Dae Yandi Masih DiIdolakan dan Diyakini Punya Privilege

KABUPATEN BIMA, JejakNTB| Menguatnya arus dukungan rakyat kepada Putra Bupati Bima, atas diri Muhammad Putera Ferriyandi, S.IP dengan dibuktikan penancapan baliho dan spanduk secara swadaya untuk berkompetisi di Pilkada Kabupaten Bima bukan baru terjadi sekarang dan bukan tiba saat tiba akal serta bukan dinasti.

Pilkada Kabupaten Bima serentak akan digelar 11 November mendatang dengan juklaknya KPU yang sudah digariskan mengacu ketentuan termasuk juga bagian mengawasi jalannya Pilkada yakni Bawaslu.

Ketua Yayasan Bina Massa Cendekia Kabupaten Bima, Nukman melihat nya dengan fakta di lapangan bahwa yang terjadi di Kabupaten Bima saat ini bukan dinasti dan bukan tiba saat tiba akal melainkan kesadaran sendiri warga

“Warga sangat menyukai keturunan ini mengingat jasa-jasanya tak bisa terbalas dengan materi dan apapun,”ucapnya

Dia menambahkan bahwa aksi mendukung figuritas Muhammad Putera Ferriyandi SIP karena teringat almarhum mendiang Haji Muhammad Ferry Zulkarnain ST dimana sosok Sultan Bima ke-19 itu menyerupai karakter sulungnya yang kini menjabat ketua DPRD kabupaten Bima dua periode.

Usia Muhammad Putera Ferriyandi SIP masih tergolong sangat muda dan bahkan menurut saya Dae Yandi mewakili anak muda di Pulau Sumbawa mampu berikhtiar untuk kemaslahatan. Berifikir untuk orang banyak dan berbuat untuk semuanya.

“Enggak ada dinasti, nggak ada politik suggesti atau black campaign atau money politics,, tahu nggak anda apa definisi dinasti itu,”terangnya.

Justru warga buat sendiri spanduk baliho dll itu karena tanda kecintaan pada sejumlah Sultan termasuk ayahnya mengingat Bima terutama kabupaten sangat kental sejarahnya

Ketika dimintai tanggapan terkait majunya sementara masih menjabat dan terpilih menjadi anggota DPRD yang kedua kalinya Nukman justru melihatnya sebagai hal yang lumrah

” Sepanjang di internal partainya yakni Golkar merekomendasikan gak jadi masalah, dan sepanjang tidak melabrak aturan yang ada, silakan aja,”paparnya

Nukman malah mengapresiasi langkah politik itu sebagai sebuah takdir dan keniscayaan

“Suara rakyat suara tuhan (Vox Populi, Vox Dei) rakyat pilih dia secara tulus ikhlas apa itu bisa dikatakan money politics? Rakyat naikkan sendiri tanda gambar tanpa dibiayai calon apa bisa dibilang curi star?, hemat saya itulah legacy dan privilege yang ada pada figuritas Muhammad Putera Ferriyandi tersebut.,”ungkapnya

Untuk diketahui, Muhammad Putera Ferriyandi di usianya yang masih sangat muda ini selalu unggul dan meraup suara terbanyak di Jajaran Partai Golkar, di Pileg 2019 dan di pileg 2024 suaranya masih dominan dan tidak terkalahkan.

 

Pewarta . Yadin

Editor. Abdul Makruf

 

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print
Scroll to Top
Scroll to Top