Pendidikan Karakter: Makna Perbup No. 33 Tahun 2021 Pemda Sumbawa, Perspektif Tradisi Tama Lamung

Pendidikan Karakter: Makna Perbup No. 33 Tahun 2021 Pemda Sumbawa, Perspektif Tradisi Tama Lamung

 

Penulis: Suten Sumarten, S.Pd, 
Pegiat Pendidikan Anak Usia Dini 
(PAUD) - Sumbawa

_____________________
Keadaban masyarakat Sumbawa sering dipraktikan dalam Tradisi Tama Lamung sebagai upaya wanita sumbawa mulai usia remaja sampai dewasa menjaga nilai moralitas yang terkandung dalam kehidupan sehari-hari.

Tama Lamung sendiri berlandaskan kearifan lokal yang memiliki makna filosofis dalam bentuk sikap dan nilai kesamawaan yang bertujuan agar terhindar dari berbagai macam pengaruh negatif stratifikasi sosial, lingkungan maupun globalisasi.

Kajian lebih luas, bahwa pergelaran tradisi tama lamung itu pendidikan karakter diberbagai sekolah dan institusi sosial. Budaya pendidikan ini, seperti mutiara hilang sebagai filsafat moral penuh makna, asas dan tujuan hidup bersama (shaffan) orang sumbawa (tau samawa).

Perbup No. 33 Tahun 2021 dikeluarkan oleh Bupati Sumbawa, untuk terwujudnya identitas atau profil pelajar sesuai sila pancasila yang terkandung dalam visi “Sumbawa Gemilang yang Berkeadaban”. Tama lamung termasuk cara bertahan hidup masyarakat dari berbagai ancaman amoral, globalisasi dan terutama pengaruh media sosial seperti facebook, twitter, instagram, line, dan lain sebagainya.

Perbup No. 33 Tahun 2021 dalam perspektif Budaya Tama Lamung sehingga mencerminkan kearifan lokal Tana Samawa, yaitu saleng satotang (saling mengingatkan), saleng sadu (saling percaya), saleng tulung (saling bantu), saleng jango (saling jenguk), saleng satingi (saling menghormati), saleng sakiki (saling berbagi rasa dalam suka maupun duka), saleng angkat (saling memajukan dan tidak membiarkan lainnya terpuruk), saleng pendi (rasa peduli terhadap orang lain), saleng sadu (saling percaya), saleng tulung (saling menolong).

Tradisi ini masih relevan dalam kehidupan sekarang, terutama pendidikan karakter dalam membimbing masyarakat, mencegah kejahatan dan saling memberi manfaat sehingga tumbuh solidaritas sebagai praksis system sosial (sosiological) masyarakat guna menghindari malapetaka bagi diri mereka sendiri, seperti pemerkosaan, asusila, dan hubungan seks bebas atau pacaran.

Apalagi, nilai – nilai yang terkandung dalam tradisi tama Lamung ini, sudah bisa dilaksanakan dalam skema pendidikan karakter. Sebagaimana dalam Perbup nomor 33 tahun 2021 dan Permendikbud RI Nomor 20 tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter pada Satuan Pendidikan Formal.

Masyarakat, dalam melaksanakan tradisi ini karena motivasi akan makna tama lamung sebetulnya sangat tinggi namun tidak di dukung oleh faktor kebersamaan sehingga cenderung bersifat individual. Maka, sudah bagus instrumen Permendikbud tersebut termuat amanat penyelenggaraan pendidikan karakter di satuan pendidikan. Jadi, setiap satuan pendidikan dibawah pemerintah daerah dan masyarakat berkewajiban melaksanakan pendidikan karakter melalui proses pembelajaran.

Seiring perubahan waktu mengikuti perkembangan masyarakat,seperti pertukaran budaya, transmigrasi, dan perkawinan beda suku. Tidak dipungkiri, tradisi ini tergerus karena sebelumnya tidak ada proses education secara mendalam untuk menjaga eksistensi pelestariannya sehingga makna dan tujuan pendidikan karakter perspektif tama lamung tidak mengalami transformasi.

Tradisi ini sangat mumpuni dalam berbagai kehidupan apapun, seiring kemajuan teknologi dan informasi untuk disesuaikan dengan zaman. Apalagi, doktrin agama Islam sebagai mayoritas sudah susut dalam konteks moralitas masyarakatnya.

Apalagi masyarakat dan usia muda produktif yang kebanyakan sekarang terjerumus dalam dunia pragmatisme akibat jurang kemiskinan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Lebih parah lagi, masyarakat sudah metamorposis dalam dunia gelap gulita malam, yang justru mendorong krisis moral pada masyarakat Sumbawa.

Bisa dikatakan bahwa Perbup No. 33 Tahun 2021 dalam perspektif Budaya Tama Lamung mencerminkan kearifan lokal Tana Samawa. Regulasi perda tersebut, upaya serius untuk konstruksi perilaku dan tindakan masyarakat sehingga tercapai pendidikan karakter yang sejatinya membawa pesan-pesan moralitas untuk masa akan datang.

Pendidikan karakter perspektif menjadi tujuan akhir dari berbagai kebijakan yang dituangkan oleh Kemendikbudristek. Begitu juga, visi Sumbawa Gemilang yang Berkeadaban agar menjadi rujukan dalam aturan hukum yang jelas agar tidak hanya diketahui dan dipahami dalam konteks satuan pendidikan.

Penguatan pendidikan karakter perspektif tama lamung tidak akan mungkin terjadi jika hanya digantungkan pada sekolah. Lebih jauh sudah mengajarkan kita semua bahwa ada porsi penting pada orang tua sebagai guru pertama dan utama untuk mengajar, diajarkan, pendidik dan lainnya.[]

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print
Scroll to Top
Scroll to Top