Event Olahraga Internasional Asian Games Awal Kebangkitan Negara Berkembang (Semi Periferi) Menjadi Negara Maju (Core)

Penulis : ANANG FAKHRURRAHMAN, ELSA RUSMAYANTI, FAROUQ , I MADE YUDHA ARSANA , WAHYU ZEPRIA SASAKI, YASMIN MAULANI , ABRAMO FADILLAH

 

 

JejakNTB.com ,- Dinamika olahraga dalam dunia politik Internasional sudah berlangsung sangat lama, bahkan sudah terjadi sejak perang dunia pertama dan perang dunia kedua berlangsung. Penyelenggaraan event olahraga kala itu masih dibalut dengan kepentingan politik para elite dan penguasa negara. Para penguasa negara menganggap bahwa olahraga dapat digunakan sebagai sebuah instrumen untuk memperoleh apa yang menjadi kepentingannya.

Hingga sampai saat ini seluruh negara baik negara maju (Core) maupun negara berkembang (Semi periferi) menggunakan olahraga melalui event Internasional untuk mempromosikan negaranya masing-masing. Dengan demikian negara akan memperoleh keuntungan yang memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi. Penyelenggaraan event olahraga seperti Asian Games memberikan pengaruh positif bagi sektor perekonomian. Pengaruh tersebut dapat hadir dalam jangka panjang maupun jangka pendek.

Dalam jangka panjang Asian Games mampu menarik dan mendorong investasi asing masuk kedalam perekonomian negara sehingga dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Kemudian dalam jangka pendek Asian Games berpotensi membuka peluang usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), memperluas penyerapan tenaga kerja, membuka lapangan pekerjaan baru, dan mempromosikan sektor pariwisata.  Alhasil pertumbuhan ekonomi suatu negara akan meningkat seiring dengan berjalannya event olahraga tersebut.

Pertumbuhan ekonomi biasanya akan meningkat secara signifikan di negara yang menjadi tuan rumah atau penyelenggara sebuah event Internasional seperti Asian Games.  Seperti halnya yang dialami oleh Korea Selatan, dimana Korea Selatan sebagai tuan rumah Asian Games Ke 10 pada tahun 1986 , kemudian menjadi penyelenggara Olimpiade Musim Panas Ke 24 atau Games of the XXIV Olympiade Seoul 1998 , Lalu kembali menjadi tuan rumah Asian Games Ke 14 pada tahun 2002 dan Asian Games Ke 17 pada tahun 2014 dapat dikatakan  berhasil menyelenggarakan event  tersebut dan akhirnya meningkatkan perekonomian mereka dari ekonomi kelas menengah pada tahun 1986 melonjak menjadi ekonomi maju.

Korea Selatan menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia sejak tahun 1986. Peningkatan ekonomi Korea Selatan yang signifikan berhasil merubah status Korea Selatan dari negara semi periferi menjadi negara inti. Keputusan perubahan status Korea Selatan dilaksanakan melalui Konferensi Perserikatan bangsa-bangsa (PBB) mengenai Perdagangan dan Pembangunan atau United Nation Conference on Trade and Development (UNCTAD) Ke 68 di Janewa, Swiss pada tahun 2021.

Asian Games memberikan kesempatan bagi Korea Selatan untuk meningkatkan kelasnya. Berbagai upaya diplomasi dan peningkatan sektor Industri domestik yang dilakukan Korea Selatan berhasil membawa dampak yang signifikan bagi perekonomian negaranya. Hal tersebut menjadi sebuah motivasi bagi negara berkembang lainnya untuk  memanfaatkan event olahraga Internasional sebagai sebuah instrumen dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. Oleh karena itu tidak mengherankan banyak negara berkompetisi menjadi tuan rumah Asian Games.

Pada tahun 2018 Indonesia terpilih menjadi tuan rumah penyelenggara Asian Games Ke 18. Sebagai tuan rumah, secara umum persiapan yang dilakukan oleh Indonesia direalisasikan dalam dua pola, yakni persiapan secara Internal dan persiapan secara eksternal. Secara internal, Indonesia berupaya untuk meningkatkan berbagai aspek untuk menyukseskan event tersebut mulai dari peningkatan infrastruktur, sarana pra sarana, kemudian membuka hubungan kerjasama dengan perusahaan swasta, perusahaan asing dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Hal tersebut dilakukan agar citra Indonesia di mata dunia semakin meningkat dan akan membawa pengaruh baik bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Kemudian secara eksternal Indonesia berupaya menjalin hubungan kerjasama dengan mitra dari negara lain untuk menarik investasi dan tekhnologi masuk kedalam negara. Dalam hal ini Indonesia memilih untuk melakukan kerjasama dengan Korea Selatan sebagai bentuk persiapan Asian Games 2018. Indonesia dan Korea Selatan memiliki hubungan yang dekat dan kedua negara tersebut telah menjalin hubungan diplomatik pada tahun 1973.

Sebagai negara semi periferi, Indonesia memiliki ketergantungan terhadap Korea Selatan sebagai penyedia modal dan tekhnologi untuk menyukseskan Asian Games 2018. Indonesia membutuhkan tekhnologi yang mumpuni dan berstandar Internasional untuk menciptakan sistem yang terintegrasi dengan baik.

Dalam hal ini Indonesia melalui Indonesia Asian Games 2018 Organizing Committe (INASGOC) melakukan kerjasama dengan perusahaan tekhnologi Korea Selatan yakni Ssangyong Information and Communication Corporation (SSIC) untuk mengelola tekhnologi informasi. Indonesia meyakini bahwa mempersiapkan segala hal dengan baik akan berimbas pada keberhasilan Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018. Asian Games 2018 diselenggarakan di dua tempat yakni Jakarta dan Palembang.  Jakarta pada triwulan II tahun 2018  mengalami peningkatan pendapatan dan investasi yang mencapai Rp.29,9 triliun atau 20,6 persen. Jika dibandingkan pada tahun 2017 peningkatan investasi Jakarta hanya mencapai 24,8 triliun.

Tidak hanya investasi dan aliran modal dalam negeri saja yang mengalami peningkatan melainkan UMKM dan ketenagakerjaan mengalami hal serupa. Penyelenggaraan Asian Games mampu mendongkrak omzet UMKM hingga 300 persen atau 3 kali lipat, terutama bagi UMKM makanan dan minuman. Hal ini juga memicu munculnya UMKM baru di wilayah penggelaran event tersebut. Pemerintah Jakarta melibatkan 20 ribu UMKM dengan tujuan untuk mendorong sektor usaha kecil agar mampu berkompetisi dengan usaha besar. Sedangkan di wilayah Palembang, Sumatra Selatan indikator peningkatan ekonomi regionalnya dapat dilihat melalui sektor pariwisata, dimana  lonjakan jumlah penerbangan menuju Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II meningkat saat berlangsungnya Asian Games.

Selain itu pemerintah provinsi Sumatra Selatan menunjukan adanya peningkatan ekspor pangan khas pempek, kain songket  suvenir resmi dan pernak Pernik lainnya. Selama penggelaran Asian Games jumlah lapangan kerja yang tercipta dari awal persiapan hingga berakhirnya event tersebut mencapai 57 ribu orang. Alhasil wilayah Palembang mengalami peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebanyak 0,47 persen atau setara dengan Rp.1,4 triliun. Sedangkan wilayah Jakarta mengalami  peningkatan PDRB sebesar 0,34 persen atau setara dengan Rp.6 triliun pada tahun 2018.

Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan ekonomi Indonesia yang cukup signifikan, baik itu sejak awal persiapan Asian Games hingga selesainya event tersebut. Oleh karena itu event olahraga Internasional dapat menjadi peluang bagi tuan rumah terutama Indonesia untuk meningkatkan perekonomian negara dan Jika Indonesia tetap konsisten meningkatkan pertumbuhan ekonomi maka bukan tidak mungkin untuk mengubah status dari negara berkembang menjadi negara maju seperti halnya Korea Selatan.

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print
Scroll to Top
Scroll to Top