Pemkab Bima Gandeng ADRA Gelar FGD Kekeringan & Mengarusutamakan Rescue

Pemkab Bima – ADRA Helat FGD Antisipasi Bencana Kekeringan

 

JejakNTB.com, BIMA | Pemerintah Kabupaten Bima atas dukungan ADRA Indonesia, sebuah lembaga kemanusiaan yang telah beroprasi di Indonesia sejak tahun 1981 dengan fokus Penanggulangan Bencana (PB) sejak tahun 2017 menyelenggarakan Diskusi Terpumpun/Focus Group Discussion (FGD) Aksi Antisipatif Penanganan Bencana Kekeringan Kamis (23/11) di Ruang Pusat Pengendalian dan Operasional (Pusdalops) BPBD kabupaten Bima.

Manager ADRA Indonesia Amin Magatani secara virtual melalui aplikasi zoom meeting memaparkan, FGD ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang aksi antisipatif terhadap bencana dan pada saat yang sama menyamakan persepsi tentang konsep dan kriteria kekeringan.

Di samping itu, yang tidak kalah pentingnya FGD diharapkan mampu mengidentifikasi aksi antisipatif dalam penanganan bencana kekeringan juga mengidentifikasi sumber pendanaan untuk mendukung kegiatan.

Narasumber Hadrianus Edi Handoko dari Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/UNOCHA), memaparkan aksi antisipatif penanganan dampak bencana kekeringan.

Menurut Hadrianus, aksi antisipatif adalah serangkai intervent intervensi yang dilakukan ketika ancaman yang menimbulkan bahaya yang akan segera terjadi berdasarkan perkiraan, peringatan dini atau analisis risiko pra bencana titik sambung karena itu lanjutnya menurut Badan PBB yang terkait dengan bencana.

Dihadapan para peserta FGD dari BMKG, Bappeda, Dinas Sosia, Dinas Pertanian dan Perkebunan, DPMD, Dinas Kominfostik, Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda, Komunitas PRB Desa Nata, Waduwani, Tonggorisa dan Desa Sanolo tersebut, Narasumber memaparkan tiga karakteristik aksi antisipatif berkaitan dengan penanganan bencana

“Aksi antisipatif dilakukan dalam rentang antara peringatan dini, penilaian risiko pra bencana dan saat bahaya terjadi. Rentang waktu ini sangat bervariasi, tergantung pada kualitas prakiraan dan jenis bahaya.
Karakteristik aksi antisipatif juga mencakup niat melindungi orang dan aset yang kemungkinan akan terkena dampak bencana. Aksi ini tentu saja mengandalkan indikator pemicu yang telah disepakati dan berdasarkan informasi risiko. Sehingga, ketika ada bahaya yang mengancam akan tergambar jelas bagaimana keputusan akan dibuat dan kapan tindakan harus diambil”. Tandasnya.


Pada kesempatan tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bima Drs.Isyrah dalam pengantarnya mengungkapkan, aksi antisipatif dalam penanganan bencana merupakan prasyarat penting agar dampak pasca bencana dapat diminimalisir sebanyak mungkin.

Hal ini tentu saja membutuhkan peningkatan kapasitas yang memungkinkan SDM yang ada melakukan mobilisasi dan alokasi bantuan, pembiayaan dan distribusi bantuan agar tepat sasaran”. Ungkapnya.

Sementara Analist Elshanier menilai langkah tersebut tepat hanya saja jangan sampai performanya formalitas saja, hal tersebut jika mengacu kepada gejala elnino dan la nina maka para petani khususnya akan mengalami kerugian terutama yang sudah menanam baru baru ini karena melihat gejala hujan lalu tiba tiba mendadak berhenti.

” Mudah – mudahan saling gandeng ini membawa maslahat untuk warga masyarakat kabupaten Bima karena saat ini petani dihadapkan pada kondisi dilematis dan cukup sulit. Sulit yang pertama mendapatkan air irigasi karena bendungan rusak akibat banjir terus kedua menanam jagung dll terancam gagal panen karena ketiadaan air solusinya menurut saya tim ini harus membantu para petani kita seumpama mengupayakan pemboran air dengan menggunakan mata bor kanada sehingga rakyat bisa bertani dan bercocok tanam seperti biasanya serta yang terpenting ada kolaborasi dalam kerja kerja kolektif kolegialnya kalau bisa Petugas PPL dan Gapoktan jemput bola mengajukan data lahan yang terancam gagal panen,” pungkasnya.(*)

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print
Scroll to Top
Scroll to Top