Andi Sirajudin Bantah Penetapan statusnya Tersangka dan Menurutnya Cacat secara Hukum

Andi Sirajudin Mantan Kadis Sosial yang kini tengah menjabat Asisten III  Pemkab Bima, Foto : Dok pribadi.

 

JejakNTB.com,- Mantan Kadis Sosial sekaligus Asisten III Bupati Bima buka suara beri tanggapan terhadap penetapan dirinya sebagai tersangka kasus Bantuan Sosial kebakaran.

Mantan Kadis Sosial Kabupaten Bima Andi Sirajuddin akhirnya resmi ditetapkan sebagai tersangka terkait kasus korupsi dana bantuan sosial pembangunan rumah korban kebakaran di sejumlah Kecamatan dalam wilayah hukum Kabupaten Bima dengan total anggaran sebesar Rp 2,3 miliar di tahun anggaran 2020 2021.

Penetapan status tersangka terhadap pejabat struktural birokrasi tersebut disampaikan salah seorang jaksa di Kejaksaan Negeri Raba Bima pada Jumat (1/4/2022), Sahrul Rahman SH selaku Kasi Pidsus mewakili Kejaksaan Negeri Bima sempat mengumumkan perihal tersebut dihadapan para pengunjuk rasa yang terhimpun dalam Aliansi Rakyat Menuntut Keadilan terkait kasus Bansos,

” Kasus Bansos sudah lama kami tangani dan sebelumnya telah menetapkan dua tersangka dalam kasus penyalahgunaan bansos tersebut dan beberapa waktu lalu kami juga menetapkan satu tersangka tambahan yaitu berinisial AS selaku kuasa pengguna anggaran (KPA),” ungkap Sahrul Rahman SH selaku Jaksa Pidana Khusus Tindak Pidana Korupsi yang menyambut para pendemo tersebut,

Sahrul Rahman juga mengakui bahwa Andi Sirajudin sebelumnya sempat mampir dari panggilan penyidik Kejaksaan ketika hendak diperiksa sebagai tersangka.

” Yang jelas dalam kasus dugaan korupsi pada Bansos Kabupaten Bima telah ditetapkan tiga tersangka termasuk mantan Kadis Sosial Andi Sirajudin,”akuinya.

Namun disaat awal mencuatnya kasus dugaan korupsi tersebut pada Oktober 2021, Andi Sirajudin sempat membantah keras keterlibatannya.

” Intinya, saya tidak tahu menahu akan adanya pemotongan dana bantuan tersebut, mengingat bansos ini sistem pencairannya langsung ke rekening warga penerima manfaat,” tegas Andi.

Selain itu beberapa baeahannya juga pernah dipanggil untuk diperiksa kejaksaan diantaranya mantan Kabid Jaminan Sosial dan enam orang pendamping lainnya,

” Pak Ismun ( Mantan kabid jamsos) dan enam pendaming lainnya telah diperiksa dakam kasus ini karrna mereka yang bertanggungjawab pada pengawasan bantuan itu,” papar Andi.

Andi menduga pemotongan itu bukan dilakukan pihak dinsos tetapi oleh oknum Kepala Desa bahkan beberapa waktu lalu Andi mengaku pernah ditelepon salah satu Kades di Kabupaten Bima,

” Iya dia telepon, niatnya ingin memberikan uang srbanyak 18 jt krpada saya namun saya tolak, trgasnya.

Dia mengaku telah mengarahkan kades itu untuk melanjutkan pembicaraan dengan terduga lainnya,”saya tidak tahu menahu uang itu darimana kalau mau tahu tanya ke kades itu, sarannya pada saat itu.

Andi Sirajudin menegaskan penetaoan tersangka atas dirinya prematur atau cacat secara hukum tidak memiliki landasan hukum yang kuat, Andi turut pula mempertanyakan cara kerja pihak Kejaksaan Negeri Raba Bima.

Andi mengaku keberatan atas penetapan tersebut dan akan melakukan langkah langkah hukum selanjutnya yang tepat dan sangat terukur pula guna memulihkan nama baiknya,

” Saya keberatan atas penetapan ini,”ungkapnya

Menurut Andi dakam program bansis pembangunan rumah di kabupaten bima ia bukan sebagai KPA. Dijelaskannya, program tahun anggaran 2020-2021 langsung dari APBN ousat ke rekwning masing 0enerima manfaat.

” Kami hanya menyesuaikan administrasi saja, dana itu masuk langsung ke rekening penerima, saya bukan KPA kok ditetapkan sebagai tersangka?.” tutur Andi.

Masih Andi,”kejaksaan tidak boleh sembarangan menetapkan warga negara srbagai tersangka tanpa melakukan pendalaman atas sebuah persoalan , saya bukan KPA dari kasus yang disidik kejaksaan,”.

Terkait dirinya mangkir dari panggilan Kejaksaan dirinya membantah keras,

” Justru saya dua kali hadir dari empat panggilan sejak tahun 2022 ini, itupun panggilan sebagai saksi sebelum penetapan tersangka SK dan IS.

Lanjutnya, pertama dirinya tidak bisa hadir maret lalu lantaran ada kegiatan dinas di Jakarta, dan panggilan penyidik untuk Jumat (1/3) kemarin ia pun tidak bisa hadir pagi harinya karena saat itu lagi bersama Danrem yang datang melakukan peresmian Masjid Agung Kabupaten Bima di Godo.

” Dari dua panggilan itu, saya tetap melakukan komunikasi via seluler dengan Kasi Intel Kejaksaan dan Kasi Pidsus , harusnya setelah jumat saya hadir, tetapi karena hipertensi saya naik, saya sedang berobat ke dokter , itupun sudah saya sampaikan kepada para pejabat di Kejaksaan Negeri Raba,”tutupnya. (TIM).

 

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print
Scroll to Top
Scroll to Top