Pimred Media Lokal Elshabier minta Prabowo Tidak Perpanjang kontrak MotoGP, Ini Alasannya!!!

MATARAM,( jejakntb) || Sirkuit Internasional Mandalika mendadak jadi perbincangan hangat media jiran  maupun mancanegara,  menyusul adanya layanan publik seperti akomodasi tim peliputan selama kegiatan yang kurang nyaman bagi jurnalis hingga insiden jatuhnya beberapa pembalap di lintasan, media Malaysia menyebut Sirkuit Mandalika sebagai lintasan yang rawan dan berbahaya.

Gelombang kritik dari media dan netizen jiran kian memuncak! Setelah menyoroti tingginya angka crash di lintasan, kini sejumlah netizen Malaysia terang-terangan mengusulkan agar Sirkuit Mandalika dicoret dari kalender resmi MotoGP musim depan.

Tak hanya itu, mereka juga mulai membandingkan standar keamanan serta kualitas aspal Mandalika dengan Sirkuit Internasional Sepang yang kualitasnya bagus dan jauh dari insiden crash.

Meski Dorna sports and MGPA mengaku sudah mengantongi sertifikat holomogasi tentang lintasan sirkuit dengan lima podium yang unik dan aspal berkualitas namun faktanya di momen sprint race saja lebih kurang dua puluh kali kecelakaan (crash).

Masukan konstruktif itu datang dari Pimred Media Online lokal, Elshabier,SH., meminta kepada Presiden Prabowo Subianto untuk tidak memperpanjang kontraknya MotoGP Mandalika hingga tahun 2031.

Owner media yang berbadan hukum PT ini melihat cara MGPA selaku panitia sangat elitis dan tertutup bahkan tidak peka dalam memahami berbagai macam dinamika selama event organizer olahraga balap motor dunia berlangsung.

” Cara media center memulai rekrutmen dan melakukan akreditasi terhadap kegiatan peliputan meremehkan sebagian koran lokal dan bersikap diskriminasi atas informasi tentang hasil uji kelayakan dimana panitia tidak profesional dalam menjalankan tugas,tidak fair” ungkapnya pada JejakNtb, Senin, (12/10).

” Kami meminta Inspektorat untuk mengaudit Dinas Kominfo Kabupaten Lombok Tengah, dan event organizer sport tourism ini,”

Ia menyoroti tekhnis pengumuman rekrutmen hingga hasil yang tidak maksimal dan diduga rasis dilakukan pihak media center bersama Diskominfo Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. “Bukan sekali ini terjadi melainkan setiap tahun dan berulang-ulang,” sambungnya.

“MCI diduga lakukan rasisme dan diduga juga perbedaan perlakuan atas media yang meliput, dan Ini celah perpecahan dan keretakan para penggiat kuli tinta,” tambahnya. MotoGP Mandalika ini dibawah kendali Dorna sports and MGPA termasuk ITDC Lombok.

“KPK RI turun ke Mandalika silakan audit risk pelaksanaan kegiatan olahraga balapan MotoGP Mandalika resort, diduga ada unsur kesengajaan dan pembiaran serta perbuatan melawan hukum yang dilakukan secara bersama-sama,”

 

Untuk diketahui, kejadian demi kejadian juga terjadi selama beberapa hari terakhir yang diawali dari rekayasa lalulintas yang tidak profesional dan melibatkan kecelakaan dahsyat antar beberapa warga asing di jalur menuju sirkuit tempat terlaksananya kegiatan termasuk terjadinya kebakaran hebat kendaraan roda empat di lokasi parkir sebelah barat hingga adanya dugaan dugaan tindak pidana lainnya termasuk menjamurnya pungli dan dugaan percaloan tiket serta adanya tiket palsu.

Menurutnya peristiwa tersebut bukan perkara sepele tetapi seringkali terjadi dan terus dibiarkan menjadi kebiasaan dan fakta di lapangan.

 

” Bisa mencoreng nama baik Indonesia dan pulau lombok di mata dunia internasional bahkan memicu sentimen mengingat event organizer ini tidak didukung sumber daya sesuai standar operasional prosedur, selain itu kita akan terus mendapatkan sorotan publik gegara tidak siap atau kurang maksimal,”

Senada dengan itu, seorang pelaku usaha UMKM yang enggan disebutkan namanya menuturkan mahalnya biaya sewa lokasi jualan dalam arena sirkuit. Wanita paruh baya berusia sekitar 45 tahun mengeluhkan tingginya sewa dan tidak sebanding dengan pemasukan yang diimpikan.

” Pembeli sepi mas, rata_rata pengunjung hanya ngelihat – lihat aja tanpa melakukan transaksi. Kebanyakan stand jualan gitu, besar pasak daripada tiang,” cetusnya.

Informasi yang dihimpun media, biaya sewa lahan untuk tiap UMKM yang dijadikan stand jualan berkisar puluhan juta belum resiko yang dihadapi di lapangan seperti keadaan cuaca serta lainnya yang turut mempengaruhi kesehatan para pelaku bisnis UMKM di KEK Mandalika.

 

“Kita bisa saja menyebut jumlah penonton membludak, dan pemasukan lebih banyak tapi itu framing yang perlu dibuktikan secara empiris, biasa kacung baru cari muka,” pungkasnya.

 

MOTOGP MANDALIKA USAI, UNTUNG 5 T ? NGARANG DAN SEBUAH KEBOHONGAN PUBLIK 

 

Kemarin, Minggu balapan motor di sirkuit Mandalika Kuta, Lombok Tengah selesai. Banyaklah komentar tentang keuntungan dari balapan 3 hari. Mereka menghitung sendiri, tahun lalu 4,2 Triliun dan tahun ini mencapai 5 T. Amboi !.

 

Yang benar , adalah kerugian akan mencapai lebih dari Rp. 750 miliar alias lebih dari setengah triliun. BPK telah memeriksa perusahaan tersebut dan telah melaporkan kerugian sampai 2022, 2023 , 2024 saja mencapai Rp.347.444.307.552,59,atau dibulatkan saja menjadi sebesar Rp.347 miliar. Perkiraan kerugian 2025 ,2026 mencapai Rp.423. miliar.Jika dijumlahkan,maka kerugian akan lebih dari Rp.757 miliar sampai 2026.

Laporan BPK pasti benar dan harus menjadi acuan semua lembaga negara termasuk BUMN yang kelola sirkuit Mandalika sebagai bagian kegiatan ITDC. Untuk menghitung untung rugi,sudah jelas ukurannya,tekniknya,rumusnya .Dalam laporan neraca rugi laba, BPK cukup menghitung jumlah pendapatan dikurangi semua pengeluaran atau biaya.,termasuk ongkos penyanyi ,pawang hujan ,keamanan dlsbnya.

Akuntansi tidak menghitung keuntungan pihak lain( multiplier effect),selain kerugian dari sirkuit saja. Orang lain boleh saja membuat perhitungan untungnya sendiri ,membuat neraca sendiri,seperti pedagang kaki lima , sopir taksi ,hotel ,losmen atau apa saja,

Jika seandainya masing masing bidang usaha buat neraca laba rugi ,maka balapan 3 hari saja , mustahil akan memberi keuntungan 5 triliun.Jadi jangan ngarang ,cukup dengan kata untung saja , maksudnya untung dapat nonton.

 

Jurnalis MOTOGP Kecewa, Pesan Penginapan di Lombok Malah Dibatalkan Sepihak

Jurnalis sekaligus pengamat senior MotoGP, Simon Patterson, merasa ditipu pengelola penginapan di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dia mengaku sudah melakukan pemesanan jauh-jauh hari, namun sesaat sebelum kedatangan, pihak penginapan melakukan pembatalan sepihak!

Hal tersebut diceritakan Simon melalui akun X resminya. Dia mengaku benar-benar kesal dengan pelayanan akomodasi yang dianggapnya sudah melakukan penipuan tersebut.

“Benar-benar kesal, karena urusan akomodasi saya di Indonesia dikacaukan tepat 48 jam sebelum kedatangan! Saran penting: hindari para penipu di NA Hostel, Kuta, Lombok,” demikian tulis Simon Patterson melalui akun X resminya, dikutip Selasa (6/10).

Simon membagikan bukti email dari ** Hostel yang melakukan pembatalan sepihak. Mulanya, mereka bilang, pembatalan tersebut disebabkan gedung penginapan yang sedang direnovasi. Bahkan, perbaikan tersebut diklaim memerlukan waktu lama.

Dipaksa mencari tempat penginapan baru, Simon jelas kebingungan. Sebab, MotoGP Mandalika 2026 akan digelar akhir pekan ini. Sementara hotel-hotel lain pasti sudah penuh.

Tak lama kemudian, Simon mendapat email lagi yang berisi kabar kalau renovasi bangunan sudah selesai dan siap menerima tamu. Namun, anehnya, mereka menganggap pesanan Simon di tanggal 7-11 Oktober 2026 tak sah lantaran harga yang tak sesuai.

 

Mereka bilang, saat berbarengan dengan even MotoGP ada penyesuaian biaya. Juga terjadi ‘eror’ dalam penayangan harga saat Simon melakukan pemesanan.

 

Pengelola penginapan lantas menawarkan Simon untuk mengubah tanggal pemesanan menjadi sehari lebih mundur. Namun, tentunya, dengan harga baru yang lebih mahal. Kalaupun Simon tak mau, kata mereka, sama sekali tak masalah.

 

Pada postingan yang sama Simon menunjukkan email komplain yang dia sampaikan pada Hostleworld, sebuah platform pemesanan hotel dan penginapan. Simon sepertinya memesan melalui platform tersebut. Pihak Hostleworld mengatakan kalau pemesanan harusnya dipenuhi oleh penyedia jasa akomodasi dengan menggunakan harga awal. Namun tetap saja Simon urung mendapatkan akomodasi yang sudah dia pesan.(JN)

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print
Scroll to Top