
SUMBAWA BESAR , JEJAKNTB|| Suasana berbeda tampak di sejumlah sekolah pada Kamis pagi. Tidak hanya siswa dan guru yang hadir seperti biasa, tetapi juga para orang tua yang datang mendampingi anak-anak mereka. Kegiatan bertajuk “Satu Jam Bersama Ayah Bunda” ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2026.
Sejak pagi, halaman sekolah sudah dipenuhi oleh para orang tua. Ada yang datang bersama anaknya sambil bergandengan tangan, ada pula yang terlihat berbincang santai sebelum kegiatan dimulai. Wajah-wajah ceria tampak menghiasi suasana. Beberapa siswa bahkan terlihat lebih bersemangat dari biasanya karena bisa duduk bersama orang tua mereka di dalam kelas.
Kegiatan ini dirancang sederhana, namun sarat makna. Selama satu jam, orang tua dan anak diberi kesempatan untuk duduk berdampingan di ruang kelas. Tidak ada pelajaran seperti biasanya. Waktu itu sepenuhnya digunakan untuk membangun komunikasi yang lebih dekat antara anak dan orang tua.
Kepala sekolah dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk membuka ruang komunikasi yang sering kali terabaikan di tengah kesibukan sehari-hari. Menurutnya, tidak semua anak memiliki kesempatan untuk menyampaikan perasaan mereka secara langsung kepada orang tua.
“Melalui kegiatan ini, kita ingin menghadirkan suasana yang nyaman agar anak-anak bisa berbicara dari hati ke hati dengan orang tuanya. Hal-hal kecil yang mungkin selama ini terpendam, hari ini bisa disampaikan,” ujarnya.
Di dalam kelas, suasana terasa hangat dan penuh keakraban. Guru hanya berperan sebagai fasilitator, sementara interaksi utama terjadi antara anak dan orang tua. Ada yang saling bercerita tentang kegiatan sehari-hari, ada pula yang membahas kesulitan belajar, bahkan beberapa terlihat saling berpelukan haru.
Seorang siswa mengaku senang dengan kegiatan ini. Ia mengatakan jarang memiliki waktu khusus untuk berbicara panjang dengan orang tuanya.
“Biasanya kalau di rumah, ayah sibuk kerja, ibu juga banyak urusan. Jadi jarang cerita. Tadi saya bisa bilang kalau saya kadang takut sama pelajaran matematika,” katanya dengan wajah sedikit malu.
Mendengar hal tersebut, sang ayah tampak tersenyum dan langsung memberikan dukungan. Ia berjanji akan lebih sering meluangkan waktu untuk membantu anaknya belajar di rumah.
Tidak sedikit pula orang tua yang mengaku tersentuh dengan kegiatan ini. Mereka merasa mendapatkan kesempatan berharga untuk lebih memahami kondisi anak mereka.
Seorang ibu mengatakan bahwa selama ini ia mengira anaknya baik-baik saja di sekolah. Namun setelah berbincang, ia baru mengetahui bahwa anaknya sempat merasa kurang percaya diri saat mengikuti pelajaran tertentu.
“Saya jadi sadar, ternyata anak juga punya banyak hal yang ingin disampaikan. Kadang kita saja yang tidak sempat mendengarkan,” ujarnya.
Kegiatan ini juga menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga keluarga. Peran orang tua sangat penting dalam mendukung perkembangan anak, baik dari segi akademik maupun emosional.
Guru-guru yang hadir pun menilai kegiatan ini memberikan dampak positif. Dengan adanya komunikasi yang lebih terbuka, mereka berharap orang tua bisa lebih memahami kebutuhan anak dan ikut berperan aktif dalam proses pendidikan.
“Kalau komunikasi antara anak dan orang tua baik, biasanya anak juga lebih percaya diri di sekolah. Itu akan berpengaruh pada semangat belajar mereka,” kata salah seorang guru.
Selain sesi curhat, beberapa sekolah juga menambahkan aktivitas ringan seperti menulis pesan singkat untuk orang tua atau anak. Kertas-kertas kecil berisi ungkapan sederhana seperti “terima kasih”, “maaf”, dan “aku sayang ibu dan ayah” terlihat dibacakan dengan penuh haru.
Tidak sedikit yang menitikkan air mata saat membaca pesan tersebut. Momen itu menjadi salah satu bagian paling menyentuh dari kegiatan hari itu.
Kegiatan “Satu Jam Bersama Ayah Bunda” ini diharapkan tidak hanya menjadi acara seremonial semata, tetapi bisa menjadi awal dari kebiasaan baik dalam keluarga. Komunikasi yang terbuka diharapkan terus terjalin, tidak hanya di sekolah, tetapi juga di rumah.
Peringatan Hardiknas tahun ini memang mengangkat semangat kolaborasi antara sekolah dan keluarga. Pendidikan yang baik tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di lingkungan rumah yang penuh perhatian dan kasih sayang.
Dengan adanya kegiatan seperti ini, diharapkan anak-anak merasa lebih didengar, lebih dipahami, dan lebih dihargai. Sementara itu, orang tua juga bisa lebih peka terhadap kebutuhan dan perasaan anak.
Menjelang akhir kegiatan, suasana di kelas masih terasa hangat. Beberapa orang tua terlihat enggan beranjak, seolah ingin memperpanjang waktu kebersamaan yang jarang mereka rasakan.
Seorang guru menutup kegiatan dengan pesan sederhana namun penuh makna. Ia mengingatkan bahwa satu jam yang telah dilalui hari itu seharusnya bisa menjadi awal dari waktu-waktu berikutnya yang lebih berkualitas.
“Kalau hari ini kita bisa meluangkan satu jam, semoga ke depan bisa lebih dari itu. Karena bagi anak, perhatian orang tua adalah hal yang sangat berharga,” ujarnya.
Kegiatan pun berakhir dengan senyum dan pelukan. Anak-anak kembali ke rutinitas belajar, sementara orang tua pulang dengan membawa cerita dan perasaan baru. Di balik kesederhanaannya, kegiatan ini meninggalkan kesan mendalam bagi semua yang terlibat.
Hardiknas tahun 2026 di Sumbawa tidak hanya dirayakan dengan upacara dan kegiatan formal, tetapi juga dengan sentuhan hangat yang menyentuh hati. “Satu Jam Bersama Ayah Bunda” menjadi bukti bahwa pendidikan sejatinya dimulai dari hubungan yang kuat antara anak dan orang tua.
Dan dari satu jam itulah, banyak hal penting mulai tumbuh—kepercayaan, keterbukaan, dan kasih sayang yang mungkin selama ini terpendam.(Asmediati)




















