Puasa dan Dimensi etiknya dalam Politik Negara. Hindari Euforia dan kenali Tingkatan Puasa Ala Imam Al_Ghazali

Oleh. Alfisahrin*

 

JejakNTB.com | Bulan puasa telah tiba semaraknya terasa menggema di seantero negeri. Suka cita menyambut bulan suci mengalihkan(distracting) riuh rendah hiruk pikuk wacana penundaan pemilu dan isu perpanjangan masa jabatan Mr. Presiden tiga periode.

Kegembiraan tampak membuncah di hati dan perasaan kaum muslimin merayakan datangnya bulan suci ramadhan. Meskipun di tengah situasi darurat minyak goreng, darurat kenaikan BBM dan gas elpiji tetapi ramadhan mampu menjadi “oase” bagi kaum muslimin yang gerah karena diskriminasi rezim, murka karena ramainya para buzzer Rp penghina Islam dan kuatir karena prestasi utang negara dibawah presiden Jokowi tembus 7000 triliunan. Maaf karena saya singgung soal politik diantara tema dan wacana puasa.

Saya mengambil jurusan antropologi politik jadi politik akan selalu menjadi passion dalam isu_isu penting yang saya tulis. Momentum bulan puasa atau “as Shaum atau Shiyam” dalam bahasa Arab artinya menahan diri dari godaan. Harusnya menginspirasi pemerintah agar tidak tergoda untuk menambah hutang lagi, menambah periode kepemimpinan lagi, menambah beban hidup rakyat lagi dengan menaikan harga BBM, listrik, dan kebutuhan pokok. Bulan Ramadhan harus mendidik kekuasaan politik kita terutama pejabat negara secara profetik meminjam istilah Kuntowijo agar menahan diri untuk tidak import daging sapi, beras, jagung, kedelai, garam dan gula karena petani lokal sedang siap_siap panen.

Bulan suci Ramadhan harusnya pemerintah memberikan insentif politik yang baik dengan membuat kebijakan politik yang populis untuk 275 juta kaum muslimin. Misalnya memastikan harga-harga sembako murah tidak melonjak mahal, menyediakan stok logistik kebutuhan kaum muslimin yang berpuasa selama sebulan dengan ketersediaan daging, sayur, beras, minyak goreng, telur, terigu dan buah-buahan yang memadai. Oleh karena itu, lakukan operasi pasar, sediakan sembako murah dan antisipasi terjadinya penimbunan bahan pokok.

Ketika pemerintah dalam konteks bulan suci Ramadhan mampu mengendalikan diri tidak mengambil langkah politik dan ekonomi yang ceroboh sehingga dapat mengurangi legitimasi publik. Esensinya kekuasaan negara sedang sukses memetik hikmah kearifan puasa yakni menahan diri, menjaga kesabaran, kepercayaan, dan budaya politik profetik yang diteladankan Rasullullah.

Bulan suci ramadhan harus menjadi titik balik kebangkitan peradaban bangsa. Puasa yang mengajarkan tentang kesabaran menahan lapar, haus dan dahaga harus mendidik pejabat publik agar tidak buru_buru menciptakan streotipe teroris kepada muslim di bulan puasa yang kebetulan berjenggot, gamisan, apalagi berwajah kearab_araban.

Bulan suci ramadhan harus menumbuhkan sikap inklusif, empati dan simpati pemerintah kepada semua pemeluk agama. Secara khusus agama Islam terutama yang dianggap kritis dan radikal atau dalam istilah Allport religiusitas intrinsik yakni orang/individu yang memahami dan menjalankan agamanya secara utuh/ komprehensif/Kaffah dalam terminologi populer Islam. Kekuasaan politik tidak boleh lagi sewenang_wenang tunduk semata kepada perang kontra terorisme global asal taat beragama dicurigai, diawasi, diinterogasi, ditangkap dan ditembak tanpa cukup bukti. Menteri agama punya tugas penting menjaga harmoni relasi negara dan umat Islam bukan malah bikin ragam kontroversi atur toa masjid yang membuat umat islam resisten.

Oleh karena itu, sebagai negara mayoritas muslim bulan puasa harus menaikan level dan tangga spiritualitas presiden, menteri, gubernur, walikota dan para bupati sebagai pengelola negara agar amanah dan serius mengurus kepentingan masyarakat luas. Supaya hikmah, keutamaan, keberkahan dan kemuliaan bulan suci Ramadhan yang dilaksanakan setiap tahun tidak sekedar menjadi Ritus simbolis yang berisi parade konsumtif dan Hura Hura. Lebih dari itu, bulan puasa harus menjadi inspirasi yang mendidik kekuasaan politik agar konsisten menegakan aturan konstitusi dengan memihak rakyat kecil, membela kaum lemah, melindungi pemeluk agama, dan tentu saja membela Islam. Di bulan suci ramadhan para penjabat negara harus menunda keinginan korupsi, nepotisme, gratifikasi dan pemujaan terhadap berhala-berhala psikologis meminjam istilah Ali Syari’ati yakni segala apapun hal material yang menghalangi kita untuk untuk tunduk dan patuh pada aturan Allah.

Sebagai seorang muslim kita dituntut untuk menjalani ibadah puasa ini tidak semata untuk memenuhi kewajiban spritualitas agama. Menahan lapar, haus, dan dahaga. Itu puasa biasa yang umum tetapi ada pesan puasa yang lebih mendasar yakni meningkatkan kapasitas puasa dengan menghubungkannya dengan aktivitas sosial, politik dan ekonomi. Kalau kita punya otoritas kekuasaan politik gunakan itu sebagai priviledge untuk memakmurkan masyarakat, menghidupkan syi’ar Islam dan mengadopsi etika dan budaya politik yang dicontohkan Rasulullah yakni menjunjung tinggi agama, kesetaraan, keadilan, taat pada hukum-hukum agama agar tidak dholim, diskriminasi dan pragmatis supaya Tuhan ridho kepada cara_cara penguasa berkuasa pada negara.

Bulan puasa menjadi entri point bahwa dimensi puasa dalam konteks negara sangat luas. Harusnya dengan otoritas politik yang besar jumlah fakir miskin dan kaum terpinggirkan tidak makin banyak jumlahnya. Berarti ada kebijakan ekonomi yang salah. Bulan puasa kini, harus ditafsirkan lebih luas sebagai fasilitas etik yang menghasilkan suatu spirit atau ethos keagamaan meminjam istilah Max Weber dalam protestan ethic and spirit of capitalism yakni munculnya pemimpin yang amanah, hakim yang adil, DPR yang jujur, guru dan dosen yang alim, pemilu yang transparan, hukum yang tegas dan kepala-kepala desa dan semua kepala_kepala lainnya seperti kepala dinas, badan dan sekolah yang dipilih tanpa dibayar. Semua ini harus menjadi esensi dan tujuan akhir dari bulan ramadhan yang kita rayakan. Dengan menautkan pesan moral dan etik spiritual bulan suci ramadhan dengan persoalan persoalan kontemporer dalam negara kita akan bisa berpindah level puasa kita dari tahun Ke tahun. Pilihan dan cara kita berpuasa menentukan kualitas puasa yang kita lakukan.

Mengutip pesan Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menerangkan tingkatan dalam berpuasa. Shaumul umum, shaumul ‎khusus, dan shaumul khususil khusus. Ketiganya bagaikan tingkatan tangga yang manarik orang berpuasa agar bisa mencapai tingkatan yang khususil khusus.

Pertama, puasa orang awam

Puasa level pertama disebut sebagai shaumul umum atau puasanya orang awam. Level puasa ini adalah yang biasa dilakukan oleh kebanyakan orang atau sudah menjadi kebiasaan umum. Biasa-biasa saja, atau mungkin kalau di-scoring nilanya baru good, belum very good apalagi exellent.

Praktik puasa yang dilakukan di level ini sebatas menahan haus dan lapar serta hal-hal lain yang membatalkan puasa secara syariat.

Kedua, puasanya orang khusus

Kedua disebut sebagai shaumul khushus atau puasanya orang-orang spesial. Level nilainya very good. Mereka berpuasa lebih dari sekadar untuk menahan haus, lapar dan hal-hal yang membatalkan.

Tapi mereka juga berpuasa untuk menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki dan segala anggota badannya dari perbuatan dosa dan maksiat. Mulutnya bukan saja menahan diri dari mengunyah, tapi juga menahan diri dari menggunjing, bergosip, apalagi memfitnah.

Kalau zaman sekarang, mungkin termasuk juga menahan jari-jarinya agar tidak menyebarkan berita-berita bohong atau hoax.

Ketiga, Puasa Orang Super-Khusus

Ini level yang paling tinggi menurut klasifikasi Imam Al-Ghazali, disebut shaumul khushusil khushus. Inilah praktik puasanya orang-orang istimewa, exellent.

Mereka tidak saja menahan diri dari maksiat, tapi juga menahan hatinya dari keraguan akan hal-hal keakhiratan. Menahan pikirannya dari masalah duniawiyah, serta menjaga diri dari berpikir kepada selain Allah.

Standar batalnya puasa bagi mereka sangat tinggi, yaitu apabila terbersit di dalam hati dan pikirannya tentang selain Allah, seperti cenderung memikirkan harta dan kekayaan dunia.

Bahkan, menurut kelompok ketiga ini puasa dapat terkurangi nilainya dan bahkan dianggap batal apabila di dalam hati tersirat keraguan, meski sedikit saja, atas kekuasaan Allah.

Puasa kategori level ketiga ini adalah puasanya para nabi, shiddiqin dan muqarrabin, sementara di level kedua adalah puasanya orang-orang shalih.

Lantas, sudah berada dimana tingkatan puasa kita selama ini ?

Upaya Imam Al-Ghazali mengklasifikasi orang berpuasa ke dalam tiga level tersebut, tak lain tujuannya adalah agar kita yang setiap tahun berpuasa Ramadhan bisa menapaki tangga yang lebih tinggi dalam kualitas ibadah puasanya.

* Selamat sahur untuk semua keluarga, teman dan sahabat_sahabatku*
*

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print
Scroll to Top
Scroll to Top