SUMBAWA BESAR , jejakntb.com|| Calon Pilkades perempuan kini semakin menjadi trend positif dan inclusif enggak nekaneko beda dengan kaum laki kini masyarakat moderen mulai sadar dan memandang kemampuan memimpin lebih kuat dan penting daripada gender mengingat secara kodrati mereka lebih matang tidak macam-macam, kandidat perempuan dalam Pilkades di nilai memiliki ketelitian,empati, simpati yang kuat dan pendekatan pelayanan masyarakat yang merakyat. Buktinya kepemimpinan perempuan saat ini kian hari kian bersinar di berbagai platform, sektor dan lini kehidupan.

Menjelang pelaksanaan pelaksanaan pemilihan kepala desa (Pilkades) serentak di Kabupaten Sumbawa, Tahun 2026 muncul sosok perempuan muda yang membawa semangat perubahan. Kartika Sari, seorang bidan sekaligus aktivis desa, menyatakan kesiapannya untuk maju sebagai calon Kepala Desa Nijang, Kecamatan Unter Iwes dan bakalan terdaftar pada tanggal 7 September mendatang.
Di tengah dinamika politik desa yang masih kerap didominasi laki-laki, langkah Kartika menjadi simbol kebangkitan perempuan dalam ruang kepemimpinan. Ia hadir bukan sekadar sebagai kandidat, melainkan sebagai representasi semangat emansipasi—sebuah refleksi nyata nilai-nilai perjuangan Raden Ajeng Kartini di era modern di pulau Sumbawa.

Dengan mengusung jargon “Bersama Membangun Nijang”, Kartika mengajak masyarakat untuk menyambut Pilkades yang akan digelar pada November mendatang sebagai momentum kebersamaan, bukan perpecahan.
“Mohon doa dan restunya. Saat ini saya alhamdulilah telah mengantongi izin dan dukungan dari keluarga sehingga mendapatkan tiket maju dalam Pilkades,” ujar Kartika dengan penuh harap.
Perjalanan Kartika tidak instan. Ia tumbuh dan berproses dari bawah, mengenal denyut kehidupan masyarakat desa secara langsung. Pengalamannya di dunia kesehatan membentuk kepekaan terhadap persoalan sosial, sementara keterlibatannya di berbagai workplace memberinya kematangan dan kearifan lokal yang paripurna pemahaman tentang tata kelola dan pelayanan publik.
Saat ini, Kartika menjabat sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Kelurahan Seketeng Kecamatan Sumbawa kebetulan suaminya saat ini tengah aktif menjabat sebagai Lurah Terbaik Seketeng. Sebelumnya, Ia aktif di berbagai kegiatan di Desa kelahirannya, berikut biodata wanita hebat yang telah dikaruniai dua anak ini.

Terakhir Kartika Sari di Mataram sebagai Fasilitator Forum Anak NTB 2013-2017, Fasilitator Forum Anak Nasional Kementerian Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak RI 2016 dan 2017 serta menjadi Fasilitator Forum Anak Lampung Barat 2019.
Lebih dari satu dekade mengabdi sebagai aktifis kemanusiaan menjadi modal berharga dalam langkahnya menuju kontestasi Pilkades. Ia memahami bahwa membangun desa bukan hanya soal program, tetapi juga soal kehadiran pemimpin yang mampu mendengar dan merangkul seluruh lapisan masyarakat.
“Pertama, karena saya ingin tanah kelahiran saya maju dan tidak diam ditempat.
Kedua, banyak dorongan dan dukungan warga setempat agar saya bisa ikut mencalonkan diri menjadi cakades desa nijang
Ketiga, banyak sekali ide dikepala saya ini tentang bagaimana cara agar desa saya maju, sejahtera dan bisa bersaing dengan desa- desa terbaik lainnya.
Selebihnya, saya ingin mengabdi ditanah kelahiran saya dengan kemampuan dan pengalaman yang saya punyai.” urainya dengan rinci.
Keputusan Kartika untuk maju juga membawa pesan kuat bahwa perempuan memiliki kapasitas yang sama dalam memimpin. Ia ingin mematahkan stigma lama yang kerap membatasi peran perempuan di ruang publik.
Semangat inilah yang menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan Kartini—bahwa perempuan tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi juga penggerak perubahan.
Dalam visinya, Karina menaruh perhatian besar pada sektor ekonomi sebagai fondasi kemandirian desa. Ia berkomitmen untuk mendorong pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan keterampilan, penguatan kapasitas sumber daya manusia, serta pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Menurutnya, desa yang maju adalah desa yang masyarakatnya berdaya.
“Kita harus membuka peluang ekonomi baru. Masyarakat harus punya kesempatan untuk berkembang dan mandiri secara finansial,” jelasnya.
Selain itu, Kartika juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah desa, pemuda, dan kelompok perempuan dalam membangun ekosistem yang inklusif. Ia percaya, kemajuan desa hanya dapat tercapai jika semua pihak dilibatkan.
Langkah Kartika ini pun menjadi inspirasi bagi banyak perempuan muda di desa—bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Justru dari desa, perubahan besar bisa dimulai.
Ditengah arus perubahan zaman, kehadiran figur seperti Kartika menunjukkan bahwa semangat Kartini tidak pernah padam. Ia hidup dalam keberanian perempuan untuk melangkah, bersuara, dan mengambil peran dalam menentukan arah masa depan.
Kartika menegaskan, niatnya maju dalam Pilkades bukan asal-asalan, melainkan sebagai bentuk pengabdian.
“Saya ingin Desa saya tempat diriku dilahirkan benar-benar maju, bukan hanya dalam pembangunan fisik, tapi juga kualitas manusianya,” ujarnya.
Dengan tekad dan pengalaman yang dimiliki, Kartika Sari kini berdiri sebagai simbol perempuan desa yang berani tampil, siap memimpin, dan membawa perubahan, sebuah potret nyata Kartini masa kini di tanah intan Bulaeng yang sangat besar dan kaya raya.(JN)




















