FOTO. Ilustrasi mesin pemanen padi (combine harvester) yang meninggalkan petani padahal saat panen
JejakNTB.com |Hendak memanfaatkan mesin pemanen padi (combine harvester) untuk memanen hasil keringatnya di sawah, Kamis 28 Maret 2024 sejumlah petani malah diperlakukan semena mena oleh para pemilik mesin pemanen padi (combine harvester) di lokasi So Tolo Dena.
Mesin teraebut pantauan lokasi meninggalkan sawah yang masih berisi gabah dan membuat para petani bingung kemana hendak mengadu nasibnya dalam menghimpun hasil jerih payahnya, sejumlah pemilik nya saat dikonfirmasi memilih memghindar dan bungkam.
Penggunaan mesin pemanen padi (combine harvester) di Desa Dena Kecamatan Madapangga Kabupaten Bima sudah lama bahkan sejak beberapa tahun lalu namun fakta panen di tahun 2024 para petani disengsarakan oleh ulah pemilik mesin pemotong padi milik oknum tengkulak luar desa. Pemanfaatan mesin tersebut oleh mereka dirasakan cukup membantu selain meringankan petani juga solusi ditengah cuaca yang tidak menentu karena termasuk pemanfaatan tekhnologi moderen yang bisa mengefektifkan waktu memanen dan bercocok tanam sehingga maksimal produksinya.
Salah satu petani bernama Muhlis (50) asal Desa Dena di So Nocu Wadu mengaku sangat kecewa dengan sikap pemerintah Desa yang kurang tanggap terhadap kebutuhan para petani termasuk membiarkan para pemilik mesin pemanen padi (combine harvester) bersikap tidak adil dalam mengoperasikan alatnya di lahan para petani
” idealnya kegiatan panen ini ada yang mengkoordinir dengan baik terutama dari pihak Dinas dan Pemerintah Kecamatan hingga Desa bahkan Dusun,” bebernya pada jejakntb.com , jumat 29 Maret 2024.
Masih dia, tokoh pemuda ini melihat cara pemilik mesin yang sangaat menghina para petani padahal keadaan nya sangat ready untuk melanjutkan kegiatan memproduksi gabah kering
” Lain kali kades harus selektif memberikan izin masuk bagi mereka sebab kalau sudah begini kamilah yang menjadi korban, kok bisa petani dihina oleh oknum dan tengkulak. Dimana hatinya pemilik kendaraan , tambahnya
Muhlis melihat kegiatan panen petani So Tolo Dena Amburadul dan sangat berantakan,
“Ada perlakuan diskriminatif oleh pemilik mesin tersebut dan dia hanya mau memotong padi petani yang menjual gabahnya ke tengkulak dan dalam jumlah besar petaknya selain itu sikapnya sangat kasar dan kurangajar,” ungkapnya
Seharusnya mesin jika sudah masuk kawasan pekerjaan tidak boleh plin plan dan setengah hati karena ini menyangkut kepercayaan dan jika sudah mengabaikan petani baiknya jangan dipakai lagi kedepannya
“Mesin itu harus bertanggungjawab atas rusaknya jalan tani,”
Berdasarkan imformasi yang dihimpun media, pemilik Mesin Pemanen Padi bernama Nurbaya asal Desa Woro yang sangat kasar dan tidak bisa diajak kompromi. Uniknya dan anehnya Nurbaya hanya mau memanen di sisi kiri dan tidak pada sisi kanan dalam artian dia terapkan manajemen pilih kasih
Saat ditemui jejakntb, jumat 29 Maret 2024 wanita paruh baya asal woro itu memang kasar dan sempat membentak media,
“Ngapain kesini , mesin kita akan keluar dalam waktu secepatnya kita tidak lagi disini,” ucapnya dengan nada kasar dihadapan sejumlah petani yang menunggu dan berharap agar dipotong padinya.
Nurbaya memilih minggat lokasi tanpa ada alasan yang jelas sementara padi petani di kawasan masih sangat banyak. Para petani di desa itu meminta Camat dan Kades untuk tidak merekom lagi oknum Nurbaya Woro mengoperasikan kendaraannya di Dena dan khususnya Madapangga
” saya minta Bupati bantu rakyat belikan elsintan jika tidak bisa kami minta camat dan kades se Madapangga untuk memboikot pemilik mesin pemotong padi yang mencurangi para petani kita,”sesal Muhlis pada jejakntb
Berdasarkan data, hamparan so tolo dena termasuk yang sangat luas dan merupakan pusat tanah lelang pemkab bima dengan omset yang cukup lumayan tiap tahunnya.
Seorang petani desa Monggo, Ama Hima Lampi (75), misalnya dia telah menunggu seminggu lamanya bahkan padinya sudah mau berkecambah gara gara ditelantarkan Nurbaya dan kawan kawannya
“Saya sudah sangat merugi dan padi saya sudah dontu (menua padinya.red.) pak, mau memotong manual jumlah padi banyak dan tenaga gak ada” ungkapnya
Senada dengan Ama Hima , janda Asmah alias Mei warga tani So Nocu Wadu pun mengaku hal yang sama pada media ini,
“Kita benar benar dihadapkan pada situasi yang sangat sulit dan serba salah, cukup dilematis ini” sesalnya
Catatan redaksi, awalnya kegiatan panen raya ini sempat diabadikan pegawai Dinas Pertanian Madapangga an Edy Junaidin di sejumlah titik namun sayangnya yang bersangkutan tak sempat dimintai komentar dan tanggapan atas sikap owner mesin padi yang nakal ini
Pantauan di lokasi mesin pemotong padi yang beroperasi di So teraebut adalah milik Nurbaya, Umi Nii dan Bagas Dompu
Tapi mesin umi ni dan bagas tetap melayani petani namun saat ini keadaannya sedang rusak di TKP. Memang medan so tolo dena sangat unik yakni bebatuan , miring dan kurang datar. Namun secara tekhnis hal tersebut bisa sebenarnya diantisipasi dengan memberikan kode dan penanda di lahan untuk memudahkan jalannya mesin pemanen padi (combine harvester).
Saat ini cuaca sedang tidak bersahabat kadang hujan kadang matahari seharusnya pemilik usaha teraebut mau memaklumi keadaan para petani.
Sementara Nukman menilai sikap pemerintah Desa Dena seharusnya turun tangan mengurai benang kusut problematik para petani
” Camat Madapangga dan Kades Dena segera turun ke lokasi sebelum hal hal yang tidak diinginkan itu terjadi, kasihan petani kita diperlakukan secara semena mena oleh owner mesin pemotong padi yang punya negatif mindset dalam menjejaki usaha sementara wilayah nya punya kades. Jangan biarkan preman dan oknum menguasai lahan rakyatmu wahai pak kades dan sekdes, urus rakyatmu jangan tidur termasuk camat”pungkasnya.
Kades Dena Abdul Haris yang dihubungi tidak menjawab dan menyahut meski ada chat redaksi, entah puasa atau gimana sehingga pesan pesan redaksi tidak terenskripsi dengan baik di whatsapp kades yang akrab disapa pak kumis tersebut.
Seirama dengan Camat Madapangga saat dihubungi pun sama hp dalam keadaan tidak bisa diakses.
Sebagai solusi mantan aktifis ini meminta petani untuk kembali memanfaatkan sabit dan rontok serta drum untuk memanen karena ketiadaan mesin dan ditinggalkan para bajingan dan bandit sawah.
” sabar yaa kita pakai alat manual saja dan tahun depan oknum dan bajingan bajingan sawah itu kita lawan meskipun tidak ada pemerintah dan negara yang mengurus rakyat tani dan jelata, saya akan berada digaris terdepan untuk menolak tekhnologi yang menghina para petani ,” tutupnya.
Ia menambahkan dengan cuaca yang begitu ekstrem saat ini harusnya owner tidak memperlakukan petanii seperti itu,” itu namanya kejahatan di kawasan dan harus ditindak tegas bila perlu tutup jalan tani dan kejar mereka,” tambahnya
Tahun depan para petani harus bersatu menolak para pemilik mesin pemanen padi (combine harvester) untuk memanen hasil keringatnya karena mereka nilai orang orang tersebut bajingan dan sangat menghina profesi para petani
“Kita tolak saja lebih baik pakai tenaga manusia saja,”imbuhnya
(*)




















