Kolom Khusus
*Oleh. Obima Mapparange Saronggie
JejakNTB.com, MATARAM| OPINI TENTANG BIMA|Saya angkat topik dengan YM “Sultan” Firdaus Oi Wobo. Dia berani, cerdas dan tanpa tedeng aling aling, Coba dia lebih sistematis sedikit caranya, dia akan libas rezim simulakra feodal sekarang dengan priyayi Rasane sebagai sentrummya. Dan pendekatannya juga pendekatan silsilah karena silsilah Kerajaan Bima merupakan campuran ajaib antara FAKTA dan MITOS.
Makanya kalau pendekatannya pada silsilah, akan ketemu jalan buntu,
Meneer Zollinger, yang pakar saja bilang, “Sejarah Bima tidak langsung sampai ke sejarah yang benar. Bidangnya terbatas pada masa dongeng dan dicampurkan secara hebat tradisi tradisi yang berasal dari berbagai zaman dan beraneka ragam sumber” (Henri Chambert-Loir/2004 pada buku Kerajaan Bima dalam Sastra dan Sejarah).
Loir juga berkata soal silsilah, “Nama Adam dan lain lainnya yang sejenis jelas memperlihatkan tradisi Islam, sedangkan nama Ardjoena, Bima, Indra, Batara serta lainnya mencerminkan pengaruh Hindu atau Jawa.”
Pakar sekaliber Zollinger saja bingung apalagi kita.
Semakin gelap sejarah Bima karena didesain sebagai sejarah kekuasaan yang direkayasa secara massive oleh sejumlah oknum yang mengaku entitas priyayi dan bangsawan Rasanae masa lalu. Nah sejarah yang pingsan ini direproduksi oleh mendiang Dr Hj St Maryam R. Salahudfin, , M. Hilir Ismail beserta lainnya hingga Alan Malingi kini.
Rantai kesalahan pun menahun. Mereka bersandar pada buku Bo yang mereka anggap layaknya sebuah “kitab suci” sejarah. Padahal Bo bukan naskah sejarah akan tetapi buku dongeng priyayi Rasanae yang berisi tahayul bidah khurafat dan sebagian sejarah narrative fiktif. Makin enggak jelas sejarah itu setelah dimunculkan jabatan dan piranti perangkat aneh di luar sistem seperti Sultan ke-16, jenateke dan pangeran saat ini.
Mana rakyat mereka, wilayah kerajaannya dan pemerintahan berdaulat sebagai unsur negara berdaulat menurut Hobbes dan Montesqiuieu. Padahal Kerajaan telah musnah berdasarkan legal standing yuridis akurat UU NIT No. 1 Tahun 1950.
Terus mereka raja, pangeran dan jenateke kerajaan mana? Dan dasar hukum serta legal standing yang mana??
Moral dari tulisan ini bisa jadi YM SULTAN FIRDAUS merupakan secarik sinar di ujung terowongan sejarah Bima yang gelap gulita. Maka pesannya: jangan mudah, menuduh, merendahkan, menganggap kelas dua dan nista serta sampah orang lain, melihatnya sebagai cacing dan berdarah merah, kampungan layaknya ada ro ela maupun hingar bingar tetuah hulu balang.
YM SULTAN MUHAMMAD FIRDAUS OI WOBO tumbangkan rezim oligarki sekarang yang berlindung di balik silsilah, Bo dan bekas istana.
Itu aja kok repot!
* penulis adalah activist and NGo stay at Lombok West Nusa Tenggara.




















