KULTUR SEKOLAH “SENSE OF BELONGING”
Oleh : Sahra, S.Pd, M.Pd
(Pengawas Sekolah)
“Refleksi perjalanan pengawas sekolah tahun 2024 menuju Pembaharuan kinerja Pendamping Satuan Pendidikan 2025”
A. Kultur Sekolah
Sekolah merupakan tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Belajar dan mengajar tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan transfer ilmu pengetahuan dari guru ke siswa. Berbagai kegiatan seperti bagaimana membiasakan seluruh warga sekolah disiplin dan patuh terhadap peraturan yang berlaku di sekolah, saling menghormati, membiasakan hidup bersih dan sehat serta memiliki semangat berkompetisi secara fair dan sejenisnya merupakan kebiasaan yang harus ditumbuhkan di lingkungan sekolah sehari-hari. Zamroni (2003:149) mengatakan bahwa kebiasaan-kebiasaan, nilai-nilai, norma, ritual, mitos yang dibentuk dalam perjalanan panjang sekolah disebut kultur sekolah. Kultur sekolah dipegang bersama oleh kepala sekolah, guru, staf aministrasi, dan siswa sebagai dasar mereka dalam memahami dan memecahkan berbagai persoalan yang muncul di sekolah. Sekolah menjadi wadah utama dalam transmisi kultural antar generasi.
Penelitian di Amerika serikat membuktikan bahwa kultur sekolah berpengaruh terhadap peningkatan prestasi dan motivasi siswa untuk berprestasi, sikap dan motivasi guru serta produktivitas dan kepuasan kerja guru. Untuk menciptakan kultur sekolah yang positif dibutuhkan adanya kesadaran dan motivasi terutama dari diri masing-masing warga sekolah. Guru sebagai ujung tombak di lapangan harus mampu memberikan motivasi dan inspirasi bagi siswa khususnya. Kebiasaan guru yang datang tepat waktu dan melaksanakan tugas mengajar dengan baik, sikap dan cara berbicara saat berkomunikasi dengan siswa dan unsur sekolah lainnya, disiplin dalam melaksanakan tugas merupakan kebiasaan, nilai dan teladan yang harus senantiasa dijaga dalam kehidupan sekolah. Agar kebiasaan-kebiasaan positif tersebut terpelihara dan mendarah daging dalam diri seluruh warga sekolah yang selanjutnya diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, dibutuhkan adanya “ sense of belonging” atau rasa memiliki terhadap sekolah.
B. Sense of belonging sebagai Kultur Sekolah
Sense of belonging atau rasa memiliki terhadap sesuatu akan membuat seseorang merasa bangga akan apa yang dimilikinya, mencintai dan akan senantiasa menjaganya. Demikian pula rasa memiliki yang tinggi terhadap sekolah diharapkan dapat mendorong tiap warga sekolah untuk melakukan yang terbaik demi kemajuan dan keharuman nama sekolah. Siswa akan patuh dan taat terhadap berbagai peraturan yang ada di sekolah, belajar dengan sungguh-sungguh dan menunjukkan prestasi demi membawa nama baik sekolah. Guru akan mengajar dengan “hati” bukan semata-mata dalam rangka melaksanakan tugas rutin yang bersifat mekanik. Mengembangkan potensi, bakat dan minat siswa menjadi hal terpenting dalam melaksanakan tugasnya. Guru akan senantiasa meningkatkan kualitas diri sebagai pendidik profesional. Demikian pula warga sekolah lainnya akan memberikan pelayanan yang terbaik demi kelancaran kegiatan persekolahan. Rasa memiliki yang tinggi terhadap sekolah diharapkan mampu menjadi penggerak dan pengarah sikap mental seluruh stakeholder sekolah menuju cita-cita bersama yang dituangkan dalam program-program sekolah. Oleh karena itu penanaman rasa memiliki terhadap sekolah seyogyanya senantiasa ditumbuhkembangkan pada diri seluruh warga sekolah termasuk stakeholder lainnya yang berkepentingan terhadap sekolah dan menjadi bagian kultur sekolah dari generasi ke generasi.
C. Upaya-Upaya untuk Memelihara “Sense of Belonging”
Salah satu hal yang dapat dilakukan sekolah untuk menjaga dan melestarikan sense of belonging dikalangan warga sekolah adalah adanya pemberian perhatian dan penghargaan bagi warga sekolah yang berprestasi. Tentu saja sekolah harus merancang program dan wadah bagi ajang adu prestasi bagi siswa, guru maupun tenaga kependidikan lainnya. Adanya ‘reward’ bagi yang berprestasi dan ‘punishment’ bagi yang melanggar tentu sangat penting dan harus dirumuskan secara jelas sejak awal dengan melibatkan seluruh warga sekolah termasuk orang tua siswa melalui komite sekolah. Program unggulan bagi siswa yang berprestasi dapat diwujudkan dengan mengadakan kelas unggulan yang perekrutannya berdasarkan prestasi yang dimiliki siswa. Di samping memberikan perlakuan khusus dalam pembelajaran, sekolah juga dapat memberikan penghargaan lainnya seperti bea siswa yaitu bebas uang sekolah atau tabungan pendidikan sesuai aturan dan kriteria yang sudah ditetapkan bersama. Program pengiriman siswa ke berbagai event baik akademis maupun non-akademis yang perekrutannya dilakukan secara terbuka dan fair juga dapat meningkatkan semangat berkompetisi dan berprestasi yang sehat di antara siswa. Memfasilitasi siswa berprestasi yang akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi untuk dapat ikut seleksi melalui jalur prestasi juga merupakan program yang dapat memotivasi siswa untuk berkompetisi dan berprestasi. Di sisi lain, “punishment” atau hukuman bagi yang melanggar tentu yang bersifat konstruktif dan edukatif karena tidak jarang hukuman untuk memberikan aspek jera pada siswa justru sebaliknya membuat siswa semakin memberontak dan susah diatur.
Menumbuhkan semangat berkompetisi dan berprestasi di antara guru juga sangat penting. Prestasi seorang guru adalah ketika yang bersangkutan dapat meningkatkan mutu proses dan hasil belajar siswa. Kemampuan guru dalam menyusun rancangan pembelajaran yang didahului dengan melakukan analisis terhadap kompetensi yang harus dicapai oleh siswa , situasi dan kondisi sekolah serta lingkungan, melaksanakan pembelajaran dan melakukan penilaian sangat penting. Guru harus mampu melaksanakan pembelajaran dengan metode dan media yang bervariasi dan sesuai dengan karakteristik siswa, materi, serta tujuan yang akan dicapai. Tentu saja kualitas guru dan kualitas pendidikan guru sangat berpengaruh terhadap kemampuannya dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran yang kreatif dan inovatif serta melakukan penilaian yang relevan dengan kompetensi yang akan diukur. Sekolah perlu merancang program peningkatan kompetensi guru dalam rangka memotivasi mereka untuk senantiasa meningkatkan kualitas diri seperti pemberian pelatihan, workshop atau mengirimkan guru ke berbagai seminar yang berkaitan dengan pendidikan sesuai dengan kebutuhan. Uji kompetensi guru secara berkala dapat dirancang dan dilaksanakan oleh sekolah dengan pendampingan lembaga penjaminan mutu dalam rangka memacu semangat guru agar senantiasa meningkatkan kompetensinya dan untuk memperoleh pengakuan sebagai guru profesional. Pemberian penghargaan kepada guru-guru yang telah membawa harum nama sekolah baik atas prestasinya dalam berbagai kompetisi, membimbing siswa, menjadi teladan bagi sesama teman sejawat dan siswa, maupun dalam kompetisi lainnya juga harus dirancang sebagai reward dalam rangka menumbuhkan semangat berkompetisi yang sehat diantara guru. Begitu pula penghargaan bagi karyawan yang memiliki dedikasi, loyalitas dan prestasi yang bagus harus diprogramkan oleh sekolah. Pola kerja guru dan karyawan yang menunjukkan keteraturan, kedisiplinan, saling menghormati, saling asah, asih dan asuh serta hubungan yang harmonis merupakan kebiasaan yang dapat menumbuhkan rasa nyaman dan damai bagi warga sekolah. Rasa saling memiliki dan membutuhkan semakin terasa. Rasa bangga sebagai warga sekolah muncul secara alami dari kebiasaan dan nilai-nilai yang ada dalam kehidupan di sekolah. Hal ini menjadi teladan bagi siswa selama berada di sekolah.
Hal lain yang perlu diperhatikan dalam rangka memelihara rasa memiliki terhadap sekolah oleh semua warga sekolah adalah adanya pemahaman akan tujuan sekolah. Alangkah janggal bila sekolah berharap setiap warganya memiliki “sense of belonging” namun tidak memberikan pemahaman tentang apa yang menjadi arah dan tujuan sekolah. Perumusan tujuan sekolah beserta program-program sekolah dalam rangka merealisasikannya hendaknya juga melibatkan warga sekolah. Hal ini merupakan wujud penghargaan sekolah kepada warganya. Berbagai masukan, ide serta kritik oleh warga sekolah menunjukkan kepedulian warga sekolah akan kemajuan sekolah di masa yang akan datang. Pelibatan orang tua siswa dalam merumuskan tujuan sekolah sekolah serta program-program unggulan sekolah merupakan penghargaan yang diberikan sekolah terhadap mitra kerjanya. Pola hubungan kerja yang harmonis, saling peduli, saling membutuhkan dan mencerminkan kebersamaan ini dapat meningkatkan rasa saling memiliki dan membutuhkan terhadap sekolah.
Pola kepemimpinan kepala sekolahpun sangat penting dalam menentukan kultur sekolah. Kepala sekolah yang senantiasa membuka komunikasi dialogis dengan warga sekolah dalam menentukan kebijakan sekolah , tidak otoriter dalam membuat keputusan yang menyangkut urusan sekolah, bersikap adil, bijaksana, terbuka terhadap berbagai masukan, saran, dan kritik akan membuat warga sekolah merasa “dimanusiakan”, merasa dihargai, dan betah di sekolah. Hal ini juga dapat menjadi model bagi para guru dan karyawan tentang nilai-nilai demokratis, kekeluargaan dan saling menghargai sebagai satu keluarga. “Sense of belonging” sebagai warga sekolah dan bangga akan pola hubungan yang sehat di sekolah merupakan atmosfir positif yang dapat meningkatkan motivasi siswa, dan kepuasan dan etos kerja guru dan karyawan.
Kultur sekolah yang sehat tidak dapat dibentuk secara instant namun membutuhkan proses yang panjang dan berkesinambungan dengan melibatkan seluruh warga sekolah termasuk orang tua siswa. Begitu pula rasa “sense of belonging” terhadap sekolah tidak dapat dipaksakan ada dan dimiliki oleh tiap warga sekolah. Iklim yang mendukung timbulnya rasa memiliki terhadap sekolah harus senantiasa ditingkatkan dan dikaji sesuai dengan dinamika yang ada. Sosialisasi berbagai program sekolah dan kultur yang diharapkan harus menjangkau seluruh warga sekolah dan orang tua siswa.
Terima kasih semoga menjadi refleksi pembaca
*Penulis merupakan Tokoh Pendidikan dan Supervisor, tinggal di Kota Sumbawa Besar.




















