Tria Stadewi
Tugas Akhir Mata Kuliah Psycholinguistics
Dosen Pengampu Mata Kuliah: M. Rajabul Gufron, S.Pd., M.A.
OPINI, MATARAM| Stroke merupakan salah satu penyebab utama gangguan kebahasaan yang signifikan, terutama pada individu lanjut usia. Gangguan ini dikenal sebagai afasia yaitu kondisi yang mengganggu kemampuan seseorang dalam berbicara, memahami, membaca, dan ,menulis, yang terjadi akibat kerusakan pada area otak yang mengendalikan Bahasa dan berbicara. Stroke dapat menyebabkan afasia karena tidak adanya aliran darah ke otak, sehingga sel otak mati atau rusak. Sekitar 25-40% penderita stroke mengalami afasia. Afasia sebagai salah satu jenis gangguan bicara, memiliki prevalensi 30,25% menjadi 42,4%. Gangguan kebahasan ini tidak hanya berdampak pada komunikasi sehari-hari tetapi juga pada kualitas hidup secara keseluruhan hidup.
Kemampuan berbahasa penderita stroke mengacu pada kapasitas dan kompetensi linguistik yang dimiliki oleh individu yang mengalami stroke. Stroke pada otak yang berdampak langsung pada kemampuan berbahasa seseorang.
Gangguan resepti, mengacu pada kesulitan dalam memahami Bahasa yang diterima, baik itu lisan atau tulisan. Terdapat 77,4% pasien tidak mampu memahami pembicaraan orang lain atau kesulitan dalam mengerti kata-kata atau kalimat yang diucapkan oleh orang lain. Mereka mungkin bisa mendengar kata-kata tetapi tidak dapat mengaitkan makna yang benar. Ini lebih umum pada afasia Wernicke, di mana kerusakan terjadi pada area otak yang berkaitan dengan pemahaman Bahasa. Gangguan Bahasa ekspresif yaitu tidak mampu mengucapkan kata atau frasa yang tepat saat berbicara, terjadi pada 64,2% pasien, penderita stroke mungkin mengalami kesulitan dalam berbicara. Mereka mungkin kesulitan mengucapkan kata-kata dengan benar atau membentuk kalimat yang koheren. Ini terjadi terutama pada kasus afasia broca, dimana area otak yang bertanggung jawab untuk produksi Bahasa mengalami kerusakan .
Melatih kemampuan berbahasa pada penderita stroke adalah proses yang kompleks dan memerlukan pendekatan yang sistematis serta dukungan. Untuk membantu pemulihan kemampuan berbahasa penderita stroke yang dapat dilakukan adalah: Terapi Wicara, terapi wicara adalah metode utama dalam pemulihan kemampuan berbahasa pada penderita stroke. Melatih penderita untuk mengucapkan kata-kata dengan jelas, membantu penderita mengatur intonasi dan ritme bicara, melatih kemampuan mendengarkan dan memahami kata-kata atau kalimat. Teknik Komunikasi Alternatif, Ketika kemampuan berbahasa sangat terganggu, Teknik komunikasi alternatif dapat membantu. Ini termasuk penggunaan gambar, isyarat, atau perangkat komunikasi yang dapat membantu penderita mengungkapkan pikirannya. Dan yang terakhir adalah Dukungan Keluarga Dan Teman, dukungan dari keluarga dan teman sangat penting dalam proses pemulihan. Dengan cara menghibur dan memberikan semangat pada penderita, berbicara dengan perlahan dan menggunakan kalimat yang sederhana untuk memudahkan pemahaman, secara rutin mengajak penderita untuk berbicara atau menulis tentang kegiatan sehari-hari.
Stroke dapat menyebabkan gangguan berbahasa yang signifikan, namun melalui pendekatan psikolinguistik yang tepat, pemulihan kemampuan berbahasa dapat dicapai. Terapi sangat penting untuk penderita karena berfokus pada Latihan kebahasaan dan stimulasi otak untuk membantu penderita stroke mengembalikan kemampuan berbahasa mereka. Penting untuk memulai terapi sedini mungkin, pendekatan psikolinguistik dalam terapi, seperti terapi wicara dan Latihan kognitif, dapat membantu pemulihan kemampuan berbahasa. Dukungan keluarga dan lingkungan yang mendukung sangant penting dalam proses ini. Dengan terapi yang tepat dan konsisten, penderita stroke dapat mengalami peningkatan signifikan dalam kemampuan berbahasa mereka, yang pada akhirnya meningkatkan kualitas hidup secara keselurahan.
* Penulis merupakan Mahasiswi Program Studi Pendidikan bahasa Inggris, UNW Mataram, 2024




















