JejakNTB.com | Kasus dugaan penganiayaan yang dilakukan Kepala Sekolah SDN Inpres Tonda terhadap Seorang Ibu Guru Suka Rela bernama Rosdiana yang sempat viral akhirnya berakhir dengan damai dan mencabut laporan di Kepolisian yang diawali Rosdiana pada Kantor Mapolsek Madapangga, Sabtu (24/2).
Kasus yang sudah menjadi buah bibir itu ramai diberitakan oleh berbagai media, terutama koran nasional. Dan belum didapatkan informasi dari Rosdiana kenapa masalah yang cukup serius dan sangat merendahkan martabat dunia pendidikan dan keluarganya begitu mudah dicabut dan anehnya tanpa diketahui sejumlah awak media.
Federasi Guru Independen Indonesia Kabupaten Bima melalui Agus selaku wakil sekertaris mewakili Ketua DPC pada jejakntb Minggu malam (25/2) mengaku kaget
” iya padahal kasusnya besar dan berat itu. Kok semudah itu mencabut laporan apalagi viral dan oknum terlapornya adalah pejabat eselon IV yang juga keluarga dekat Kadisdikbudpora Kabupaten Bima dan kakaknya Kepala Inspektorat,” celetuknya mengawali pembicaraan.
Pemilik nama lengkap Agusriadi tersebut tak habis pikir kasus sedahsyat itu bisa dengan mudah dicabut padahal telah melukai dunia pendidikan.
” Saya lebih suka kasus itu diproses hingga pengadilan supaya ada efek jera, dugaan saya kasus ini sudah dintervensi Kadis dan Inspektorat meski masih ada hubungan keluarga antara pelapor dan terlapor tetapi ini murni pidana 351 tentang penganiayaan harusnya APH menolak atau memroses dulu dan kekhawatiran saya sudah pasti akan terulang,” tambah Agusriadi pada jejakntb
Kadisdikbudpora Zunaidin saat dikonfirmasi ponselnya tidak bisa dihubungi karena duluan telah memblokir redaksi padahal saat kasus terjadi masih bisa dihubungi
Agus melihat kasus itu sudah ada yang intervensi terutama dari pihak polsek yang menjembatani perdamaian padahal sejatinya itu pidana dan bukan delik aduan
” Ada pengakuan dari anak pelapor via messenger yang mengaku keluarga kelabakan menghadapi laporan balik terlapor dan ironisnya akun bernama Rania itu pasrah soal saksi,” masalahnya madadoho kee jatuh semua pada saksi dan semua guru guru bela kepala sekolah,” itulah bunyi sms Rania pada media yang sempat dilansir agus.
Agus mengkhawatirkan perundungan atau bullying semacam ini akan terus terjadi di wilayah Bima khususnya daerah Kabupaten karena lemahnya pengawasan dan kendornya sanksi maupun penindakan atas pelanggaran pidana seperti ini
” Kabupaten ini akan begini terus dan ini kesekian kalinya. Sebelumnya kasus penganiayaan terhadap guru oleh murid hanya karena gurunya melarang merokok, guru babak belur mukanya dihadapan siswa lalu oleh PGRI di damaikan tanpa di proses hukum. Begitupula dengan kasus di Kota Bima bahkan Sumbawa akhirnya damai.,” sesalnya
Dia mengkhawatirkan hal semacam ini ibarat fenomena gunung es yang bisa dan kapan saja meletus atau meledak lagi
” karena sudah diajari oleh pendahulunya ujung ujungnya damai maka generasi berikutnya bakalan tak takut meniru atau bahkan pingin mencoba apalagi ada yang seketika sensasi pingin tenar dengan kasus pasti viralin lagi dan lagi,” tambah agus
Kapolsek Madapangga IPDA Kader Faisal BSA yang dikonfirmasi minggu malam membenarkan hal tersebut dan pelapor telah mencabut sendiri laporannya yang disaksikan sejumlah pihak termasuk terlapor Haerullah
” Alhamdulillah sudah karena keduanya masih ada hubungan kekeluargaan alasannya. Kita tetap welcome dengan apapun namun kita juga tidak bisa melarang atau menghalangi siapapun dari manapun untuk melapor dan mencabut laporan karena itu hak semua orang,” ucapnya
Sumber lain pun seperti kabaroposisi.com memberitakan Ibu Rosdiana mencabut laporan di Polsek Madapangga, Sabtu (24/2). Kasek Haerullah akan mencabutnya Senin (26/2) lusa begitu keterangan mereka masing-masing depan anggota Polsek setempat.
Hal ini dibenarkan Haerullah, dirinya akan mencabut laporannya setelah Rosdiana telah mencabut laporannya hari ini. Ini semua demi kekeluargaan, apalagi masalahnya hanya miskomunikasi, ” ucapnya.
Kata dia juga, ini sebagai pengalaman bagi dirinya atas cara memimpin dan hal hal kecil menjadi besar yang menimpa dirinya. Alhamdulillah, dapat terselesaikan dengan baik berkat dukungan keluarga, Kadis dan lainnya yang telah membina kami, ” Tandasnya.
Hal senada juga disampaikan Rosdiana, Ia mencabut laporannya ini atas dasar kekeluargaan dan menjaga marwah pendidikan di Madapangga.
“Semoga ini yang terakhir dan tak terulang lagi baik bagi dirinya dan guru guru yang lain, ” Harapnya.
Turut hadir pada kesempatan itu, guru guru di SDN Tonda, Pengawas serta keluarga Ibu Rosdiana pada proses pencabutan laporannya. (*)




















