Inilah Kondisi Birokrasi di Bima Hari ini, pengisian jabatan dominan Sehingga memunculkan kesan keserakahan
KOLOM : Keluarga Istana Bima Sudah Gagal Memimpin Bima 20 Tahun Berkuasa, Yandi Tidak Layak Menjadi Bupati
Oleh. Muhammad Jafar
Kabupaten Bima dipimpin Keluarga Zena Teke selama 20 tahun, waktu dan kesempatan yang cukup lama. Sudah saatnya kita evaluasi bersama atas nama tanggungjawab moral kita kepada daerah Bima dan masa depannya. Anda wajib bertanya pada diri sendiri, baik para loyalis maupun pendukung fanatik pihak keluarga Zena teke, apa yang pernah dibangun oleh mereka selama berkuasa, apa yang dapat dilihat, dinikmati, dan dicatat sebagai legasi kepemimpinannya 20 tahun sehingga layak dilanjutkan lagi oleh anak nya Yandi untuk yang ke 25 tahun??????????.
Kedua orang tua nya saja selama 20 tahun telah gagal, sangat tidak pantas Bima ini dipimpin lagi oleh anaknya, sungguh Kabupaten Bima akan semakin mundur dan bobrok. Masyarakat Bima semakin tertipu dengan lipstik pihak Istana, terutama kaum cendekia, ulama, akademisi, para intelektual, para kelompok pergerakan, para mahasiswa dan masyarakat Bima secara umum.
Apakah kita tidak punya hak bicara secara kritis soal masa depan Kabupaten Bima kaitan dgn kepemimpinan daerah, atau apakah kita mengevaluasi kepemimpinan pihak Istana Keluarga Zena Teka dianggap haram, dianggap tindakan subversif, dianggap kebencian tanpa dasar, dianggap brutal, dianggap mengganggu kepentingan dan hak demokrasi orang lain????
Lantas, atas nama kepentingan pribadi anda yang mendukung keluarga Zena Teke merasa diri benar dan harus diapresiasi begitu saja ya, meskipun Daerah dan Rakyat Bima dikorbankan atas nama kepentingan pribadi anda yang mendukung keserakahan mereka pihak Istana melanggengkan kekuasaannya. Anda mendukung pihak Istana atas nama kepentingan pribadi yg sempit dan atas nama kekuasaan buta pihak Istana yang serakah.
Perkara ini harus anda tahu dan sadari, bahwa musuh yang nyata adalah diri anda sendiri yang lalai dan lupa diri, tidak terbuka terhadap banyak hal, tidak bertanggungjawab atas pilihan politik demi daerah, tidak jujur dan justru menentang hati nurani dan akal sehat.
Anda telah terjerumus dalam lubang kekuasaan pihak istana selama 20 tahun yg pandai menipu dengan lipstik dan topeng kepalsuan belaka, para pendukung juga melegitimasi kebobrokan nya dengan merangkai kata puja puji, tapi anda konsisten menjilat dengan cara itu, lalu menyatakan dengan penuh percaya diri bahwa itu hak anda mendukung??
Yang pasti, anda mendukung keluarga Dinasti Istana bukan atas nama hak intelektual yang dapat dipertanggungjawabkan, lalu anda minta dihargai untuk tidak mengkritik kepemimpinan pihak Istana Keluarga Zena Teka. Anda sungguh sadis menjadi penjilat, anda memilih bela mati matian bukan pula atas dasar kepentingan pembangunan daerah dan kesejahteraan umum masyarakat Bima, meskipun anda bersembunyi dalam pembenaran diri atas nama hak demokrasi dan pilihan politik bebas jalur.
Hei Tuan, esensi demokrasi dan tujuan politik memilih pemimpin itu demi dan atas nama kepentingan daerah dan masyarakat umum, bukan sekedar untuk berkuasa demi memperkaya diri dan keluarga Istana. Visi misi kepemimpinan pihak Istana selama 20 tahun tidak mampu diwujudkan, anda juga tahu dan lihat faktanya, gagal total.
Mereka bersumpah demi kepentingan umum justru faktanya demi kepentingan pribadi dan keluarganya. Harusnya kita merasa jijik melihat rupa pemerintahan Kabupaten Bima yg dikuasai oleh Keluarga Istana selama ini. Pembangunan Kabupaten Bima tidak ada progres kemajuan sama sekali selama 20 tahun, justru Bima semakin mundur, rusak dan bobrok dari banyak sisi.
Cek APBD Kabupaten Bima tiap tahun, Cek PAD nya, cek index pembangunan tiap tahun, cek pembangunan prioritas, cek tata kelola pemerintahan dan unsur birokrasinya, cek struktur kekuasaan Kabupaten Bima. Anda tidak akan menjumpai fakta pembangunan, fakta keadilan, fakta meritokrasi, fakta kemajuan, fakta kesejahteraan umum, tapi anda akan menjumpai keluarga Dinasti Istana mendominasi jabatan jabatan penting dan vital, pun mereka tidak tahu diri, apa yg harus dituntaskan terhadap pembangunan atas amanah jabatan strategis yang dimonopoli nya. Ibunya Bupati, anaknya Ketua DPRD, Paman Kandungnya Jadi Setda, Saudara Kandung Jadi Kadis.
Sesungguhnya tidak soal siapapun menduduki jabatan strategis, tapi apa yg bisa mereka lakukan bagi kemajuan pembangunan Kabupaten Bima, apa indikatornya, mana fakta nyaaaa???????. Justru IPM Kabupaten Bima nomor 2 paling rendah se NTB, padahal sudah 20 tahun pihak Istana memimpin Daerah Kabupaten Bima. Kini berhasrat lagi ingin dilanjutkan oleh Yandi anak nya setelah kemarin menjadi Ketua DPRD dan ke depan ini akan digantikan posisinya oleh Dita adik Kandung IDP. IDP sendiri pada waktu bersamaan Yandi Calon Bupati, ia maju lagi Calon Wakil Gubernur NTB.
Sekali lagi bagi siapapun darimanapun berhak menjadi pemimpin dan menduduki jabatan strategis pada pemerintahan bila layak dan tahu diri siap dalam segala hal. Namun kita bicara tegas atas nama fungsi dan tanggungjawab kepemimpinan terhadap daerah dan masyarakat Bima. Kepemimpinan orangtua yg gagal ingin dilanjutkan oleh anaknya yang buta ilmu pemerintahan, tidak punya konsep dan pengalaman kepemimpinan yang baik, dan tidak paham soal Bima dengan segala potensi sumber daya dan arah kebijakan pembangunan, itu fatal akibatnya.
Pihak Istana bisa menang selama 20 tahun, tapi justru kemenangannya meninggalkan dosa warisan, keburukan, kemunduran dan kebobrokan bagi daerah Bima. Sesungguhnya bila mereka sadar diri atas amanah nilai Kepemimpinan Manggusu Waru, harusnya mereka haramkan dirinya untuk memimpin Kabupaten Bima. Mereka harus berani menyatakan secara terbuka kepada masyarakat Bima bahwa mereka telah gagal total, sudah tidak layak lagi memimpin Bima, apalagi ingin dilanjutkan oleh Yandi anaknya berpasangan pula dengan nenek tua Istri wakil Bupati yg sama sama gagal, sangat tidak layak.
Sungguh ironis, pada pikiran dan sikap para pendukung fanatik buta sesungguhnya bukan soal moral kepemimpinan daerah yang diutamakan, bukan soal pembangunan, bukan soal kemajuan daerah, bukan soal kepentingan kesejahteraan umum diperhatikan, bukan visi misi menjadi pedoman, bukan tanggungjawab kepemimpinan menjadi tuntutan, bukan sumpah jabatan pemimpin yg sakral, tapi niat dan sikap pendukung justru ingin melegitimasi kejahatan, keserakahan pihak istana harus terus berkuasa, meskipun pendukung tidak tahu diri dan tidak tahu malu (Maja labo dahu) kepada daerah dan rakyat, termasuk kepada Tuhan atas nama sumpah dan janji pihak keluarga Dinasti Istana memimpin Bima selama 20 tahun diingkari, amanah demokrasi tidak dilaksanakan, visi misi dibuat bagus hanya utk menipu masyarakat Bima sulit direalisasikan, fakta nya NOL BESAR. Namun ironis, pihak keluarga Dinasti Istana yang gagal itu justru tetap didukung dan dibela mati matian, miris bukan.
Yandi tidak layak memimpin Bima, adalah lebih buruk lagi dari kedua orangtuanya yg telah gagal memimpin Bima 20 tahun. Bila para pendukung abaikan fakta itu maka murka Tuhan akan datang menimpa Bima yg dikenal Dana Mbojo Mambari. Ini bukan mendoakan keburukan untuk Bima, tapi mengingatkan para pendukung fanatik keluarga Istana, anda harus sadar bahwa pilihan dan dukungan anda pada pemimpin yang salah adalah dosa besar yg berdampak membawa malapetaka bagi daerah dan rakyat Bima.
Secara sosiologis dan wilayah hukum, wajah Bima justru semakin buruk rupa nya, pembunuhan terjadi dimana mana, narakoba semakin merajalela, tata letak daerah tidak punya bentuk sama sekali, pandopo daerah tidak ada di wilayah Kabupaten, justru atas nama keserakahan IDP menjadikan rumah pribadi nya di Wilayah Kota Bima sebagai Pandopo Bupati yg dibiayai oleh Negara. Belum lagi soal infrastruktur belum ada yang beres dituntaskan selama 20 tahun keluarga Istana memimpin Kabupaten Bima, sisi ekonomi dan infrastruktur pun semakin buruk.
Kita lirik saja masalah tata ruang Kabupaten, masalah infrastruktur jalan, yaitu transportasi antara lain kemacetan lalu lintas, keselamatan berkendaraan, kondisi jalan yang buruk, terbatasnya jaringan jalan dan sarana transportasi dikawasan perdesaan atau daerah terpencil kabupaten Bima, tidak diperhatikan selama keluarga Istana memimpin Bima. Termasuk masalah listrik yg dialami oleh daerah terpencil yg sulit dijangkau seperti pemukiman yang terisolasi, demikian juga masalah telepon dan jaringan seluler, meskipun di demo berkali kali kuping IDP Bupati Bima selama ini justru semakin tuli, hatinya buta, ia seakan sengaja bersikap abai dan tidak peduli.
Bukan saja itu, masalah sumber daya air, bahwa sumber daya air dlm keberlanjutan pembangunan kabupaten Bima kurang diperhatikan, baik untuk air bersih maupun untuk kebutuhan kegiatan pertanian, industri dan usaha lain menjadi semakin sulit didapatkan karena terbatasnya suplai air baku, semakin menurunnya cadangan air akibat meningkatnya penebangan hutan di Bima. Soal ini tidak ada solusi sama sekali yang diajukan oleh Bupati Bima melalui kebijakan dan political will.
Cek juga masalah limbah dan jaringan air limbah yang tidak pernah terurus, masalah sampah, masalah drainase. Belum masalah pertanian, produksi dan tuntutan harga stabil pada tiap komoditi hasil pertanian masyarakat Bima tidak diperhatikan serius melalui kebijakan daerah selama ini.
Cek pula soal pariwisata, tenaga kerja, kesejahteraan masyarakat, masalah PKL, masalah tata bangunan dan ruang publik. Hal hal demikian harusnya diperhatikan serius, termasuk masalah kawasan air dan kawasan lindung, masalah perumahan kumuh yaitu mengenai masyarakat yang masih banyak tinggal dikawasan tidak layak huni.
Fakta kemunduran Kabupaten Bima sesungguhnya ada pada sisi pendidikan, kesehatan, dan pendapatan, itu tercatat resmi dari data IPM Kabupaten Bima sebagai daerah terendah kedua se NTB. Belum lagi soal penataan peribadatan, mesjid Agung Bima yang dibangun pun sedang ditangani KPK, terjadi korupsi di dalamnya, demikian juga sarana dan prasarana oleh raga, GOR Panda yang dibangun dengan APBN belum selesai, lagi lagi Anggaran Pembangunan masih dalam skandal Korupsi terjadi dalam kepemimpinan IDP.
Sangat banyak masalah yang belum beres kita jumpai di Kabupaten Bima selama kepemimpinan pihak keluarga Istana tidak ada yang beres, termasuk sarana pemerintahan, fasilitas kebudayaan, penataan tempat rekreasi, fasilitas perdagangan, dan lingkungan hidup.
Apalagi mengenai manajemen pembangunan. IDP Gagal total, termasuk dalam mengurus keberadaan Organisasi Pemerintah Daerah OPD, yang berkaitan dengan RPJPD, RPJMD, Renstra OPD, RKPD, dan rencana kerja OPD. Belum lagi soal visi misi dan program kepala daerah, arah kebijakan keuangan daerah, strategi pembangunan daerah, kebijakan umum daerah, program OPD, program lintas OPD.
Ini berawal dari masalah SDM IDP atau keluarga Istana tidak memadai, tidak bermutu tidak layak menjadi pemimpin sehingga berdampak pada proses perencanaan dan implementasi rencana pembangunan daerah, demikian juga masalah pengawasan dan pengendalian pembangunan, IDP buta ka No soal itu, apalagi anaknya Yandi yg memimpin, Bima akan semakin bobrok dan hancurr.
Kepada Masyarakat Bima, Tinggalkan Keluarga Istana, Jangan Warisi Dosa Berjamaah Mendukung Pemimpin Daerah Yang Gagal. Mari Kita Berubah Bersama Ady-Irfan, Memilih Pemimpin Baru Menuju Perubahan Bima Bermartabat.
Penulis adalah Warga Bima dan kini Menetap di Mbojo




















