Hardiknas dan Warisan Rongsokan Bersejarah

Oleh. Nukman

(Walimurid yang prihatin)

 

 

OPINI, JEJAKNTB.COM | 2 Mei identik dengan Hari Pendidikan, Harinya Edukasi, Hari Besarnya Guru bahkan Hari Lebarannya Dunia Pendidikan. Pertanyaannya apakah hari ini pendidikan di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat selama dipimpin putra dan putri daerahnya keadaannya sudah membaik atau makin buruk?

Di usia kemerdekaan Indonesia yang sudah tujuh puluh sembilan tahun dan sebentar lagi akan merangkak naik menjadi delapan puluh tahun, dunia pendidikan kita harusnya sudah kinclong dan mentereng tapi itu hanyalah bulan dan khayalan semata bahkan OMON omon saja setiap tahunnya.

2 Mei 2025 yang jatuh pada hari Jum’at kali ini boleh dibilang spesial karena bertepatan dengan hari keberkahan ummat Islam, waktu dimana manusia diciptakan oleh Allah SWT dan ditiupkan ruh nya sejak dialam rahim hingga kini alhamdulilah masih diberikan kesempatan bernafas.

Ada beberapa ketimpangan yang ditinggalkan Bupati Ferry Zulkarnain dan Indah Damayanti selain terbakarnya Kantor Bupati di Jalan Gatot Subroto hingga Korupsi Masjid Agung, Kapal Fiberglass, Bibit Jagung, pembukaan lahan, tes CPNS, rekrutmen p3k, penipuan berkedok pendidikan tinggi hingga hancurnya moral anak bahkan guru bangsanya juga masih adanya bangunan pendidikan yang belum di tuntaskan hingga kini.

Saking baiknya masyarakat Bima, selama 20 tahun menikmati pembangunan seadanya dari almarhum bergulir ke istrinya bahkan nyaris ke anaknya.  Kita nrimo saja keadaan, orang Jawa mengatakan ewuh pakewuh , wong Bima terlalu baik. Selama itu, diduga konsep pendidikan juga ngawur tidak fokus dan salah urus. Sarjana Hukum bisa jadi Sekdis, Orang Ngurus KTP dan Kartu Keluarga bisa memimpin dinas guru bahkan perias pengantin bisa menjadi Kabid di dunia pendidikan. Ini sangat luar biasa ajaib’ dan anehnya.

Baca Juga

https://jejakntb.com/re-desain-sistem-pendidikan-indonesia-mulai-dari-mana-dan-berujung-ke-mana/

 

 

Sarana Prasarana Sekolah sudah banyak yang hancur tapi dapodik tidak berfungsi 

Di era modern yang serba digital pemerintah telah menyiapkan berbagai fitur dan layanan guna mengakomodir kebutuhan sekolah dan kantor, seperti dapodik, ruang gtk hingga ASN Digital. Maksudnya untuk mengefektifkan layanan dan data base entry segala yang dibutuhkan pendidik dan tenaga kependidikan.

Aplikasi tersebut belum terolah secara maksimal karena keterbatasan baik SDM maupun jaringan serta akses, Topografi Kabupaten Bima yang beraneka ragam sangat menyulitkan juga untuk diseragamkan kecepatan dan ketepatan visibilitas server nya.

Hasilnya sudah bisa ditebak akan banyak ajuan yang tertolak dan tertunda bahkan mengalami digital error.

Sekitar 50%  sarana Prasarana Sekolah khususnya tingkat Dasar dan Menengah (SD/MI), (SMP/MTs) di Kabupaten Bima saat ini dalam kondisi hancur dan tidak layak pakai, situasi ini berdasarkan survei internal penulis bersama stakeholder lainnya, keadaan tersebut terjadi sejak tahun 2017 – 2024.

Dana Alokasi Khusus (DAK) yang bersumber dari APBD baik murni maupun perubahan memang ada yang dikucurkan selama ini, namun sistem swakelola yang lemah pengawasan dan terkesan pembiaran bahkan konspirasi dinas dengan sekolah mengakibatkan perbaikan infrastruktur dan suprastruktur sekolah kurang memadai.

Rehab gedung sekolah dianggap proyek oleh sebagian guru dan kepala sekolah bahkan tak tanggung-tanggung banyak kepala sekolah mengerjakan sendiri fisik dan melupakan tugas pokoknya sebagai pendidik dan pembebas dari kebodohan malahan yang terjadi pembodohan dan penggelapan secara berjamaah.

 

Mindset Guru Kerap Keliru Menyikapi Figuritas Organisasi Profesi 

Perubahan dan revolusi mindset yang diharapkan dari pendidik saat ini sangatlah berat lebih lebih karena faktor usia dan internal turut memberikan kontribusi terhadap progres pendidikan di daerah

Selain cara berfikir skeptis dan pragmatis, guru kita terlalu capek berfikir dan terlalu cepat bosan merespons dinamika perkembangan perubahan jaman

Guru-guru SD/MI, SMP/MTs di Kabupaten Bima dengan jumlah sekolah hampir 8.000 ribu sekolah yang tersebar di 18 Kecamatan dominan masih takut dan nyaman berada di zona stagnan. Belum berani keluar zona nyaman, salah satu contoh yang memggelikan adalah case organisasi profesi nya yang menggelar konferensi untuk Pemilihan Ketua PGRI melalui Konferensi untuk periode 2025-2030 guna melanjutkan kepemimpinan Syafiullah benar-benar sejarah buruk bagi dunia pendidikan di Kabupaten Bima dimana Hj Ico Rahma yang notabene salah satu Kabid di Dikbudpora di setting up untuk mengendalikan guru Se Kabupaten padahal bukan guru dan secara hirarkis berada di jabatan struktural bertentangan dengan ad art organisasi, diduga juga dia tidak pernah membayar iuran anggota dan serta merta entah secara aklamasi atau emosi melenggang ke pucuk obor dan dilantik sehari sebelum hari pendidikan nasional.

Tidak ada yang disalahkan, yang fatal dan keliru adalah guru yang diam membisu, bungkam karena rasa takutnya sementara di sekolah tiap hari dia selalu mandi pagi dan berdiri di depan kelas muridnya mengajarkan kejujuran dan keobyektifitasan, namun apa daya ternyata guru dan pendidik kerap lupa bahwa dia sedang membohongi dirinya dan murid-muridnya.

Memilih figur yang hendak dijadikan panutan itu bukan sembarangan Bapak Ibu Guru yang terhormat tetapi harus melihat jejak rekam, track record nya. Kita jangan masa bodoh dengan keadaan tetapi ingat anak anak bangsa dan nasib pendidikan ada di tangan bapak ibu hari ini.

Coba buka kembali anggaran dasar dan tata tertib organisasi PGRI, disana lah arah dan kompas bapak ibu guru bersikap sebenarnya dan harus kritis mampu mencerna itu semua karena organisasi itu sebuah entitas yang memiliki kesamaan visi bukan kader dan figur boneka yang orientasinya abal-abal dan sesaat serta sesat dan menyesatkan.

Guru sering merasakan ketidakpastian nasib, ketidakadilan perlakuan bahkan dizalimi lalu pada siapa anda mengadu ? Iya pada pucuk pimpinan organisasi PGRI dong, nah sekarang pertanyaan penulis sudahkah sesuai dengan jiwa bapak ibu dan anggaran dasar organisasi nya hasil konferensi tersebut? Silakan jawab sendiri!

 

Baca Juga

https://jejakntb.com/memutus-mata-rantai-kemiskinan-pendidikan-bukan-jalan-keluar-tapi-jalan-naik/

 

 

Kepala Sekolah Banyak Ingkar dan Kufur terhadap amanah yang diemban

 

Sudah diangkat menjadi Kepala Sekolah masih juga belum fokus bahkan cenderung gagal fokus. Kepala Sekolah sebagai tugas tambahan dan tugas pokoknya sebagai pendidik dilupakan oleh para kepala sekolah. Ada oknum kepala sekolah jangankan memperbaiki sarana Prasarana di sekolah merawat aja yang ada tidak mampu. Contoh kasus potret SDN Doro O’o yang diviralkan akun Rini Cahyani, penulis kurang menguasai dimana letak sekolah itu, namun dipastikan sekolahnya berada di wilayah Kabupaten Bima.

Rini Cahyani bukan youtouber melainkan guru disana yang merasa gerah dengan keadaan di sekitar lalu dia menorehkan status Facebook

Kalau hujan begini ruangan kelas udah pasti tidak bisa dipake, mau ndak mau anak-anak harus diungsikan dan berhenti Belajar.. 

Sungguh memprihatinkan untuk SDN DORO O’O . 

Semoga ada perhatian, khusus dari pemerintah colek wau ku dou doho ma ngau ncau ke Imam AF Mona , kombi na karongga mpa ta dou ta ese. 🤲🤲🤲

 #SDNDOROOO

 #fyp

 #fbpro

 

Postingan tersebut jangan dianggap sepele, itu merupakan kegagalan dunia pendidikan di Kabupaten Bima hari ini. Kegagalan berjamaah yang dipimpin Kepala Dinas Dikbudpora, Korwil Pendidikan, Pengawas Sekolah, bahkan Kepala Sekolah dan Guru di era kepemimpinan Dinda Dahlan. Karena kurang ketatnya pengawasan dan sistem swakelola yang membiarkan sekolah mengerjakannya padahal tugas guru bukan kerja itu melainkan mendidik, melatih dan membimbing peserta didik hingga menjadi manusia seutuhnya.

Kasus unit sekolah yang rusak dan masih sangat rusak bukan saja disini, ini hanya sebuah contoh bahwa di tahun 2025 pun masih ada bangunan pendidikan yang timpang serta sangat tidak layak pakai. Selain itu, juga tak luput dari bencana alam seperti angin, curah hujan dan intensitas cahaya yang lancar menyebabkan berpengaruh besar pada kondisi fisiknya namun jangan menunggu anggaran yang mapan baru diperbaiki atau menunggu dulu korban jiwa dari anak anak bangsa melainkan panggilan moral guru dan kepsek nya dalam membenahi sarpras secara swadaya dan swakarya.

 

Rekrutmen dan Penjaringan SDM yang menyisakan persoalan

Di Kabupaten yang paling timur pulau Sumbawa ini terpantau ada persoalan yang ditinggalkan dalam rekrutmen tenaga pegawai pemerintah perjanjian kontrak (P3K) yang berjalan selama 5 tahun terakhir, ada polemik berkepanjangan bahkan oleh salah satu anggota dewan dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) diwacanakan ke pansus, namun gagasan alumnus terbaik Malang Jawa Timur itu ditolak mentah-mentah oleh Pimpinan DPRD Kabupaten Bima saat ini, Dita Prawitasari yang juga adik kandungnya mantan Bupati Bima dua periode Dinda Damayanti. Penolakan terhadap gagasan pansus P3K kian menimbulkan kecemburuan sosial yang tinggi bahkan bisa menjadi bom waktu dikemudian hari.

 

Baca Juga

https://jejakntb.com/komisi-i-dpr-ri-kritik-tajam-gubernur-ntb-terkait-tata-kelola-bank-ntb-syariah/

 

Tidak hanya itu, kebohongan dan kepalsuan merajalela di Kabupaten yang bermottokan ‘Ngaha labo Ngohi’ selama tes dilakukan. Sekda Adel pernah mengatakan bahwa urusan kelulusan dan penentuan hasil bukan urusan orang-orang daerah. Dia mengatakan tanggung jawab pusat. Setelah masalah terjadi dan bertubi-tubi barulah paman nya Bunda Ratu ini bingung bahkan sempat deadlock dengan sejumlah aktivis bahwa ternyata dominan penentu kebijakan dari seluruh prosesi itu adalah panselda. Pusat tidak punya kewenangan, dan kewenangan pusat hanya memfasilitasi secara digital teknis dan penempatan.

Semuanya ada pada panselda, siapakah panselda? Panselda itu terdiri dari Baperjakat termasuk Sekda dan kroninya. Keadaan ini diduga dibackup dengan penunjukan pejabat dan kepala BKD secara PLT agar memudahkan terjadinya sistem rantai putus yang ujungnya menghasilkan produk palsu dan hilangnya jejak rekam mal admin.

Akankah Adi Mahyudi-Irfan Zahidi yang baru saja dilantik di Istana negara lalu diretret secara militer di Magelang oleh Jenderal Prabowo benar-benar akan membawa perubahan???? Ataukah perubahan yang didengungkan sebatas OMON omon juga,,, wallaaahuallam bishawab????? Kita belum tahu pasti, sebab waktu yang akan menjawabnya kita lihat saja bagaimana konsep bima bermartabat dan perubahan yang hendak dilakukan beliau berdua

 

 

Bersambung…..

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print
Scroll to Top