Dua Putra Mahkota Tersesat di Tanah Peradaban akibat kelamnya Sejarah kini berada Dipersimpangan

JejakNTB.com, BIMA | Setelah Majelis Adat Syara’ sukses gelar ‘Suna ro Ndoso’ kini muncul beberapa comments postingan akun bernama Ferdiansyah Mei Putra melalui status Firdaus Oi Wobo yang tengah berpolemik dengan cucu Sultan Muhammad Salahuddin Bima Dewi Ratna Nurmuhclisa Mandyara di akun facebooknya.

Kemunculan kembali akun bernama Ferdiansyah Mei Putra melalui status Firdaus Oi Wobo sangat menghebohkan jagat maya dan mengundang ragam komentar para netizen

Salah satu netizen dengan akun Amirullah misalnya berkomentar,

Akun bernama Ferdiansyah Mei Putra mencoba menimpali status yang diupload pengacara koboy tersebut.

Ferdiansyah Mei Putra lahir dari rahim Diana Loli Emakulata atau Ata, yang sempat viral di tahun 2010 dan merupakan Putra Sulung dari Sultan Bima Mendiang (Alm) H. Ferry Zulkarnain, S.T., mantan Bupati Bima 2 Periode.

Keberadaan Ferdiansyah Mei Putra sama dengan Firdaus Oi Wobo, sama sama ingin menjelaskan nasabnya namun tidak diakui hanya saja beda dengan Ferdiansyah. Kalau ferdiansyah benar benar anak biologisnya Ferry Zulkarnain hanya saja pihak keluarga menolak mengaku padahal anak tersebut anaknya Sultan Bima dan sayangnya pihak keluarga enggan menanggapinya.

Dikutip dari salah satu media Internasional Okezone.com

Sang anak mengaku sempat dibuang dan ditelantarkan ayahnya, bahkan untuk sekolah pun dia terpaksa menggunakan surat keterangan miskin karena tidak mampu membayar biaya sekolah.

Diana Loli Emakulata (40) dan Pegie Ferdiansyah Mei Putra (18), mengaku baru berani muncul setelah selama 19 tahun menutup-nutupi identitas mereka. Diana Loli Emakulata atau Ata, mengaku selama ini dirinya dipaksa menghilang untuk menjaga nama baik keluarga Bupati Bima.

Diana mengaku selama 19 tahun bersama anaknya Ferdiansyah berpindah-pindah tempat antara Jakarta, Kupang dan Bima. Bahkan untuk menghidupi anaknya, Ata terpaksa harus bekerja honor sebagai anggota polisi pamong praja di Kota Bima.

Menurut Ferdiansyah, meski dirinya merupakan anak Bupati Bima dan putera mahkota Kesultanan Bima, namun untuk sekolah, ibunya kerap tidak mampu membayar hingga harus menggunakan surat keterangan miskin agar bisa dibebaskan dari biaya pendidikan.

“Meski sudah tahu saya ini anaknya bupati, tapi kalau ke kantor bupati selalu disuruh tunggu di luar dan dilempar sana lempar sini oleh ajudannya,” kata Ferdiansyah.

Menurut pengakuan Ata, 19 tahun lalu, dirinya menjalin hubungan dengan Ferry Zulkarnain, hingga melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Ferdiansyah oleh Ferry zulkarnain.

Namun karena dirinya bukan dari kalangan darah biru, Ata dan Ferdiansyah hanya bisa tinggal di pendopo selama empat bulan. Setelah itu Ata dan Ferdiansyah diasingkan hingga ke Kupang dan ke Jakarta tanpa dikirimi biaya sama sekali oleh Ferry Zulkarnain.

Kini Ata dan Ferdiansyah kembali ke Bima dan berencana akan mengadukan perlakukan Ferry Zulkarnain ke Komnas HAM, Komnas Perlindungan Anak dan Menteri Dalam Negeri.

Tidak hanya itu, Ata pun menantang Ferry agar melakukan tes DNA, jika Ferry terus menghindar dan tidak mengakui Ferdiansyah sebagai anaknya.

“Kalau Ferry tetap tidak mengakui, kita buktikan dengan tes DNA saya tantang sama dindanya (istrinya). Sekalian untuk dibuktikan di pengadilan lebih cepat itu makin baik,” tegas Ata.

Kemunculan istri dan anak simpanan bupati yang juga putra mahkota Kesultanan Bima ini membuat masyarakat Kabupaten Bima mulai bertanya-tanya mengenai pewaris kerajaan nanti.

Hingga kini status dua putra mahkota ibarat Dua Putra tersesat di Tanah Peradaban akibat kelamnya Sejarah kini berada dipersimpangan dan mengurai benang kusut yang ada.

Munculnya Si Sulung Sultan ke 16 bisa jadi ibarat cahaya yang menerangi ujung terowongan menyingkap tabir dibalik kelamnya sejarah dan banyak hikmah dibalik itu semua.

 

Redaksi

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print
Scroll to Top