Pendidikan yang Membebaskan
Oleh.
Steven
Dosen Universitas Pelita Harapan
Peserta didik masa kini dibombardir dengan krisis. Disatu pihak, insting pembelajar mendorong mereka untuk mengejar pengetahuan. Di pihak lain, mereka merasa bersalah karena tenggelam dalam ‘fase persiapan’ yang tidak terhubung dengan dunia kerja.
Di luar sana, sudah menunggu orang-orang yang berharap agar lulusan perguruan tinggi siap untuk terjun di lapangan pekerjaan. Masalahnya, pendidikan kerap dianggap tidak mengajarkan keahlian -keahlian yang dibutuhkan dalam dunia kerja. Para “pemakai” lulusan perguruan tinggi tampak tidak puas dengan hasilnya.
Tampaknya, ada jurang yang memisahkan dunia pendidikan dari dunia pekerjaan. Lantas, apakah Sekolah Kejuruan adalah solusinya? Atau, berfokus hanya pada mata kuliah yang berhubungan dengan jurusan untuk mempersiapkan para peserta didik dalam menghadapi tantangan pekerjaan mereka di masa mendatang?
Atau dengan memperbanyak praktik lapangan ketimbang teori? Apa persoalannya? Apa jalan keluarnya?
Ajang Memenuhi Persyaratan
Albert Einstein pernah berkata bahwa manusia sedang hidup di masa yang dilengkapi dengan berbagai teknologi yang sempurna, tetapi kebingungan dengan apa tujuannya. Senada dengan itu jika kita tidak tahu apa tujuan dari pendidikan, seberapa canggihnya pun teknologi pendidikan yang kita miliki, maka itu tidak akan ada gunanya.
Tidak mengherankan jika peserta didik akhirnya terfokus hanya untuk mendapat nilai yang baik atau gelar akademis guna memenuhi persyaratan kelulusan.
Tanpa tujuan yang tepat, hal lainnya pun mengikuti. Kenyataannya dunia telah mengkondisikan kita untuk menilai pendidikan dengan cara – cara yang dapat diukur dengan angka.
Apakah itu dengan penilaian mata kuliah, atau dengan seberapa banyak jumlah lulusan yang berhasil mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan jurusannya, semuanya itu bersifat kuantitatif murni. Seolah pendidikan yang berkualitas dan berhasil itu hanya diukur dengan perhitungan matematis.
Pertanyaan mengenai ” menjadi manusia seperti apakah Anda” telah dikaburkan oleh seberapa banyak persyaratan -persyaratan yang sudah dipenuhi atau seberapa banyak pengetahuan dan keahlian yang telah anda miliki.
Tidakkah proses perkembangan untuk pendewasaan jauh lebih penting dari sekedar “Nilai Jual” lulusan perguruan tinggi di dunia kerja? Apakah kemanusiaan boleh direduksi menjadi barang jualan?
Manusia seutuhnya yang bebas
Tidak bisa tidak, dibutuhkan sebuah sistem pendidikan yang menyeluruh untuk mempersiapkan seseorang agar ia menjadi manusia seutuhnya.
Keutuhan hidup manusia tidak dapat direduksi. Karena itu sebuah pendidikan Liberal Arts di kembangkan di masa lampau dan masih berkembang di negara negara tertentu.
Pendeknya, liberal Arts merupakan sebuah pendidikan yang Membebaskan. Liberal Arts mempelajari tata bahasa, logika, retorika, geometri, aritmetika, astronomi dan musik.
Sekarang, pertanyaannya bukanlah pendidikan Liberal Arts membebaskan dari apa, tetapi menuju ke mana.
Sistem pendidikan yang dijelaskan oleh Plato itu bertujuan untuk membawa orang menuju pada satu tujuan , yakni supaya menjadi manusia yang dapat ” fit for everything”
Itu adalah ciri khas liberal Arts yang membedakannya dari pelatihan vokasi dari sebuah bidang yang spesifik. Pendidikan Liberal Arts dapat disebut sebagai sebuah pendidikan yang membentuk seseorang dan membebaskannya untuk dapat mengerjakan segala sesuatu dalam seluruh area hidupnya , baik itu di kantor, dalam ruang publik atau pribadi, pada masa damai atau perang.
Itulah sebabnya, pendidikanliberal arts berdiri di atas sebuah prinsip utama. Prinsipyang mendasari pendidikan liberal arts adalah bahwa pendidikan merupakan perwujudan dari pembelajaran pribadi,self-education.Artinya, sistem pendidikanterbaik mana pun bukanlahyang membuat seseorang men-jadi “terdidik”.
Di samping itu, pendidikantidak pernah berhenti seusaikita lulus dari perguruan tinggi.Liberal arts mengajarkan bah-wa pendidikan adalah sebuahpembelajaran seumur hidupyang self-education.Alih-alih terobsesi hanya dengan satu peran dalam sebuah pekerjaan tertentu, semangat liberal arts mencakup semua peran yang seseorang akan la-kukan dalam hidupnya.
Sebab, hidup manusia bukanhanya berbicara tentang men-dapatkan pekerjaan atau uangsaja. Bagaimana dengan peranuntuk menjadi seorang ayah,ibu, pasangan, atau menjadi ne-garawan yang baik?Bagaimana dengan peran un-tuk memegang sebuah jabatanpublik tertentu dengan ber-tanggung jawab?
Di masa kini, pendidikan diukur dari seberapa jauh itu menolong orang untuk mendapatkan pekerjaan atau uang. Dibaliknya, ada pandangan yang bersifat utilitarian.
Saya tidak sedang meng-endorse liberal Arts untuk diterapkan secara buta. Secara prinsip, liberal Arts patut dipertimbangkan. Adakah hal yang lebih baik yang akan dikembangkan oleh para pemangku kekuasaan dalam area pendidikan kita ?
Seperti apakah pendidikan yang ditawarkan? Ke manakah arah pendidikan kita ? Akankah itu akan membawa generasi kita untuk menjadi manusia seutuhnya yang bebas?




















