Kabupaten Sumbawa Dikepung Banjir Akibat Cuaca Ekstrem

SUMBAWA BESAR, JEJAKNTB| Kabupaten Sumbawa dikepung banjir setelah cuaca ekstrem yang ditandai hujan dengan intensitas tinggi disertai petir dan angin kencang melanda di hampir sebagian besar wilayah Kabupaten Sumbawa dan sekitarnya pada hari Jum’at (23/1). Berdasarkan monitoring satelit klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) per pukul 16.50-18.45 WITA, wilayah dengan dampak cuaca ekstrem ini terpantau 11 Kecamatan meliputi Kecamatan Tarano, Kecamatan Empang, Kecamatan Maronge, Kecamatan Moyo Hilir, sebagian wilayah lagi terkena dampak longsor dan puting beliung.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumbawa, Muhammad Nur Hidayat, mengatakan bahwa hujan turun di Kabupaten Sumbawa sejak subuh hingga malam hari. Saat dihubungi tim Pusat Data Informasi dan Komunikasi (Pusdatinkom) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada pukul 19.35 WITA, Nur Hidayat mengaku kondisi cuaca masih turun hujan.

“Ya (masih turun hujan-red),” jelas Hidayat singkat, Jum’at (23/1).
Lebih lanjut, Hidayat melaporkan sejumlah titik wilayah Kabupaten Sumbawa terendam banjir dengan tinggi muka air (TMA) antara 15-80 sentimeter (cm). Kondisi banjir juga mengalami tren kenaikan genangan akibat hujan masih berlangsung hingga menjelang malam.


Adapun rincian wilayah yang terendam banjir meliputi :
Kecamatan Tarano dan Empang Terparah
Wilayah timur Sumbawa menjadi salah satu titik terdampak paling parah. Di Kecamatan Tarano, Desa Labuhan Bontong luluh lantak diterjang banjir bandang yang merendam 5 dusun. Tercatat sebanyak 612 KK atau sekitar 1.567 jiwa terdampak. Selain pemukiman, banjir juga merendam fasilitas pendidikan (2 PAUD, 1 SD) serta menghanyutkan 67 hektare lahan pertanian dan 60 hektare tambak warga.
Kondisi serupa terjadi di Kecamatan Empang. Banjir luapan menggenangi lima desa sekaligus, yakni Desa Empang Atas, Empang Bawah, Bunga Eja, Jotang, dan Ongko. Fasilitas publik seperti MIN Empang, Pasar Empang, dan Masjid Babussalam turut terendam, memaksa aktivitas ekonomi dan pendidikan lumpuh sementara.
Infrastruktur Putus dan Pemukiman Terisolir
Di Kecamatan Maronge, akses utama menuju Desa Labuhan Sangor terputus setelah jembatan di Dusun Sangor A roboh akibat hantaman debit air yang sangat besar. Masyarakat setempat kini berupaya membangun jembatan darurat secara gotong royong agar desa tidak terisolir total.
Sementara itu, di Kecamatan Moyo Hilir, akses jalan lintas desa di Dusun Sengakal dan Batu Bangka tidak dapat dilalui kendaraan karena genangan air yang tinggi, menyebabkan mobilitas warga terhambat sepenuhnya.
Ancaman Longsor di Wilayah Perkotaan
Di pusat kota Sumbawa Besar, ancaman utama bergeser pada bencana tanah longsor. Lima kelurahan (Pekat, Seketeng, Umasima, Brang Biji, dan Lempeh) melaporkan ambruknya penahan tebing pemukiman dan beronjong sungai.
“Terjadi tanah longsor dan kerusakan penahan tebing di beberapa titik kota dengan total panjang kerusakan mencapai lebih dari 300 meter,” lapor BPBD. Di Kelurahan Lempeh, ketinggian air masih bertahan di angka 20-30 cm, memaksa 55 KK melakukan evakuasi mandiri.
Amukan Dahsyat Puting Beliung
Selain banjir, angin kencang juga merusak permukiman di Kecamatan Batulanteh dan Buer. Di Desa Kelungkung, atap bangunan sekolah dan Balai Pertemuan Desa dilaporkan rusak parah. Sementara di Desa Pulau Kaung dan Desa Luk (Kecamatan Rhee), sejumlah rumah warga dilaporkan ambruk akibat terjangan angin pada siang hari.
Lebih jauh Kepala Kalaksa, Muhammad Nur Hidayat, menegaskan bahwa pihaknya telah menerjunkan Tim Reaksi Cepat (TRC) ke seluruh titik lokasi untuk melakukan asesmen cepat (assessment).
“Prioritas kami saat ini adalah keselamatan jiwa. Kami terus melakukan koordinasi dengan pihak desa dan kecamatan untuk pendataan serta penyaluran bantuan darurat. Kami juga mengimbau warga tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem susulan,” ujar Muhammad Nur Hidayat dalam keterangan resminya.
Hingga berita ini diturunkan, para pengungsi dan warga terdampak sangat membutuhkan bantuan darurat berupa Logistik Natura meliputi Bahan pokok (beras, minyak, mie instan) dan makanan siap saji.
Dibutuhkan sarana hunian berupa Terpal dan bahan bangunan (kayu, seng, paku) untuk rumah yang roboh. Demikian pula Air bersih dan obat-obatan serta Peralatan Kebersihan Untuk penanganan pasca-banjir di rumah warga dan sekolah.
Laporan ini telah diteruskan secara resmi kepada Kepala BNPB-RI, Gubernur NTB, Bupati Sumbawa, dan jajaran otoritas terkait guna penanganan lebih lanjut secara terpadu.(*)




















