Pemukulan Warnai Konfercab HMI 2025: Demokrasi Dicederai, Nilai Perjuangan Dipermalukan

NARMADA, JEJAKNTB||Konferensi Cabang Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Mataram 2025 yang seharusnya menjadi ruang intelektual, musyawarah, dan pertarungan gagasan kembali tercoreng oleh tindakan kekerasan fisik. Insiden pemukulan yang terjadi di tengah proses forum bukan hanya mencederai peserta, namun juga mencoreng marwah organisasi yang lahir dari rahim perjuangan moral dan intelektual umat.

Peristiwa ini menggambarkan bahwa sebagian kader masih gagal memahami esensi pergerakan dan jatuh ke dalam mentalitas barbar yang menukar argumentasi dengan tinju, mengganti logika dengan emosi, dan merusak nilai-nilai organisasi yang selalu digaungkan dalam jargon: “Yakin Usaha Sampai.” Ironisnya, aksi itu dilakukan di bawah bendera organisasi yang selama puluhan tahun dikenal sebagai ruang dialog, pendidikan, dan pembentukan karakter kader umat dan bangsa.

Saksi forum menyebut insiden terjadi setelah memanasnya dinamika pembahasan terkait mandataris LPJ beberapa bidang kepada ketua umum. Ketegangan yang seharusnya diselesaikan melalui mekanisme forum justru berujung pada tindakan tidak terpuji: pemukulan. Padahal, sejarah HMI tidak pernah mengajarkan bahwa kekuasaan diraih dengan kekerasan, melainkan dengan intelektualitas, ketulusan, dan moralitas perjuangan.

Pertanyaan besar kini menggantung di udara: Apakah ini wajah baru HMI Cabang Mataram? Apakah ini bentuk regenerasi yang dibangun? Atau ini tanda bahwa kita sedang gagal mengawal proses kaderisasi dan nilai-nilai etik organisasi?

Jika kekerasan dibiarkan, maka Konfercab tidak lagi menjadi arena musyawarah, melainkan arena gladiator berebut tahta.

Beberapa kader senior mengecam tindakan tersebut dan meminta agar pelaku diberi sanksi tegas, bukan hanya sebagai bentuk penegakan aturan organisasi, tetapi sebagai pesan moral bahwa HMI tidak pernah dan tidak akan pernah mentolerir kekerasan dalam bentuk apa pun. Mereka menegaskan bahwa HMI bukan organisasi premanisme intelektual, melainkan rumah kader pembelajar yang menjunjung nilai ketakwaan, keadilan, dan keadaban.

Konfercab HMI seharusnya menjadi momentum konsolidasi, bukan pembelahan. Menjadi panggung gagasan, bukan panggung kekerasan. Jika dinamika organisasi dibiarkan berjalan tanpa etika dan tanpa sanksi, maka bukan hanya kader yang terluka—tetapi sejarah, martabat, dan cita-cita besar perjuangan organisasi ikut tercederai.

Kini publik, kader, dan sejarah sedang menunggu: Apakah HMI akan bertindak tegas atau justru bungkam?

Karena dalam diam, kekerasan tumbuh menjadi budaya, dan ketika itu terjadi, HMI bukan lagi wadah perkaderan—melainkan sekadar nama kosong tanpa makna.(Syl/MaG)

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print
Scroll to Top