Salah Satu Kegagalan Doktor Zul dan Jokowi adalah Membangun Jembatan Ini di NTB

Inilah Miniatur Grand Design Jembatan Lewa-Mori

 

 

BIMA, jejakntb.com | Ada satu hal yang tidak disadari masyarakat Kabupaten dan Kota Bima serta Kabupaten Dompu dari pemerintah pusat hingga daerah di era Jokowi dan Zul – Rohmi selama satu periode yaitu janjinya bersama pemerintah pusat untuk membangun jembatan Lewa-Mori di Kabupaten Bima yang berpuluh-puluh tahun di planning Khan namun hambar dan bohong semata.

Informasi yang diserap media JejakNTB rencana pembangunan jembatan ada tetapi dialihkan ke pekerjaan yang lain sehingga Lewa Mori tinggal sebuah rencana hambar tak bermakna. Padahal jika pembangunan jembatan itu dilaksanakan bakalan Kabupaten Dompu, Bima dan Kota Bima bakalan sejahtera.

Rencana pembangunan Jembatan Lewamori di Kabupaten Bima mengambang. Meski sudah masuk dalam prioritas nasional, pemprov belum mendapat kepastian kapan mega proyek ini digarap namun dengar kabar diduga kuat anggaran pembangunannya dialihkan ke item pembangunan lain.

Jembatan Lewamori rencananya dibangun dari Desa Daru, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima. Membentang sepanjang ratusan meter dengan ujungnya berada di sekitar Bandara Sultan Salahuddin.

Keberadaan jembatan akan memperpendek jarak menuju bandara dari dompu, sekitar 17 kilometer. Selain itu, anggaran jumbo untuk Jembatan Lewamori diharapkan bisa mentrigger pengembangan kawasan di sekitar teluk Bima. Dengan potensi wisata bahari dan perikanan.

Pembangunan Jembatan Lewamori menjadi prioritas pertama, untuk proyek nasional, berdasarkan usulan dari daerah. ”Ada tujuh usulan Provinsi NTB yang prospektif masuk rencana kerja pemerintah di 2023,” kata Staf Ahli Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Vivi Yulaswati kala itu.

Selain Jembatan Lewamori, ada enam usulan lainnya dari NTB yang bakal diakomodir pemerintah pusat. Yakni, pembangunan Jembatan Samota; penuntasan jalan Samota; lanjutan pembangunan dua jalur untuk ruas Jalan Sultan Muhammad Salahuddin; pembangunan Pelabuhan Kilo, Dompu; desa wisata di Lombok Tengah; dan penyediaan air baku kawasan perkotaan di Ai Ngelar, Sumbawa.

Ketua Yayasan Bina Massa Cendekia Nukman SH melihat seharusnya ini yang ditagih masyarakat dan dipertanyakan apa alasan pemerintah terkait rencana ini.

” Saya tidak ingin mempolemikkan ini semua karena saat ini dalam tahun yang sangat sensitif, hanya saja kita semua lupa bahwa eks. Kepala Dinas PUPR Provinsi NTB telah membohongi rakyatnya sendiri selama lima tahun dan ini sangat naif,” urainya.

Dia juga heran kenapa pembangunan di NTB khususnya pulau Sumbawa dan wilayah Sumbawa bagian Timur terjadi kesenjangan yang begitu tinggi sementara pulau Lombok hingga Sumbawa besar seperti mercusuar bahkan dipaksa untuk dikerjakan.

 

” Seperti apa itu?, seperti pembangunan sirkut MXGP Selaparang – Mataram, Sirkuit Lantan di Loteng, Sirkut Samota di Sumbawa yang kini sudah ditelantarkan hingga Mandalika yang kini juga belum tuntas membayar pembebasan lahan rakyat namun sangat gesit dikerjakan, seandainya itu dipakai untuk betul betul menyentuh kebutuhan utama waduh NTB benar benar maju serta memekarkan Pulau atau menjadikan Sumbawa menjadi sebuah Propinsi sudah lama PPS itu ada, ini malah Kabupaten Dompu, Kabupaten Bima dan Kota Bima dapat apa?

Selain itu, kegiatan Seribu Cendekia yang digagas Dikbud NTB saat Aidy Furqan itu juga bermasalah kasusnya masih berjalan bahkan ada oknum di Dikbud NTB yang sudah menjadi tersangka terkait kasus pengadaan barang dan jasa

Nukman melihat majunya Doktor Iqbal dan mengambil perwakilan Sumbawa Timur menjawab disparitas dan kezaliman pembangunan yang selama ini didominasi pulau Lombok, Bagian Timur hanya jadi penonton saja.

Masih banyak hal yang belum ideal terutama sisi penegakan hukum di wilayah Nusa Tenggara Barat.

“Penegakan hukum belum maksimal, masih tebang pilih, tajam keatas dan tumpul kebawah,” tandasnya.

Ia, mengharapkan masyarakat dan rakyat NTB untuk sadar dan mawas diri sebab salah memilih akan sengsara selama lima tahun dan jika tepat maka akan sejahtera selama-lamanya.

“Mari kita berikan kepercayaan kepada person yang belum pernah menduduki jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur, gantian laah untuk mengisi dan melanjutkan sebab Zul Rohmi sudah diberikan peluang dan sama sama pernah mengisi ruang namun gagal menjadikan NTB Gemilang yang ada hanya NTB yang nasibnya masih tidak baik masih jalan ditempat, masihkah kita di bagian Sumbawa paling timur terus mau terpuruk?” pungkasnya.

(*)

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print
Scroll to Top