan,
“Saat kasus ini menjadi perhatian publik dan menanti terang benderangnya terkait motif dan siapa saja pelaku selain R yang sudah dijadikan tersangka. Kesannya ditutup-tutupi dan manipulatif.
“Kami menghargai dan apresiasi kepolisian yang sudah bekerja sejauh ini, tapi harapan kami tolong lebih transparan lagi karena jika seperti ini kami masyarakat bukan hanya menganggap Almarhum Brigadir Anumerta Esco yang meninggal tetapi keadilan juga Seperti mencoba untuk dibunuh,” pungkas Ebot Masnun
(Red/Syl)




















