OPINI : Melawan Perundungan dengan Nilai Budaya Samawa

OPINI : Melawan Perundungan dengan Nilai Budaya Samawa

 

Oleh. Sri Asmediati*

 

 

SUMBAWA, JEJAKNTB|| Perundungan atau pembullyan masih menjadi persoalan serius di lingkungan sekolah. Sayangnya, banyak orang masih menganggapnya sebagai hal biasa, sekadar candaan, atau bagian dari proses tumbuh dewasa. Kalimat seperti “namanya juga anak-anak” sering menjadi alasan untuk menutup mata. Padahal, bagi anak yang menjadi korban, perundungan adalah luka yang nyata, menyakitkan, dan bisa membekas hingga dewasa.

 

Di tengah situasi ini, masyarakat Samawa sesungguhnya memiliki nilai budaya yang kuat

untuk mencegah dan mengeliminasi perundungan. Nilai-nilai ini telah lama hidup dan diwariskan, namun perlahan memudar dalam praktik kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan pendidikan.

Contoh Kasus Lokal: Luka yang Tak Terlihat 

Beberapa waktu lalu, di salah satu sekolah menengah di Kabupaten Sumbawa, seorang siswa kelas VIII sering tidak masuk sekolah. Awalnya guru mengira ia malas belajar atau tidak disiplin. Namun setelah ditelusuri, penyebabnya adalah perundungan.

Anak tersebut kerap diejek karena tubuhnya kurus dan berasal dari keluarga sederhana. Ia diberi julukan yang merendahkan, tasnya pernah disembunyikan, dan ia sering ditertawakan saat menjawab pertanyaan guru. Tidak ada pemukulan, tidak ada darah, tetapi kata-kata itu perlahan mematikan rasa percaya dirinya. Ia memilih diam karena takut perlakuan itu semakin parah.

Kasus seperti ini bukanlah cerita tunggal. Banyak perundungan terjadi dalam bentuk yang halus, sunyi, dan sering luput dari perhatian orang dewasa.

 

Perundungan di Ruang Digital

Perundungan hari ini tidak hanya terjadi di ruang kelas atau halaman sekolah, tetapi juga di media sosial. Di Sumbawa, seperti di daerah lain, siswa memiliki grup WhatsApp atau akun media sosial bersama.

Pernah terjadi kasus seorang siswi yang fotonya diedit dan dijadikan bahan ejekan di grup. Komentar-komentar kasar bermunculan, sebagian hanya ikut-ikutan. Akibatnya, siswi tersebut menangis, menarik diri, dan enggan masuk sekolah. Ini menunjukkan bahwa teknologi, jika tidak dibarengi nilai, bisa menjadi alat yang melukai.

Padahal, dalam budaya Samawa, mempermalukan orang lain di depan umum adalah perbuatan yang sangat tidak pantas. Bertentangan dengan Jati Diri Orang Samawa.

Dalam pandangan orang Samawa, setiap manusia adalah tau—pribadi yang memiliki martabat dan harga diri. Merendahkan orang lain, apalagi yang lemah, adalah perbuatan memalukan dan bertentangan dengan nilai hidup bersama.

Falsafah Sabalong Samalewa mengajarkan keseimbangan dan keharmonisan. Hidup tidak boleh saling melukai, tetapi saling menjaga. Jika ada satu anak yang tersakiti oleh ejekan dan penghinaan, maka keseimbangan sosial telah rusak.

Perundungan jelas bertentangan dengan falsafah ini. Anak-anak yang membully sejatinya sedang menjauh dari jati diri orang Samawa yang menjunjung tinggi rasa malu (ila), sopan santun, dan penghargaan terhadap sesama.

 

 

Saling Satingi: Menghormati dalam Perkataan dan Sikap

Budaya Samawa mengajarkan saling satingi, yaitu saling menghormati. Menghormati bukan hanya kepada orang yang lebih tua, tetapi juga kepada teman sebaya, bahkan kepada mereka yang berbeda atau lemah.

 

Ejekan, julukan buruk, dan candaan yang menyakitkan jelas melanggar nilai ini. Jika anakanak diajarkan sejak dini untuk menjaga kata dan perasaan orang lain, maka perundungan tidak akan mendapat tempat.

 

Saling Tulung: Jangan Diam Melihat Ketidakadilan

Salah satu penyebab perundungan terus terjadi adalah sikap diam. Banyak anak melihat temannya dibully, tetapi memilih tidak peduli karena takut ikut menjadi sasaran.

Dalam budaya Samawa, dikenal nilai saling tulung—saling menolong. Melihat ketidakadilan berarti ada tanggung jawab untuk membantu. Menolong tidak selalu berarti melawan pelaku, tetapi bisa dengan menemani korban, memberi dukungan, atau melapor kepada guru.

Jika nilai saling tulung hidup di sekolah, maka tidak ada anak yang merasa sendirian saat disakiti.

Adat dan Agama Berjalan Seiring

Ungkapan Samawa “Adat barenti ko sara, sara barenti ko Kitabullah” mengingatkan bahwa adat dan agama saling menguatkan. Keduanya sama-sama mengajarkan larangan menyakiti sesama, baik dengan tangan maupun dengan lisan.

Perundungan bukan hanya pelanggaran aturan sekolah, tetapi juga pelanggaran moral dan nilai keagamaan. Oleh karena itu, pendidikan karakter di sekolah-sekolah Sumbawa seharusnya mengintegrasikan nilai adat dan nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.

 

Peran Guru di Sekolah

Guru memiliki peran besar dalam menciptakan lingkungan yang aman. Ketegasan guru terhadap ejekan kecil sekalipun adalah pesan kuat bahwa perundungan tidak ditoleransi.

Di salah satu SD, seorang guru menghentikan pelajaran ketika mendengar siswa mengejek temannya. Guru tersebut mengajak kelas berdiskusi tentang perasaan jika diejek, lalu mengaitkannya dengan nilai Sabalong Samalewa. Sejak saat itu, suasana kelas menjadi lebih saling menghargai.

Contoh sederhana ini menunjukkan bahwa pendidikan nilai tidak selalu membutuhkan cara yang rumit, tetapi membutuhkan kesadaran dan keteladanan.

 

Peran Orang Tua dan Tokoh Masyarakat

Orang tua adalah pendidik pertama. Anak yang terbiasa mendengar kata-kata kasar di rumah cenderung menirunya di luar. Sebaliknya, anak yang dibesarkan dengan bahasa yang lembut dan penuh penghargaan akan lebih mudah berempati.

Tokoh adat dan tokoh agama juga memiliki peran penting. Suara mereka masih memiliki wibawa untuk mengingatkan bahwa perundungan bertentangan dengan jati diri orang Samawa.

Pesan Penutup untuk Guru dan Orang Tua

Guru dan orang tua adalah dua sosok yang paling dekat dengan anak. Dari merekalah anak belajar berbicara, bersikap, dan memperlakukan orang lain.

Untuk para guru, sekolah bukan hanya tempat mengajar pelajaran, tetapi juga tempat menanamkan nilai kemanusiaan. Jangan pernah menganggap ejekan kecil sebagai hal sepele.

Kata-kata yang kita biarkan hari ini bisa menjadi luka yang dibawa anak seumur hidup. Guru yang mau mendengar dan melindungi akan selalu dikenang oleh muridnya.

Untuk para orang tua, rumah adalah sekolah pertama. Cara kita berbicara di rumah, cara kita menghargai orang lain, dan cara kita menyelesaikan masalah akan ditiru oleh anak-anak.

Ajarkan anak untuk menjaga kata, menjaga sikap, dan berani menolong teman yang disakiti. Jangan hanya bertanya tentang nilai pelajaran, tetapi tanyakan juga tentang perasaannya.

Mari kita hidupkan kembali nilai budaya Samawa: saling satingi dalam berbicara, saling tulung dalam bertindak, dan Sabalong Samalewa dalam hidup bersama. Anak-anak tidak hanya membutuhkan kecerdasan, tetapi juga rasa aman dan teladan.

Karena tugas kita bukan sekadar membesarkan anak yang pintar, tetapi membesarkan manusia yang beradab dan berperikemanusiaan.[]

 

 

*Penulis adalah Guru sekaligus pemerhati budaya, tinggal di Sumbawa Besar – Nusa Tenggara Barat.

 

 

 

 

 

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print
Scroll to Top