Foto. Kedua Peserta Didik yang ditinggal kedua orang tua yang merantau dan merupakan peserta didik ibu Guru Aenun Jariah
SUMBAWA, JEJAKNTB||Profesi guru seringkali dihadapkan pada tantangan yang menguji kesabaran. Namun, bagi Bu Aenun, seorang guru di salah satu sekolah inklusi di seputaran Sumbawa, kesabaran adalah kunci utama dalam membimbing tunas bangsa. Kisahnya menjadi sorotan karena dedikasi dan ketulusannya dalam merangkul setiap perbedaan di kelasnya.
Awalnya, Bu Aenun sempat merasa ragu akan kemampuannya menjadi pendidik yang baik. Namun, setelah mendapatkan pengalaman praktik di sekolah inklusi melalui program Pendidikan Profesi Guru (PPG), pandangannya berubah drastis. Ia menyadari bahwa anak-anak, dengan segala sifat dan karakteristik unik mereka, membutuhkan bimbingan ekstra yang tidak bisa hanya mengandalkan metode pengajaran konvensional.
Merangkul Perbedaan dengan Hati
Di sekolah inklusi tempatnya mengajar, Bu Aenun menghadapi beragam karakter siswa, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus. Di sinilah kesabarannya benar-benar teruji. Ia tidak hanya berperan sebagai pengajar materi pelajaran, tetapi juga sebagai figur orang tua dan sahabat yang memberikan dukungan emosional.
Bu Aenun meyakini bahwa setiap anak berhak mendapatkan waktu dan perhatian yang cukup untuk memahami pelajaran. Ia sering meluangkan waktu lebih untuk melakukan pendekatan personal, memastikan tidak ada satu pun murid yang merasa tertinggal atau tertekan dalam proses belajar.

Menemukan Kebahagiaan dalam Pengabdian
Meski menghadapi lelah fisik dan mental, Bu Aenun menemukan kepuasan tersendiri dalam pengabdiannya. Melihat senyum tulus dari murid-muridnya ketika mereka berhasil memahami suatu konsep, meskipun harus diulang berkali-kali, menjadi motivasi terbesarnya. “Justru dari kalian, saya belajar banyak menjadi seorang guru, nak,” ujarnya, mengutip salah satu kutipan inspiratif yang mencerminkan kerendahan hatinya sebagai pendidik.
Kisah Bu Aenun ini menjadi inspirasi bagi banyak pihak, mengingatkan bahwa esensi dari seorang guru yang hebat bukanlah seberapa banyak materi yang disampaikan, melainkan seberapa besar hati yang diberikan dalam mendidik dengan penuh kesabaran dan kasih sayang.
” Anak-anak sangat berharap ke kaji, mereka telah kehilangan sosok kedua orang tuanya jadi keberadaan saya disini untuk saling Sakiki rarah, ada anak yang ditinggalkan kedua orangtuanya dan ibunya pergi merantau,” pungkasnya.(Nkm)




















