JejakNTB.com, JAKARTA | Muhammad Firdaus Oiwobo SH kini menjadi viral setelah berselisih faham soal nasab dan silsilah dengan cucu sultan bima yang juga kandidat doktor ilmu filologi ibu Dewi Ratna Nurmuchlisa Mandyara sepekan. Ia adalah sosok pengacara yang sangat disegani di Ibukota Jakarta, yang telah banyak pengalaman dan sosok Daus tiba tiba viral menghentakkan jagat maya dan menyita perhatian publik se Nusantara ketika beliau angkat bicara meluruskan nasabnya sebagai cicit dari Sultan Ismail dan buyutnya Raja Sajari I sekitar Abad 13 hingga 14 sebelum masehi.
Banyak yang menyerang pribadi Daus setelah lelaki yang berprofesi sebagai pengacara kondang Jakarta tersebut mengaku punya silsilah dari Kerajaan dan Kesultanan Bima Mbojo. Sontak saja Cucu dari Sultan Muhammad Salahuddin yakni Dewi Ratna Nurmuchlisa Mandyara misalnya habis habisan membullying Muhammad Firdaus diberbagai momentum apapun termasuk media sosial tak terhindarkan bahkan saling serang menyerang yang tak berkesudahan adanya.
Apa sebenarnya kata kata Firdaus yang membuat semua orang marah dan tiba tiba murka?
Berdasarkan pengamatan media ini, diksi yang diungkapkan Pria kelahiran Jakarta yang berdarah aseli Bima kelahiran 1976 ini sebenarnya sangat sederhana tidak ada berlebihan, ia hanya menegaskan nasab dan garis keturunan maupun silsilahnya yang kadung juga telah diakui oleh sejumlah Raja Raja se Nusantara bahkan Raja Tallo dari Makassar pun sangat mahfum dengan kisah itu serta sangat apresiasi kepada Muhammad Firdaus yang kini berprofesi sebagai Advocates and Law Firm di Jakarta.
Muhammad Firdaus, SH hanya ingin meluruskan silsilah dan garis keturunannya yang sesuai dengan kisah dan cerita serta fakta yang empiris adanya, bukan dibuat buat atau dalam bentuk narrative teks melainkan accurately data yang bisa disepadankan dengan bukti maupun testimoni sejarah yang ada.
Firdaus sebagai warga negara yang baik sangat waras dan normal jika ingin mengetahui sejarah asal usulnya dengan baik dan tentu saja semua orang pun melakukan hal yanh sama sebagaimana yang dilakukannya sebagai wujud tanggung jawab moral atau moral force akidah dan tauhid keimanannya.
Dalam UUD 1945 telah diatur dengan baik bahwa setiap warga negara berhak hidup layak dan diakui negara serta berhak menelisik keturunan dan silsilahnya dengan teramat baik, nah apa yang dilakukan oleh saudara saya Muhammad Firdaus SH tidak salah.
Sebelumnya Cucu dari Sultan Muhammad Salahuddin Bima beserta keluarganya baper dengan sikap dan tindakan yang dilakukan Muhammad Firdaus pasalnya menurut mereka cara yang dilakukannya sangat menyinggung perasaannya padahal daus hanya menelusuri jejakrekam keluarga dan nasabnya seperti apa bukan selebihnya.
” Saya tidak dalam kapasitas punya kepentingan menjelang tahun politik atau ingin menjadi Sultan Bima melainkan saya hanya ingin luruskan sejarah bahwa pusat kerajaan Islam yang pertama di pulau Sumbawa itu adanya yakni di Maria Wawo Kabupaten Bima,” tegas Muhammad Firdaus dalam wawancara khusus dengan jejakntb.com beberapa hari lalu.
Masih Firdaus, selain meluruskan nasabnya juga ia telah diakui oleh 500 Kepala Keluarga yang marganya Sultan dan Raja Se Nusantara melalui WAG para Raja Se Indonesia baru ini dan Daus pula didaulati untuk menjadi Panglima nya Majelis Salatin sebuah kelembagaan yang telah dikukuhkan secara kenotariatan
Pusat kerajaan Islam pertama di tanah Sumbawa adalah di Maria dengan masjid pertamanya yang terletak di kalodu, Panglima perang kerajaan raja saja berjuluk la Reba dengan pasukanya yang berjuluk pasapu kala, termasuk buyut saya yang mengislamkan raja Bima pertama yang masuk Islam sejak abad 16, Saya memang lahir di Jakarta namun karena kecintaan saya kepada Bima dan Dompu makannya saya cari sejarah itu sejak belasan tahun lalu,
“Harusnya saya, yang buta sejarah ini di jelaskan oleh keluarga Sultan yang merasa sudah benar sejarahnya, jangan malah saya di bully, ketidaktahuan saya beralasan jika saja ingin dibantah.alasan kongkritnya adalah saya lahir di Jakarta dan besar di jakarta. Dan saya hanya anak manusia yg bangga kepada kampung halaman bapak dan ibu saya, Banyak orang Bima malah ngga mau ngaku orang Bima ketika merantau.dan ini sangat menyedihkan,” sesalnya.

“Sejarah Bima saya gali dari para kerabat kesultanan Nusantara dan dari bukti empiris yang keluarga saya di Bima miliki,” tulisnya lagi
Firdaus tetap bersikukuh bahwa dirinya tidak salah dan mengaku hanya ingin menjelaskan nasabnya beserta keturunan ke Publik sesuai dengan data yang ia dapatkan selama ini.
Dalam group itu dia menambahkan bahwa Aranae berasal dari Hadramout dan Iraq hadir di Bima sekitar Abad ke- 13 menyiarkan Islam bersama muridnya yang bernama Datuk RI Tiro atau Datuk Pagaruyung yang di juluki La Kali Kadhi dan menjadi Raja di kerajaan Saja Pertama yakni pada abad ke- 15 dengan gelar Raja Sajari Pertama, Kerajaan Islam Sajari berlokasi di Desa Wawo Maria Kabupaten Bima yang saat itu disebut Donggo Besar yang wilayah awalnya hanya di Maria Wawo hingga Wera, Ngali, Monta (Munta) lalu merambah Manggarai , Alor bahkan hingga ke Nusa Tenggara Timur.
Wawo Maria ini adalah pusat pemerintahan Raja Saja dan Mbojo, Raja Mbojo akhirnya sepakat dengan Raja Sajari pertama untuk bergantian memimpin Bima, dan turun temurun Kerajaan Bima akhirnya bergantian antara Raja Saja dan Raja Mbojo.
Hingga adanya perkawinan silang antara keluarga Raja Saja dengan keluarga Raja Mbojo, hingga melahirkan para Sultan Bima.
Dia sangat serius bahkan untuk menguatkan data datanya Muhammad Firdaus Oiwobo SH mencoba menggalang dukungan dengan menggelar zoom meeting yang bertajuk Hilangnya Hak Putra Mahkota di Tanah Sejarah, acara tersebut telah disiarkan tadi malam pada pukul 18.30 WIB dengan menggunakan Zoom Meeting dengan Saudara Sandi Tumiwa SH bertindak sebagai Moderatornya.
Ditanya tentang keseriusannya mengurai hal tersebut, silsilah yang mengaku Cicit dari darah Sultan Ismail itu kembali menulis dalam akun grup Sahabat Budaya,
Saking seriusnya, Sabtu (17/9) telah di adakan Zoom Meeting bersama Majelis Salatin Assyirof Azzahro dan para Sultan Asli yang tergabung dalam Majelis Salatin asyirof azahro, dan dalam Zoom ini kami persilahkan beberapa tokoh pemuda dan budaya mengikuti” pokok pembahasan nya adalah jawaban majelis salatin asyirof azahro atas tuduhan miring terhadap panglima salatin (Muhamad Firdaus Oiwobo SH) yang bergelar Alif Muhamad Syah (cucu kandung putra mahkota bima dari sultan Ismail Muhamad syah). Zoom ini akan di share sebentar lagi, dan akan di mulai pukul 18. 30 WIB malam ini
Zoom insya Allah akan di pimpin oleh ketua umum majelis salatin Yang Mulia sultan DR. syarif Andi Syahriansyah Alwi Assyathiri La Temmu page Arung Paroto,
Di hadiri oleh beberapa Sultan di Tanah Air, diantaranya yang MULIA :
1. Sultan Fuad BaraQbah ( Zambi )
2.DR. Can Hamdani Al Kaff, SH, MH ( cucu Mukti kesultanan Banjar Kalimantan)
3.Andi Muis Petta Serang ( cucu Sultan Tallo) Sulawesi selatan.
4. Sultan Sepuh jaenudin II Arianatareja ( Pangeran Kuda Putih ) Cirebon / kuningan
5. Prof. DR. Yusdi Andra ( ahli sejarah) dan sultan serta juriat lainnya
Dan para tokoh adat budaya dan mahasiswa akan hadir di Zoom ini
Acara ini akan di pandu oleh moderator artis Sandy Tumiwa, SH
Terima kasih sebelumnya
Kami ucapkan terima kasih
Panitia Zoom
Zoom ini akan di rekam dan disiarkan Oleh Intelmedia (PT BIMA ARTHA KUMALA GEMILANG )
Fakta – Fakta Kebenaran Sejarah diungkap M. Firdaus, S.H.
Pusat kerajaan Islam pertama di tanah Sumbawa adalah di Maria dengan masjid pertamanya yang terletak di kalodu, Panglima perang kerajaan raja saja berjuluk la Reba dengan pasukanya yang berjuluk pasapu kala, termasuk buyut saya yang mengislamkan raja Bima pertama yang masuk Islam sejak abad 16, Saya memang lahir di Jakarta namun karena kecintaan saya kepada Bima dan Dompu makannya saya cari sejarah itu sejak belasan tahun lalu, Harusnya saya yang buta sejarah ini di jelaskan oleh keluarga Sultan yang merasa sudah benar sejarahnya, Jangan malah saya di bully, ketidaktahuan saya beralasan jika saja ingin dibantah.alasan kongkritnya adalah saya lahir di Jakarta dan besar di jakarta. Dan saya hanya anak manusia yg bangga kepada kampung halaman bapak dan ibu saya, Banyak orang Bima malah ngga mau ngaku orang Bima ketika merantau dan ini sangat memalukan menyedihkan sekaligus memalukan,” ungkapnya.
Fakta kedua, Masjid Kuno Kalodu yang berada di Kalodu Wawo Maria yang berdekatan dengan utara bahwa saat ini masjid kuno bersejarah tersebut kokoh berdiri namun sayang tak ada yang merawatnya terutama atensi dari Pemkot maupun Pemkab setempat tidak ada sama sekali. Sudah banyak pihak yang menyuarakan agar masjid kuno bersejarah itu dipugar sebagai benda cagar budaya namun pemerintah kedua daerah tidak ada agregatnya untuk membenahi itu semua termasuk temuan cagar budaya situs maupun makam lainnya disekitaran tempat tersebut. Hanya lembaga Adat Masyarakat Wawo saja yang berperan untuk memperhatikannya walau itu merupakan asset budaya dan dijadikan situs budaya oleh Pemkab dan Pemkot Bima.
Ketiga, dalam referensi yang menguatkan historical of Raja Saja atau Sajari satu hingga tiga yang ditulis tangan setebal puluhan halaman yang ada ditangan redaksi menegaskan bahwa awal mula penyebaran Islam di Bima dan saat pihak keluarga Raja Aditiya Mulawarman dan Pagaruyung merupakan keturunan Majapahit saat itu yang hendak belajar Ilmu Agama Islam datang belajar pada Bani Hasyim yang tinggal di Iraq dan Hadrolmaut sekitar abad tiga belas yang berjuluk Ara NaE atau Rato Arab Lalu nama Datuk Pagaruyung itu dijuluki La Kalikaddi. Maksudnya Rato Ara yang telah dianggap orangtua dan dianggap Datuk oleh Pagaruyung itu meninggal dunia di Wosundaru atau dimakamkan di Wawo pada Abad 14,
Lalu Kapal Laut yang berjulukan La Ara pula yang digunakan untuk menyebarkan syiar- syiar Islam kala itu pun, turut digunakan juga oleh Kesultanan Raja Saja untuk menyebarkan misi dakwah dan Keislaman untuk Pulau Sumbawa saat itu. Terutama sekali syiar dilakukan oleh Raja Saja mulai dariwilayah Pai Wera hingga Sape dan lanjut ke Sumbawa. Kapal La Ara inilah yang kini menjelma menjadi pulau ular setelah bangkai kapalnya ditenggelamkan para Rato (Bangsawan/Kaum Priyayi.RED.) kala itu.
Diungkapkan dalam ceritera itu, bahwa Kapal Laut La Ara yang digunakan untuk menyebarkan agama islam ditenggelamkan oleh Rato Ara serta sejumlah pengikutnya karena tidak suka dan iri melihat rombongan beserta kapal yang kerapkali sukses menebarkan agama islam. Akhirnya penenggelaman kapal inilah ditempat di salah satu lokasi di Wera saat ini terkenal dengan Pulau Ular.
Dan sekitar Abad ke 14 Generasi Datuk Pagaruyung diangkat jadi Kerajaan Islam Pertama yang memimpin Mbojo hasil penunjukkan Rakyat dan Masyarakat Maria Wawo di Donggo NaE (Donggo Besar .RED.) saat itu.
Dan Kerajaannya bernama RAJA SAJA yang bergelar SAJARI SATU sebagai Raja Pertama dengan membangun kerajaan Kalodu dengan membangun Masjid Besar atau Masjid Raya Kalodu. Masjid tersebut dibangun dengan maksud dan tujuan sebagai basis kekuatan dalam berjuang memasyarakatkan Islam dan Syariahnya bagi pemeluknya saat itu.
Kemudian RAJA SAJA membentuk anak kerajaan kerajaannya seperti Raja Saja Pai di Wera Sape hingga memimpin Dakwah dan Pengajian di Kerajaan Belo maupun Ngali.
Pada Abad Kelima Belas RAJA SAJA Bergelar SAJARI SATU meninggal dunia dan setelah Kerajaan tersebut meninggal dunia akhirnya Raja Saja dikendalikan muridnya dari Wawo Roi yang bergelar SAJARI DUA karena pada saat itu PUTERA MAHKOTA masih sangat kecil dan akhir Abad ke 15 RAJA SAJARI DUA mangkat dan dikebumikan di Desa Roi.
Setelah kedua Raja tersebut wafat akhirnya kerajaan dipimpin kembali oleh putera asli Wawo Maria yang menggantikan SAJARI SATU maupun SAJARI DUA hingga datangnya RI BANDANG – RI TIRO membantu Kerajaan SAJA.
Yang pada akhirnya Kerajaan Saja menggempur Kesultanan Bima yang dibantu RI BANDANG – RI TIRO hingga LA KA’I mengikrarkan masuk Islam namun LA SALISI yang berasal dari Istana Mbojo atau Kesultanan Bima merasa tidak berkenan hati yang akhirnya LA KA’I pun digulingkan SALISI. Mengingat LA KAI dianggap tidak sejalan dan akhirnya dibantu DATUK RI BANDANG dan DATUK RI TIRO bersama Raja Sajari Tiga dan Sultan Tallo menyelamatkan LA KAI ke Wawo dan LA KAI pun masuk Islam hingga berubah nama menjadi SULTAN ABDUL KAHIR.
Kedatangan Kerajaan Gowa Tallo saat itu hadir untuk membantu Kesultanan Bima dalam meluruskan juga jejakrekam Raja Salisi yang tidak tercatat dalam sejarah Bima dan Raja Tallo dibantu Ri Bandang bersama Ri Tiro saat itu serta Sajari tiga akhirnya berhasil merebut kembali ASI ISTANA MBOJO yang pada akhirnya RAJA SAJA dan Mbojo membuat perjanjian bersama yaitu bergabung melebur menjadi satu kerajaan yang bernaung dibawah Panji RAJA BIMA. Nah, semenjak itulah Raja Bima di abad 16 hingga 17 berubah menjadi KESULTANAN. Dengan kesepakatan kepemimpinnya bergantian antara pihak Raja Mbojo dan Raja Saja yang ada di Wawo Maria saat itu. Akhirnya diputuskan saudara Abdul Kahir memimpin Sultan Bima yang pertama dan Sajari Tiga menjadi bagian dalam Kabinet Kesultanan tersebut. Dan sejak saat itu pula hubungan baik antara Raja Saja yang berada di Wawo Maria maupun Sultan Bima terjalin dengan baik hingga adanya pernikahan campur kawin silang dan dasar dari keturunan Wawo inilah lahirlah Muhammad Firdaus SH yang terlahir dari hasil pernikahan campur silang antara pernikahan beberapa kesultanan. (Nkm)




















