Tampak Muhammad Firdaus SH menerima selempang istimewa dari Kerajaan Tallo yang akan disematkan sebagai Panglima Salatin Alif Syah
JejakNTB.com, JAKARTA | Terkait polemik yang diungkapkan Muhammad Firdaus, S.H. yang ditanggapi Cucu Sultan Muhammad Salahuddin Bima sebenarnya sederhana persoalannya, bukan merekayasa fakta dan sejarah melainkan kisah itu nyata dan ada dalam catatan sejarah Islam Nusantara,
Yang dikisahkannya bukan dia (Muhammad Firdaus, S.H.) ingin diakui sebagai anak garis Keturunan Sultan Bima melainkan berdasarkan referensi sejarah yang dimilikinya dan diredaksi soal sejarah asal mula Kerajaan pertama yang membawa Islam di Pulau Sumbawa hingga Kabupaten Bima tentang catatan sejarah adanya kerajaan Islam tersebut,
Muhammad Firdaus, S.H. dalam videonya yang dikirim ke Meja Redaksi Media Nasional JejakNTB.com menceritakan pada Abad ke-13

Muhammad Firdaus, SH ditunjuk sebagai Panglima Salatin oleh Majelis Salatin Kesultanan / Kerajaan Se Nusantara karena dikenal dengan keberaniannya mengungkap fakta dan data dibalik sejarah. (Foto. Kiriman Firdaus Oiwobo/Ist.)
Dulu di Sape Sumi itu berlabuh yang namanya Rato Arab yakni entitas yang pertama kali dari generasi Bani Hasyim cucunya Rasulullah, S.A.W. datang ke Sape Sumi dengan tujuan menyebarkan Agama Islam. Di Sumi bersama muridnya yang bernama Datuk Pagaruyung yang bergelar Raja Saja I yang menikahi Putri dari Raja Bima yang akhirnya masuk atau memeluk Agama Islam.
Masih Muhammad Firdaus, S.H.,” Ini ceritanya harus diluruskan !!!!
Sape Sumi ini mempunyai peran besar meng Islamkan orang Se Tanah atau Se Pulau Sumbawa bahkan hingga ke Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak terlepas dari kontribusi sejarah Sape Sumi, Sape Sumi jangan dilupakan itu yach yang namanya RATO ARAB. Sampai sampai orang Maria saja diangkat sebagai Raja itu oleh orang Sape Sumi karena dianggap cerdas dan pintar memimpin mengendalikan pemerintahan maka diangkatlah RAJA SAJA SATU dengan Gelar SAJARI SATU lalu setelah itu orang Maria Wawo mengembangkan wilayah kerajaannya di PAI WERA lalu dibentuklah RAJA SAJA PAI,
Lalu kemana lagi pembentukannya kemudian bersama Panglima perangnya yang bernama LA RIDE RAJA SAJA SATU ini mengembangkan kepak sayapnya selain di SAJA PAI juga dikembangkan RAJA SAJA di Wilayah BELO dengan nama SAJA BELO. Dan diangkatlah RAJA SAJA II BELO yang bernama LA DUWE. LA DUWE memimpin kerajaan Saja II di Ngali, LA BELO ini dasar asal muasalnya dari ROI dari Gunung Roi. Roi saat ini di Roka wilayah Belo dan Palibelo Kabupaten Bima. LA DUWE mengendalikan kerajaan di Ngali untuk memimpin semua wilayah BELO dalam misinya menyiarkan dan membesarkan Syiar Islam saat itu dan bukan ekspansi jajahan atau wilayah melainkan hanya misi Islam.
RAJA SAJARI II itu orang Roi tetapi memimpin di Ngali makanya di Ngali ada Kerajaan Islam yang namanya RAJA SAJARI II termasuk SAJA PAI WERA. Lalu SAJO SAJO kalau enggak salah ada di wilayah Donggo Kecil (Donggo To’i) ini RAJA SAJO SAJO yang akhirnya membawa Islam di wilayah Donggo kemudian LA DUWE mangkat sekitar Abad 16 dan dimakamkan di Desa Roi .
Akhirnya anak dari RAJA SAJARI SATU inilah yang memimpin lagi RAJA SAJARI TIGA begitu seterusnya hingga akhirnya RAJA SAJA dan tatkala RAJA SAJA yang statusnya sebagai seorang Panglima meninggal berhubung RAJA SAJARI yang namanya LA DUWE kebetulan dari ROI dan inilah muridnya RAJA SAJARI I. Nah demikianlah ceritanya yang pada akhirnya inilah yang mengislamkannya bersama Kerajaan Gowa Tallo dan Ri Tiro Ri Bandang turut pula mengislamkan LA KA’I atau SULTAN ABDUL KAHIR BIMA lalu BIMA berubah status menjadi KESULTANAN.
(TIM REDAKSI)




















