Heboh!!! Umbar Aurat di FORNAS Wanita Ini Viral dan Disoroti di Medsos

Foto. Screenshot siaran langsung penonton FORNAS dari akun Facebook

 

Mataram, JEJAKNTB||Festival Olahraga Rekreasi Masyarakat Nasional (FORNAS) VIII  yang dilangsungkan sejak 26 Juli hingga 1 Agustus 2025 di Nusa Tenggara Barat kini kian disoroti publik. Publik Bumi Gora mulai tersadarkan bahwa ternyata kegiatan ini sangat menampar Lombok dengan sebutan pulau seribu masjid. Sorotan publik terkini  tertuju pada tampilan lomba pamer otot yang mempertontonkan aurat kewanitaan yang sangat dahsyat pada Senin (28/7/2025).

Screenshot dari tayangan akun Sadik Wadi

Terpantau diberbagai media sosial seperti Twitter, IG dan salah satu akun mencolok yakni bernama, Sadik Wadi, ketika MC di Raja Hotel Mandalika memanggil seorang wanita paruh baya asal Kalimantan Timur dengan penuh santai dan jalannya begitu menggoda mata melihatnya tampil dengan setengah telanjang berjalan lenggak lenggok diatas catwalk penuh gairah dibayangin tagline ngetrend Fornas “kalah menang semua senang”, wanita itu begitu ‘confidence’ sambil membuka membuka paha sekaligus pantatnya sembari tersenyum dan para juri pun tak banyak kata hanya terkejut seketika turut sumringah bahkan bisa bikin fikiran bisa traveling kemana-mana.

JejakNtb pun menyimak gesture-nya dalam video tersebut, peserta lomba bukan pamer otot lagi  yang rata-rata perempuan dengan pakaian sangat minim bahkan tidak sesuai syariat Islam tetapi sudah jual pesonanya apalagi tempat acaranya di Bumi patut patuh patju yang terkenal religiusitasnya dan menunjung tinggi kearifan lokal serta adat istiadat setempat.

Sejumlah intelektual, cendekia serta mantan aktivis menyoroti kegiatan binaraga ini melalui facebooknya masing-masing, salah satunya misalnya, Prof. Zainal Asikin SH., SU dirinya menulis postingan beberapa saat yang lalu dengan diksi yang ringkas dan penuh makna. ” Bagaimana kabar Fornas,” tulisnya sambil menyisipkan video di akunnya yang menggambarkan sejumlah wanita berjalan telanjang di Raja Hotel Mandalika, Lombok Tengah.

” Saya atas nama forum pondok pesantren tidak setuju dengan kegiatan yang umbar syahwat dan aurat karena tidak sesuai dengan ciri dan identitas lombok sebagai pulau seribu masjid dengan kesalehan sosialnya yang tinggi,” ucap Hj Masruri Aini salah satu anggota forum pondok pesantren pada media JejakNtb.

Mantan wakil ketua DPRD yang juga anggota legislatif Lotim ini melihat lomba binaraga dan fisik yang diikuti pria dan wanita sama-sama akan membawa ummat pada kemudharatan dan kesesatan yang nyata.

“Apa manfaatnya acara ini, kalau bukan untuk merusak nama baik Nusa Tenggara Barat,” tambahnya.

Senada dengan Zainal Asikin, Nurdin Ranggabarani pun mengkritisi kegiatan ini di akun facebooknya Ranggabarani dengan menuliskan status,” FORNAS hanya datang buang sampah di NTB” sontak postingan mantan aktivis Unram tahun 80-an hingga 90-an itu mengundang reaksi netizen.

Beragam tanggapan dan komentar serta like postview dari netizen yang sangat banyak dan membludak. Tanggapan dan komentar miring publik terhadap acara tersebut tak terbendung.

Tak ketinggalan seorang mantan wakil Gubernur NTB, Ir.Badrul Munir, MM pun membuat postingan yang sama,

“Dapat Undangan Pembukaan FORNAS VIII 2025, tapi waktunya Pukul 18.00 WITA. Kok mepet sekali dengan waktu Magrib ya.

Semoga FORNAS 2025 sukses berjalan baik dan lancar.” Unggahnya yang dilampirkan dengan bukti undangan istimewa yang berwarna gelap.

Sepertinya pak Badrul sudah bisa menebak pakai feeling bahwa acaranya bakalan ribut dan tidak berkah, dan faktanya event FORNAS bakal meninggalkan persoalan hukum dikemudian hari.

Sebelumnya acara tersebut menuai kritikan juga dari pimpinan organisasi media online dan lainnya. Mereka menyoroti cara Kadis Kominfo Nusa Tenggara Barat yang tidak cerdas dan obyektif dalam menerima masukan serta mengakomodir media terutama media lokal dalam turut serta berpartisipasi dalam proses tersebut padahal acara dibiayai dari anggaran negara yang bersumber dari pajak rakyat bukan event private atau event suka-suka yang dibiayai uang sekelompok orang.

Seremoni dan Venue Rp20 Miliar, Atlet Hanya Rp3 Miliar: Anggaran FORNAS NTB 2025 Disorot Tidak Masuk Akal!

Screenshot data anggaran yang bersumber dari media siarpost.com

 

Festival Olahraga RekreasiMasyarakat Nasional (FORNAS) VIII yang tengah berlangsung 26 hingga 1 Agustus 2025 di Nusa Tenggara Barat (NTB) 2025, ini sangat kontradiktif dan dianggap tak wajar serta menuai sorotan keras dari berbagai pihak bukan hanya mengumbar aurat dan syahwat namun juga anggaran yang diduga empuk untuk dikorup.

Pasalnya, alokasi anggaran sebesar Rp25 miliar dalam dokumen resmi Rencana Kegiatan dan Anggaran (RKA) dinilai sarat kejanggalan, tidak proporsional, dan minim asas efisiensi.

Angka tersebut bahkan lebih kecil dari rumor awal yang menyebutkan total anggaran menyentuh Rp28 miliar. Namun yang menjadi sorotan tajam adalah bagaimana dana sebesar itu dibelanjakan.

Venue dan seremoni pembukaan-penutupan menyedot hingga Rp20 miliar, sementara biaya untuk atlet dan kontingen NTB hanya Rp3 miliar.

Ini tidak masuk akal. Opening dan closing ceremony saja totalnya Rp8 miliar, sedangkan atlet yang berkompetisi justru cuma dapat Rp3 miliar. Venue milik pemerintah disewa, tapi banyak yang belum direhabilitasi dan pekerjanya belum dibayar,” tegas Lalu Haris Wink, Presiden Kasta NTB, kepada SIAR POST, Kamis (24/7/2025)

Dalam rincian dokumen yang diperoleh redaksi, terdapat angka mencolok seperti:

Sewa venue/area: Rp7,9 miliar

Look of The Game: Rp3,3 miliar

Honor wasit dan juri: Rp1,6 miliar

Opening Ceremony: Rp4,5 miliar

Closing Ceremony: Rp3,5 miliar

Anggaran itu dikucurkan meski lokasi seremoni disebut-sebut hanya akan berlangsung di Kantor Gubernur NTB, bangunan milik pemerintah sendiri.

Kritik juga datang dari aktivis Sumbawa Barat, Yuni Bourhany, yang menyoroti prioritas anggaran daerah.

Di Sumbawa, jalan rusak masih banyak. Daripada habiskan Rp25 miliar untuk event satu minggu, lebih baik benahi infrastruktur dasar yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat,” tegasnya.

Sementara itu, pihak Pemprov NTB membela diri. Gubernur NTB menyebut FORNAS akan mendongkrak ekonomi lokal melalui kunjungan 25 ribu peserta dan penyebaran kegiatan di 28 venue di Mataram, Lombok Barat, dan Lombok Tengah. Ia menjanjikan efek domino untuk sektor UMKM, transportasi, dan pariwisata.

Namun publik tetap menuntut transparansi. Banyak pihak mempertanyakan:

Siapa pihak yang terlibat dan diundang dalam seremoni Rp8 miliar?

Mengapa venue milik pemerintah tetap disewa dengan biaya tinggi?

Mengapa alokasi untuk kontingen NTB tidak masuk dalam RKA, dan hanya diakui secara lisan oleh panitia?

Mengapa tidak ada alokasi jelas untuk sektor pendidikan, perbaikan jalan, atau layanan dasar lainnya?

Ketiadaan rincian teknis soal pengamanan, pelibatan UMKM secara menyeluruh, serta output dari berbagai belanja non-fisik seperti Victory Ceremony atau Liaison Officer & Volunteer juga menimbulkan tanda tanya besar.

Kedepan, para aktivis, akademisi, dan publik berharap belanja publik seperti ini tidak hanya sebatas euforia seremoni, melainkan betul-betul berdampak langsung bagi masyarakat luas. Evaluasi dan audit terbuka terhadap pelaksanaan FORNAS 2025 kini menjadi tuntutan nyata.

Mudah-mudahan ini menjadi ikhtiar tulus kita dalam berusaha menduniakan NTB menjadi makmur mendunia sesuai dengan tagline pemimpin saat ini tentunya dengan cara-cara yang benar dan bermaslahat, NTB makmur mendunia itu harus digagas secara obyektif dan tidak mengubah mindset, jangan sampai suara rakyat dikhianati hanya karena hedonistik dan kapitalis yang masih mendera dan mengangkangi otak kita.

 

Redaksi __

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print
Scroll to Top