MALUKU, JEJAKNTB.COM| Sesuai dengan informasi kepala sekolah SMA Negeri 1 Ambon yang diarahkan kepada para walimurid murid dan masyarakat bahwa penerimaan siswa baru terutama jumlah rombel untuk siswa baru tahun ajaran 2025 -2026 di SMA negeri 1 Ambon sudah diatur dengan keputusan menteri dan sudah tidak ada lagi kearifan lokal.
Hal ini menyebabkan terjadinya polemik di kalangan sejumlah wali murid dimana anaknya yang berprestasi tetapi tidak mampu di sekolahkan ke jenjang swasta. Sehingga berujung pada kegaduhan yang memuncaknya pada demo dan unjuk rasa otang tua murid di Kantor Dinas Pendidikan Provinsi Maluku tertanggal 2 juli 2025.
“Belajar dari Daerah lain seperti Jawa Barat.Pengaturan Jumlah Rombel dan siswa perombel cukup diatur saja lewat Pergub bukan kementerian,” ucap Kolelsy pada JejakNtb, Rabu pagi (9/7) via telefon.
Oleh sebab itu, Kami minta dari Bapak Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah untuk membatalkan Keputusannya sesuai informasi kepsek SMA negeri 1 Ambon bahwa Penerimaan siswa dan jumlah 9 Rombel sudah tidak sesuai dengan keputusan kearifan setempat.
“Aneh bin ajaib, setahu kami cukup dengan keputusan gubernur. Dan kalau keputusan gubernur ada kenapa tidak di sebutkan ? Tetapi di sebutkan sesuai dengan Keputusan Menteri. Ini yang membuat masyarakat menjadi bingung…Siapa yang bertanggungjawab sebenarnya kepada kebijakan-kebijakan yang diambil di ambil oleh pihak sekolah terutama dalam penerimasn siswa baru,” kata Ketua DPD FGII Maluku
Menurutnya, kewenangan daerah untuk mengatur sudah sesuai undang-undang Otonomisasi Pendidikan dan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).
“Tahun kemarin kita enam belas rombel, dua tahun lalu lima belas rombel tiga tahun lalu 13 rombel ( yang baru lulus). Berarti logikanya tahun ini harus berjumlah 13 rombel. Kenapa kebijakannya hanya 9 rombel ?,” tanyaknya heran.
Oleh sebab itu kami minta dari bapak gubernur dan Komisi IV untuk dapat menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut bukan sekedar dialog dan tidak ditindaklanjuti. Namun benar-benar dapat diselesaikan secara tuntas hingga ke akarnya. Bukan siapa yang menang dan siapa yang pandai atau berkuasa tetapi bagaimana kita melepaskan egoisme kita dan menerima aspirasi terutama masyarakat kecil atau tidak mampu yang ingin menikmati pendidikan yang bisa dijangkau dan berkualitas.. sehingga setiap tahun tidak terjadi seperti ini lagi,” pungkasnya.
LAWAMENA HAULALA…
PARMALUKU PUNG BAIK..”NEWOR’Y…
Editor. Redaksi
Reporter. Martinus J




















