PEMBELAJARAN YANG BERPIHAK KEPADA PESERTA DIDIK Mengajar Tak Lagi Sekadar Menyampaikan, Tapi Memanusiakan

PEMBELAJARAN YANG BERPIHAK KEPADA PESERTA DIDIK

Mengajar Tak Lagi Sekadar Menyampaikan, Tapi Memanusiakan

Oleh: Asep Tapip Yani

Dosen UMIBA Jakarta

 

 

OPINI ||Kalau pembelajaran hari ini masih seperti zaman kolonial—guru berdiri, murid duduk; guru aktif, murid pasif; guru benar, murid salah—maka kita sedang membunuh kreativitas secara sistematis. “Berpihak pada peserta didik” bukan sekadar jargon kurikulum. Ia adalah roh dari pendidikan itu sendiri. Karena anak-anak bukan kertas kosong, melainkan benih yang harus ditumbuhkan dengan pendekatan manusiawi, bukan dipaksa seragam lewat standar kaku.

Membangun Kemampuan Esensial Untuk Masa Depan

“Ilmu yang tidak bisa dipakai untuk hidup, hanya akan jadi tumpukan angka di rapor.” Pembelajaran yang berpihak kepada peserta didik adalah pembelajaran yang:

• Fokus pada kompetensi, bukan sekadar konten.

• Membangun keterampilan berpikir kritis, kolaborasi, kreativitas, dan komunikasi (4C).

• Menguatkan karakter, keberanian, dan kemandirian.

Contoh konkret:

• Di kelas Matematika, guru tidak hanya mengajarkan rumus, tapi melatih anak memecahkan masalah riil seperti menghitung biaya hidup atau perencanaan anggaran.

• Di kelas Bahasa, murid diajak menulis opini, membuat vlog, atau menyuarakan ide di depan umum.

Teori pendukung: Constructivism (Piaget, Vygotsky) → Anak bukan dituang pengetahuan, tapi membangun pemahaman melalui pengalaman dan interaksi.

Mencapai Tujuan Pendidikan Nasional Melalui Keberpihakan

Tujuan pendidikan nasional (UU No. 20 Tahun 2003):“Mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” Kalau pembelajaran hanya mengejar nilai dan ranking, maka kita kehilangan arah. Kita hanya mencetak robot ujian, bukan manusia seutuhnya.

Berpihak pada peserta didik berarti:

• Mengenali potensi unik setiap anak (tidak menyamaratakan).

• Memberi ruang eksplorasi minat dan bakat.

• Tidak mempermalukan anak yang tidak cepat, tapi membimbing dengan sabar.

“Anak tidak harus jadi seperti kita. Tapi kita yang harus mengerti cara terbaik untuk menemani mereka tumbuh.”

Penilaian Tanpa Diskriminasi Dan Transparan

“Penilaian yang adil bukan yang membuat semua murid sama, tapi yang membuat setiap murid merasa dihargai usahanya.”

Prinsip penilaian berpihak:

• Adil, bukan sama rata.

• Transparan, bisa dipertanggungjawabkan.

• Memberi umpan balik, bukan hanya angka.

• Berorientasi pada kemajuan, bukan pembanding antar siswa.

Praktik terbaik:

• Gunakan rubrik penilaian terbuka, yang diketahui peserta didik sejak awal.

• Beri kesempatan refleksi diri dan revisi tugas.

• Lakukan asesmen formatif (penilaian selama proses, bukan hanya ujian akhir).

Teori pendukung: Assessment for Learning (AfL) – Penilaian sebagai bagian dari proses belajar, bukan hanya pengukuran hasil.

Prinsip Pembelajaran Yang Berpihak Pada Peserta Didik

• Membangun Kompetensi 4C

• Menguatkan karakter

• Pembelajaran kontekstual

• Penilaian adil & terbuka

• Fleksibel & personal

• Diskusi, bukan doktrin

Kutipan-Kutipan Reflektif

“Anak-anak tak perlu dijejali ilmu, mereka hanya perlu dibangkitkan rasa ingin tahunya.”

“Bila pendidikan tidak berpihak pada anak, maka pendidikan sedang membunuh masa depan secara perlahan.”

“Transparansi dalam penilaian adalah cermin integritas seorang pendidik.”

“Guru bukan hakim. Guru adalah jembatan yang mempertemukan mimpi dan kenyataan.”

Perspektif Empirik

Penelitian Balitbang Kemendikbud (2023) menunjukkan:

• Sekolah yang menerapkan model student-centered learning mengalami peningkatan motivasi siswa hingga 40% lebih tinggi dibanding yang teacher-centered.

• 67% siswa lebih nyaman di kelas ketika penilaian dilakukan terbuka dan memberi ruang diskusi hasil.

Pembelajaran berpihak bukan wacana. Ia terbukti secara ilmiah menaikkan kualitas belajar dan menurunkan stres siswa.

Guru Sebagai Penyala, Bukan Pemadam

Mengajar itu bukan soal mentransfer isi otak. Tapi soal menghidupkan hati, menyalakan semangat, dan membimbing dengan empati. Berpihak kepada peserta didik adalah sikap mental dan filosofi hidup, bukan sekadar metode. Kalau kita ingin pendidikan mencetak manusia yang utuh, maka kita harus mulai dari pembelajaran yang memperlakukan mereka sebagai manusia yang utuh.

Kutipan Tokoh-Tokoh Bermakna

Tentang Keberpihakan dalam Pendidikan:

Ki Hajar Dewantara:“Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat menuntun tumbuhnya kodrat itu.”

Maria Montessori: “Free the child’s potential, and you will transform him into the world.”

Nelson Mandela: “Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.”

Tentang Penilaian dan Keadilan:

Paulo Freire: “Education either functions as an instrument which is used to facilitate integration of the younger generation into the logic of the present system… or it becomes the practice of freedom.”

Howard Gardner: “It’s not how smart you are, it’s how you are smart.”

Tentang Masa Depan dan Kompetensi Esensial:

Alvin Toffler: “The illiterate of the 21st century will not be those who cannot read and write, but those who cannot learn, unlearn, and relearn.”

Sir Ken Robinson: “The fact is that given the challenges we face, education doesn’t need to be reformed — it needs to be transformed.”

Asep Tapip Yani: “Berpihak pada peserta didik bukan tentang memanjakan mereka, tapi tentang memanusiakan dan membesarkan jiwanya.”

@@@

 

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print
Scroll to Top