Kumpulan Puisi – Puisi Hebat dari Seorang Guru Bangsa Peduli Daerah
*Asmediati
PUISI 1
Batu Hijau: Cahaya yang Berhenti di Pagar
Batu Hijau menyala siang dan malam,
lampunya tak pernah bertanya
siapa yang masih gelap.
Mesin berputar,
angka dipanen,
laporan disusun rapi
dalam bahasa pertumbuhan.
Emas dan tembaga
meninggalkan perut bumi,
diangkut dengan keyakinan penuh
bahwa ini adalah kemajuan.
Namun kemajuan sering lupa alamat,
ia tak pernah singgah
ke kampung-kampung sekitar.
Di desa,
air bersih masih antre,
pipa tua bocor pelan-pelan,
PDAM selalu punya alasan:
anggaran, cuaca, teknis.
Kami hidup di tanah tambang,
namun mandi harus menunggu hujan.
Jika kekayaan hanya menerangi
pusat kekuasaan,
maka gelap di kampung
adalah pilihan yang disengaja.
Batu Hijau disebut berkah,
tapi berkah tak pernah adil
jika hanya dirasakan
oleh segelintir meja rapat.
PUISI 2
Aspal yang Memilih Siapa Cepat
Truk tambang melaju tanpa ragu,
roda besarnya menekan aspal mulus
yang dirawat seperti wajah kota.
Negara tahu caranya serius
bila kepentingan besar lewat.
Namun jalan desa retak perlahan,
lubangnya diwariskan dari tahun ke tahun.
Anak sekolah melompat genangan,
ambulans bernegosiasi dengan nyawa.
Setiap musim hujan,
kami menunggu janji ditambal,
setiap musim kemarau,
kami menunggu realisasi.
Jika pembangunan adalah pilihan,
maka jalan-jalan ini
adalah bukti
siapa yang dipilih
dan siapa yang disuruh bersabar.
PUISI 3
Jagung dan Kalender yang Tak Pernah Ramah
Jagung dijadikan kebanggaan,
komoditas unggulan,
bukti keberhasilan program.
Petani diminta patuh
pada kalender tanam
yang disusun jauh dari ladang.
Namun pupuk datang terlambat,
cuaca berubah tak menentu,
harga jatuh serempak
seperti kesepakatan sunyi.
Lumbung penuh,
kantong kosong.
Utang tetap setia
menunggu panen berikutnya
yang belum tentu berpihak.
Jika ketahanan pangan
hanya diukur dari produksi,
maka petani
tak lebih dari alat statistik.
PUISI 4
Sapi Sumbawa dan Beban Tradisi
Sapi Sumbawa dielu-elukan,
difoto, dipamerkan,
dijadikan identitas daerah.
Namun peternaknya
berjuang sendirian
di padang yang makin sempit.
Pakan mahal,
penyakit datang musiman,
modal sulit dijangkau.
Saat sapi dijual
untuk biaya sekolah,
kami dituding tak visioner.
Negara mencintai simbol,
tapi sering lupa
pada perut keluarga
yang menjaga simbol itu hidup.
Jika ikon tak dirawat dari bawah,
ia hanya akan jadi poster
tanpa kehidupan.
PUISI 5
Nelayan dan Zonasi di Atas Kertas
Zonasi digambar rapi,
warna-warni di peta.
Namun laut tak pernah
ikut rapat perencanaan.
Wilayah tangkap menyempit,
ombak makin keras,
solar dan es
tak selalu tersedia.
Pariwisata disebut masa depan,
nelayan diminta mengalah
tanpa pernah diajak bicara.
Mereka tak menolak perubahan,
mereka hanya ingin
perubahan tak menghapus
cara hidup yang sudah rapuh.
PUISI 6
Tenaga Kerja Lokal yang Selalu Kurang
Investasi datang dengan pidato panjang,
izin diteken penuh percaya diri.
Namun anak-anak Sumbawa
hanya berdiri di pinggir.
“Tak memenuhi kualifikasi,”
kalimat itu diulang
tanpa pernah bertanya
siapa yang gagal menyiapkan.
Pelatihan minim,
transfer ilmu setengah hati.
Jika tenaga lokal terus disisihkan,
maka kecemburuan sosial
adalah bom waktu
yang sengaja dipelihara.
PUISI 7
Air, Hutan, dan Bencana yang Diulang
Air bersih masih giliran,
kemarau jadi rutinitas.
Hutan ditebang,
bukit dibelah,
DAS dilemahkan.
Saat banjir datang,
rakyat disuruh tabah,
bantuan dibagi,
izin tak pernah dicabut.
Bencana bukan tamu,
ia hasil undangan
yang dikirim lewat pembiaran.
PUISI 8
Catatan Panjang Awal 2026 dari Samawa
Kami tak menolak pembangunan,
kami menolak dilupakan.
Kami lelah jadi objek
dari rencana yang tak kami susun.
Kami menuntut yang mendasar:
air sebagai hak,
jalan sebagai kebutuhan,
harga petani yang adil,
peternak yang dilindungi,
nelayan yang dilibatkan,
tenaga lokal yang disiapkan.
Sumbawa bukan gudang bahan baku,
bukan angka PAD,
bukan wilayah tunggu.
Jika kritik kami panjang,
itu karena ketidakadilan
telah terlalu lama diringkas
dalam laporan singkat.
EPILOG
2026: Harapan yang Dijaga
Setelah semua suara kami ucapkan,
tentang tambang yang terang
namun kampung yang gelap,
tentang jalan yang memilih,
ladang yang dipaksa sabar,
laut yang digambar tanpa nelayan,
dan anak-anak Samawa
yang terlalu sering jadi penonton—
kami tiba di awal 2026
tanpa ingin menghapus apa pun.
Semua catatan ini
bukan untuk menjatuhkan,
melainkan agar tak ada lagi
yang bisa berkata:
“kami tidak tahu.”
Kami telah menuliskan semuanya:
air yang masih menunggu giliran,
petani yang kalah oleh harga,
peternak yang hidup dari pujian kosong,
nelayan yang dikecilkan oleh peta,
tenaga lokal yang tak pernah disiapkan,
dan alam yang terus membayar
harga kebijakan yang salah arah.
Namun meski luka-luka itu nyata,
kami menolak menutup buku
dengan keputusasaan.
Sebab Sumbawa
bukan tanah yang menyerah.
Ia dibangun oleh orang-orang
yang terbiasa hidup keras,
tapi tak pernah kehilangan martabat.
Di 2026 ini,
harapan kami tidak naif.
Ia lahir dari ingatan,
tumbuh dari kritik,
dan dijaga oleh keberanian.
Kami berharap pemimpin
belajar turun sebelum memerintah,
mendengar sebelum memutuskan,
dan berani mengoreksi
kebijakan yang terbukti melukai.
Kami berharap pembangunan
tak lagi diukur dari tinggi proyek,
tetapi dari seberapa banyak
warga yang bisa hidup layak
tanpa harus pergi meninggalkan tanahnya.
Kami berharap tambang
benar-benar meninggalkan manfaat,
bukan hanya lubang dan cerita sukses.
Pariwisata belajar berbagi ruang,
investasi belajar menumbuhkan manusia,
dan anggaran belajar jujur
pada kebutuhan paling dasar.
Kami berharap sekolah-sekolah
tak lagi bertahan dengan sabar semata,
guru dihormati dengan kesejahteraan,
dan anak-anak Samawa
boleh bermimpi tinggi
tanpa harus menjauh dari rumahnya.
Harapan ini tidak kami titipkan
pada pidato tahun baru,
melainkan pada kerja harian
yang bisa diawasi, dikritik, dan diperbaiki.
Jika 2026 berjalan lambat,
kami akan mengawal.
Jika ia kembali menyimpang,
kami akan bersuara.
Karena Sumbawa
bukan objek kebijakan,
melainkan subjek masa depan.
Dan rangkaian puisi ini
kami tutup dengan satu keyakinan sederhana:
bahwa tanah yang dihormati,
rakyat yang didengar,
dan kebijakan yang adil—
itulah pembangunan yang sesungguhnya.
*Bionarasi Penulis
Sri Asmediati, S. Pd, kelahiran Sumbawa. Berprofesi sebagai guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Labuhan Badas. Hobi menulis puisi juga menjadi penulis opini di koran lokal Sumbawa dan mengisi beberapa kolom portal media online. Pada perayaan hari PGRI dan Korpri telah mendapat penghargaan dari Bupati Sumbawa sebagai Pengembang Literasi yang Produktif Menulis. Memiliki beberapa buku solo kumpulan puisi dan cerpen juga novel. Bisa dijumpai di IG. Asmediati5, dan Fb. Asmediati.
Redaksi|JEJAKNTB




















