Compo Sampari dan Manfaatnya Untuk Generasi

COMPO SAMPARI DAN MANFAATNYA UNTUK GENERASI

 

*Oleh. Ferdiansyah Fajar Islam, ST

 

JejakNTB.com, BIMA | Kebudayaan adalah cerminan jatidiri, sehingga perlu secara terus menerus untuk tetap dilindungi, dikembangkan dan dilestarikan hingga akhirnya memiliki nilai manfaat yang berkesinambungan bagi seluruh masyarakat Bima. Upacara Daur Hidup menjadi bagian dari kebudayaan yang mencerminkan tiga fase penting dalam kehidupan, yaitu kelahiran, perkawinan, dan kematian.

Majelis adat Syara’ Dana Mbojo menyelenggarakan prosesi Suna Ra Ndoso bagi Muhammad Putera Pratama putera kedua Sultan H. Ferry Zulkarnain, ST (Alm) dan Hj. Indah Dhamayanti Putri, SE. Muhammad Naufal Haydar putra Bapak Ardhy Ekapathi, SE.,MM serta Muhammad Athala Zulkarnain putra Bapak Tajul Sirajuddin, SE yang dilaksanakan Sabtu, (1/10/2022) siang, bertempat di Museum ASI Mbojo. Puncak dari rangkaian kegiatan adalah prosesi Compo Sampari.

Prosesi Compo Sampari (pemasangan Keris khas Mbojo) dilakukan oleh tetua adat. Compo Sampari bermakna menanamkan keberanian kepada anak lelaki yang akan dikhitan. Sehingga kelak, anak lelaki tersebut menjadi seorang pemberani yang akan membela agama, bangsa dan negara.
Sampari yang dipasangkan, merupakan senjata dalam mempertahankan kebesaran agama, bangsa dan negara.

Prosesi Compo sampari dilakukan oleh Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, anwar Usman, Walikota Bima, H. Muhammad Lutfi, SE dan Putera Sultan Abdul Kahir II (Ruma Ma Busi Ro Mawo) – Ferdiansyah Fajar Islam, ST (Ama Ka’u Ade).
—–

Facebook
Twitter
Email
WhatsApp

Berita Terbaru

Scroll to Top