Dalam Denting Perayaan, Menenun Masa Depan Sumbawa

Dalam Denting Perayaan, Menenun Masa Depan Sumbawa

 

 Oleh. Sri Asmediati

 

 

KOLOM SUMBAWA, JEJAKNTB|Setiap kali bulan perayaan ulang tahun Sumbawa tiba, udara terasa berbeda. Bukan hanya karena spanduk warna-warni yang membentang di sepanjang jalan, atau suara musik tradisional yang menggema dari panggung-panggung terbuka, tetapi karena ada getaran kolektif yang menyentuh kesadaran kita sebagai warga. Di momen inilah, Sumbawa tidak sekadar menjadi sebuah wilayah administratif, melainkan rumah besar yang mengundang seluruh anak negerinya untuk pulang—setidaknya dalam rasa dan ingatan.

Perayaan menyambut ulang tahun Sumbawa selalu menghadirkan dua wajah yang saling berhadapan, namun tidak saling meniadakan. Di satu sisi, ada wajah tradisi: tari-tarian, pakaian adat, kuliner khas, dan kisah-kisah lama yang dihidupkan kembali. Di sisi lain, ada wajah masa depan: panggung kreativitas anak muda, teknologi yang menyusup ke dalam cara kita merayakan, serta wacana pembangunan yang terus dikumandangkan oleh para pemangku kebijakan. Di antara dua wajah itu, kita berdiri sebagai saksi sekaligus pelaku.

Bagi sebagian orang, perayaan ini adalah pesta rakyat. Jalan-jalan dipenuhi senyum, pedagang kecil mendapatkan rezeki tambahan, dan keluarga-keluarga meluangkan waktu untuk berjalan bersama, menikmati keramaian yang jarang terjadi di hari-hari biasa. Namun bagi sebagian yang lain, perayaan ini adalah ruang refleksi. Ulang tahun bukan hanya soal bertambahnya angka, melainkan kesempatan untuk bertanya: sudah sejauh mana kita melangkah sebagai sebuah daerah? Apa yang telah kita rawat, dan apa yang masih kita abaikan?

Sumbawa dikenal dengan alamnya yang luas dan budaya yang kaya. Dari hamparan savana hingga pesisir yang memeluk laut biru, dari kearifan lokal hingga semangat gotong royong yang masih terasa di banyak sudut desa. Dalam perayaan ini, semua itu dipamerkan dengan bangga.

Namun, kebanggaan sejati tidak lahir hanya dari apa yang kita tampilkan di panggung, melainkan dari apa yang kita lakukan di luar sorotan kamera. Apakah nilai-nilai kebersamaan itu benar-benar hidup dalam kebijakan publik, dalam cara kita memperlakukan lingkungan, dan dalam kepedulian kita terhadap sesama?

 

Perayaan ulang tahun Sumbawa juga menjadi panggung bagi generasi muda. Mereka tampil dengan karya seni, inovasi, dan gagasan-gagasan segar tentang bagaimana Sumbawa seharusnya melangkah ke depan. Media sosial dipenuhi konten kreatif: video pendek tentang keindahan daerah, cerita tentang UMKM lokal, hingga kritik halus tentang fasilitas publik yang masih perlu dibenahi. Di tangan anak muda, perayaan ini tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga ruang dialog yang hidup.

Namun, di balik gemerlap lampu dan sorak-sorai, ada realitas yang tidak boleh kita lupakan. Masih ada jalan yang berlubang, sekolah yang membutuhkan perhatian lebih, dan desa-desa yang menanti sentuhan pembangunan yang merata. Perayaan seharusnya tidak menjadi tirai yang menutupi persoalan, melainkan jendela yang membuka kesadaran kolektif. Dalam semangat ulang tahun, kita diundang untuk merayakan sekaligus berkomitmen: bahwa kebahagiaan yang kita rasakan hari ini harus berlanjut dalam bentuk kerja nyata esok hari.

Peran pemerintah daerah tentu menjadi sorotan dalam momen ini. Pidato-pidato yang disampaikan di atas panggung perayaan bukan sekadar rangkaian kata indah, tetapi janji yang ditunggu realisasinya. Masyarakat berharap perayaan ini menjadi awal dari langkah-langkah konkret: program yang menyentuh akar rumput, kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan lingkungan, dan tata kelola yang transparan. Dalam suasana meriah, kritik yang disampaikan dengan cara yang santun dan membangun justru menjadi bentuk cinta yang paling tulus.

Tak kalah penting adalah peran masyarakat itu sendiri. Perayaan ulang tahun Sumbawa seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat rasa memiliki. Ketika kita merasa memiliki, kita akan lebih peduli. Kita akan lebih berhati-hati membuang sampah, lebih sabar di jalan, lebih peka terhadap tetangga yang membutuhkan. Rasa memiliki ini tidak bisa dipaksakan oleh regulasi; ia tumbuh dari kesadaran bersama bahwa Sumbawa adalah rumah yang harus dijaga bersama.

Menariknya, perayaan ini juga menjadi ajang pertemuan antara mereka yang tinggal di Sumbawa dan mereka yang merantau. Banyak anak daerah yang pulang kampung, membawa cerita dari kota-kota besar, bahkan dari luar negeri. Pertemuan ini menciptakan pertukaran ide dan perspektif. Sumbawa tidak lagi dilihat hanya dari dalam, tetapi juga dari luar. Dari situ, kita belajar bahwa menjaga identitas lokal tidak berarti menutup diri dari dunia, melainkan menemukan cara untuk berdiri tegak di tengah arus global.

Di era digital, makna perayaan pun mengalami pergeseran. Dokumentasi acara tidak lagi berhenti di album foto keluarga, tetapi menyebar luas di ruang maya. Satu unggahan dapat menjadi jendela bagi dunia untuk melihat Sumbawa. Ini adalah peluang sekaligus tanggung jawab. Peluang untuk memperkenalkan potensi daerah, dan tanggung jawab untuk menampilkan wajah yang jujur dan bermartabat. Apa yang kita bagikan hari ini akan membentuk citra Sumbawa di mata banyak orang.

Pada akhirnya, perayaan menyambut ulang tahun Sumbawa adalah tentang perjalanan bersama. Ia bukan hanya milik pemerintah, bukan hanya milik panitia, dan bukan hanya milik mereka yang tampil di panggung. Ia milik setiap warga, dari yang tinggal di pusat kota hingga yang berada di pelosok desa. Dalam setiap langkah tarian, setiap denting musik, dan setiap kata doa yang dipanjatkan, terselip harapan agar Sumbawa terus tumbuh menjadi tempat yang adil, sejahtera, dan membahagiakan bagi semua. Ketika lampu-lampu perayaan padam dan panggung dibongkar, yang tersisa adalah keseharian kita.

Di sanalah makna sejati ulang tahun diuji. Apakah semangat yang kita rasakan hari ini akan kita bawa ke hari-hari berikutnya? Apakah kebanggaan yang kita nyanyikan akan kita wujudkan dalam tindakan kecil yang konsisten? Jika jawabannya ya, maka setiap perayaan tidak akan pernah benar-benar berakhir. Ia akan terus hidup dalam cara kita bekerja, belajar, dan saling menjaga.

Sumbawa, di usianya yang terus bertambah, bukan hanya sedang merayakan masa lalu, tetapi sedang menulis masa depan. Dan kita semua, dengan peran masing-masing, adalah penulis di dalamnya.[]

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print
Scroll to Top