Dewi Ratna Nurmuchlisa Mandyara, SE., M.Hum ( Ketua Museum.Samparaja Bima) dan Muhammad Firdaus Oiwobbo, S.H. ( Panglima Salatin Alif Muhammad Syah). FOTO. ISTIMEWA
JejakNTB.com, BIMA |Pengacara Persatuan Dukun, Muhammad Firdaus Oiwobo, SH, mendadak viral dan ramai dibahas lantaran mengaku dan mengklaim dirinya sebagai keturunan Kesultanan Bima atau tepatnya cicit dari salah seorang Sultan Bima, bernama Sultan Ismail.
Firdaus di group Sahabat Budaya pun sesumbar dengan mengatakan bahwa malam ini Sabtu 17 September 2022 akan menggelar kegiatan zoom meeting namun sayang rencananya tersebut tanpa link zoom sebagaimana biasa dilakukan semua orang harus ada hal itu namun beda dengan acara yang akan digelarnya ini benar benar sangat rahasia.

Malam ini kami akan adakan Zoom bersama majelis salatin Asyirof azahro dan para sultan asli yang tergabung dalam majelis salatin asyirof azahro, dan dalam Zoom ini kami persilahkan beberapa tokoh pemuda dan budaya mengikuti” pokok pembahasan nya adalah jawaban majelis salatin asyirof azahro atas tuduhan miring terhadap panglima salatin (Muhamad Firdaus Oiwobo SH) yang bergelar Alif Muhamad Syah (cucu kandung putra mahkota bima dari sultan Ismail Muhamad syah). Zoom ini akan di share sebentar lagi, dan akan di mulai pukul 18. 30 WIB malam ini
Zoom insya Allah akan di pimpin oleh ketua umum majelis salatin Yang Mulia sultan DR. syarif Andi Syahriansyah Alwi Assyathiri La Temmu page Arung Paroto,
Di hadiri oleh beberapa sultan diantaranya yang MULIA :
1. Sultan Fuad BaraQbah ( Zambi )
2.DR.Can Hamdani Al Kaff, SH, MH ( cucu Mukti kesultanan Banjar Kalimantan)
3.Andi Muis Petta Serang ( cucu Sultan Tallo) Sulawesi selatan.
4. Sultan Sepuh jaenudin II Arianatareja ( Pangeran Kuda Putih ) Cirebon / kuningan
5. Prof. DR. Yusdi Andra ( ahli sejarah) dan sultan serta juriat lainnya
Dan para tokoh adat budaya dan mahasiswa akan hadir di Zoom ini
Acara ini akan di pandu oleh moderator artis Sandy Tumiwa, SH
Trima kasih sebelumnya
Kami ucapkan terima kasih
Panitia Zoom
Zoom ini akan di rekam dan disiarkan Oleh Intelmedia (PT BIMA ARTHA KUMALA GEMILANG )
Merasa sebagai keturunan Sultan, Firdaus pun menyatakan keseriusannya untuk menggelar acara bertajuk menggugat sejarah tersebut
Insya Allah serius, karna sejarah buyut saya yang pertama kali membawa Islam ke pulau Sumbawa dan NTT nggak tertulis mungkin, makanya akan saya kupas berdasarkan data yang saya bisa pertanggung jawabkan, Buyut saya membangun kerajaan Islam pertama di Donggo besar bernama Raja Saja yang bergelar Sajari satu atau Sajapai,” ungkapnya.
Masih Firdaus dalam perdebatan group pria yang mengaku orang Bima ini menimpali bahwa Kerajaan Islam pertama masuk tahun 1300 an bersamaan dengan terbentuknya kerajaan mbojo, selain itu dia juga mengaku
Pusat kerajaan Islam pertama di tanah Sumbawa adalah di Maria dengan masjid pertamanya yang terletak di kalodu, Panglima perang kerajaan raja saja berjuluk la Reba dengan pasukanya yang berjuluk pasapu kala, termasuk buyut saya yang mengislamkan raja Bima pertama yang masuk Islam sejak abad 16, Saya memang lahir di Jakarta namun karena kecintaan saya kepada Bima dan Dompu makannya saya cari sejarah itu sejak belasan tahun lalu, Harusnya saya yang buta sejarah ini di jelaskan oleh keluarga Sultan yang merasa sudah benar sejarahnya, Jangan malah saya di bully, ketidaktahuan saya beralasan jika saja ingin dibantah.alasan kongkritnya adalah saya lahir di Jakarta dan besar di jakarta. Dan saya hanya anak manusia yg bangga kepada kampung halaman bapak dan ibu saya, Banyak orang Bima malah ngga mau ngaku orang Bima ketika merantau.dan ini sangat menyedihkan,” tulis Daus dalam Group Whatsapp tersebut.
“Sejarah Bima saya gali dari para kerabat kesultanan Nusantara dan dari bukti empiris yang keluarga saya di Bima miliki,” tulisnya lagi
Ketika ditanya media, apakah anda tidak takut dituntut balik Kerukunan Bima? Dengan entengnya lalu dia menulis lagi
“Kenapa di tuntut khan saya hanya menceritakan sejarah keluarga saya, Dan ngga ada niat saya untuk menjadi sultan di asi mbojo, lalu juga ngga ada niat saya mencalonkan diri sebagai kontestan politik di Bima Lalu apa urusannya dengan saya menjelaskan nasab saya, apa salah, Justru yg saya sayangkan kenapa Dewi menegur saya melalui media sosial, Kenapa nggak ke lembaga adat kami di wawo, Ngga mungkin saya cerita kalau ga berbasis kan data. “Alibinya lagi dalam tulisan akun.
Menanggapi hal itu, salah seorang cucu terakhir Sultan Bima, M. Salahuddin yang juga Anggota Majelis Adat Kesultanan Bima, Ratna Muchlisa Dewi menegaskan sosok pengacara dukun bernama Firdaus bukan bagian atau tidak termasuk dalam anggota keluarga Kesultanan Bima.
Dewi pun tak gentar dengan niat Firdaus menggelar acara apapun hanya untuk menguatkan kesaksian palsunya tersebut,
” Itu semua palsu dan itu bukan grup raja sultan asli, data nya mana???, naskahnya mana yg menceritakn hal itu serta rujukan refernsi apa, bantah Dewi.
“Dalam tesis saya puluhan tahun lalu mengenai Sultan Ismail, tidak dikenal nama Firdaus ini, dan kami tegaskan Firdaus bukan anggota dari keluarga kami (kesultanan.red),” katanya, Sabtu, 17 September 2022 melalui Whatsapp pribadinya.
Penegasan itu juga diperkuat dalam naskah-naskah Kesultanan Bima yang tercatat, seperti kitab sangaji BO yang saat ini masih disimpan dalam Museum Samparaja, Museum yang menyimpan naskah dan catatan. Dari semua catatan yang ada termasuk daftar silsilah keluarga seperti anak, cucu, istri hingga selir (gundik) semua Sultan akan tertulis.
“Semuanya akan tercatat, tapi nama Firdaus ini tidak ada. Dalam catatan sejarah dan silsilah sama sekali tidak ada,” kata Ratna yang juga Kepala Mesuem Samparaja Bima ini.
Disamping itu, Ratna juga ingin meluruskan pernyataan Firdaus yang tidak sesuai dengan fakta-fakta sejarah yang tertulis. Misalnya Sultan Ismail di kuburkan di Wawo, namun faktanya dimakamkan di Pemakaman keluarga Kesultanan yang berada di Sigi Kelurahan Paruga.
Selain itu, pada zaman Sultan Ismail juga tidak terjadi peperangan dengan penjajah Belanda. Karena saat itu Kesultanan Bima dengan Belanda hanya menjalin hubungan dagang. Sementara peperangan terjadi saat zaman Sultan Nuruddin.
“Kami ingin meluruskan agar tidak berkembang dan melenceng kemana-mana. Karena pernyataan tidak sesuai dan mengaburkan sejarah. Kalaupun benar, kenapa baru sekarang dan kenapa tidak dari dulu,” katanya.
Ia menambahkan terkait pernyataan Firdaus itu, dirinya juga banyak mendapatkan pertanyaan dari Raja dan Sultan se Nusantara seperti Forum Komunikasi dan Informasi Keraton Nusantara (FKIKN) yang terdiri dari 48 Kerajaan dan Kesultanan yang ada di Nusantara setiap tahun menggelar Festival Keraton.
“Para Raja dan Sultan se Nusantara juga menanyakan tentang sosok Firdaus ini dan kami jawab tidak mengenalnya,” katanya.
Disamping itu Ratna menambahkan pihaknya kedepan akan membahas bersama dengan pihak Kesultanan Bima terkait langkah selanjutnya, apakah akan melakukan upaya hukum terkait pernyataan Firdaus tersebut. (Nkm)




















