Nakes Bayu Sukses Raih Gelar Magister Agribisnis: “Ingin Sejahterakan Petani Melalui Penyuluhan Gizi”

Nakes Bayu Sukses Raih Gelar Magister Agribisnis: “Ingin Sejahterakan Petani Melalui Penyuluhan Gizi”

 

 

 

 

 

 

SUMBAWA, JEJAKNTB||Panggung wisuda Universitas Samawa (UNSA) periode ini melahirkan cerita unik dan inspiratif. Bayu Atikah Dewi (53), seorang tenaga kesehatan yang telah mengabdi selama tiga puluh tahun di pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas), sukses menyabet gelar Magister Agribisnis (M.Si).

Langkahnya mengambil program studi yang lintas disiplin ilmu ini sempat mengundang keheranan dari rekan sejawatnya, namun Bayu Atikah Dewi membuktikan bahwa kesehatan dan pertanian adalah dua mata rantai yang tidak bisa dipisahkan.

Ditanya soal pilihannya dan mengapa harus memilih jurusan kuliah magister yang berbeda? Dengan lugasnya Nakes Syantek ini merespon secara bernas.

“Profesi kebidanan merawat kehidupan di hilir, sementara agribisnis memastikan daya dukung nutrisi di hulu,

Mengombinasikan keduanya adalh langkah strategis untuk menciptakan intervensi kesehatan masyarakat yang berkelanjutan,” ucapnya disela-sela kesibukan mempersiapkan diri untuk diwisuda bulan Oktober mendatang.

 

Dari Stunting ke Ketahanan Pangan

Perjalanan Bayu Atikah Dewi bermula dari kegelisahannya saat mendapati tingginya angka stunting (tengkes) di tempatnya bertugas. Meski rutin memberikan suplemen kesehatan, ia menyadari akar masalahnya ada pada akses dan daya beli masyarakat terhadap pangan bergizi.

“Sebagian besar warga di desa saya adalah petani, tetapi mengapa anak-anak mereka justru kekurangan gizi?

Dari sana saya sadar, masalah kesehatan ini harus diselesaikan dari hulunya, yaitu manajemen agribisnis dan ketahanan pangan keluarga,” ujarnya usai prosesi yudisium.

 

Menyeimbangkan Tugas Klinis dan Kuliah

Meraih gelar magister bukan perkara mudah bagi Bayu Atikah Dewi. Sebagai Nakes andalan, ia harus bersiaga 24 jam untuk membantu persalinan warga.

Ia terbiasa membawa laptop dan tumpukan jurnal ilmiah ke puskesmas pembantu agar bisa belajar di sela-sela waktu jaganya.Thesis yang ia susun berfokus pada Strategi Pengembangan Pangan Lokal Berbasis Kelor untuk Kemandirian Gizi Balita.

Penelitian ini menggabungkan analisis ekonomi pertanian dengan intervensi pemenuhan gizi masyarakat. Bayu Atikah Dewi berhasil memetakan bagaimana kelompok tani wanita bisa memproduksi suplemen kelor secara ekonomis sekaligus membuka peluang pasar baru.

 

Vokasi untuk Kesejahteraan Desa

Pasca-kelulusan, Bayu Atikah Dewi tidak berniat meninggalkan profesi kebidanannya. Ia justru berencana mengimplementasikan ilmu agribisnisnya langsung ke lapangan melalui program posyandu terintegrasi.

“Gelar Magister Agribisnis ini akan saya gunakan untuk mengedukasi masyarakat agar mampu mengelola lahan pekarangan mereka menjadi sumber pangan bergizi tinggi yang bernilai ekonomi. Jika ekonomi petani kuat, status gizi keluarga pasti akan ikut meningkat,” tambahnya dengan penuh optimisme.

Kisah Bayu Atikah Dewi menjadi bukti nyata bahwa sekat antar-disiplin ilmu bisa dijembatani demi membawa dampak sosial yang nyata bagi masyarakat luas.(*)

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print
Scroll to Top