Gerakan Kolektif Rebut Kembali Lingkungan dengan Empati dan Kasih Sayang Sebuah Gagasan Mengubah Seremoni Menjadi Aksi

Gerakan Kolektif Rebut Kembali Lingkungan dengan Empati dan Kasih Sayang

 

 

“Sebuah Gagasan Mengubah Seremoni Menjadi Aksi

 

 

 

Oleh. Sri Asmediati*

 

 

KOLOM, SUMBAWA|Kita sedang terjebak dalam sebuah tragedi sosiologis yang akut: sebuah kondisi di mana institusi masyarakat kita—keluarga, lingkungan tetangga, hingga komunitas adat—telah mengalami kelumpuhan daya kritis.

Kita tidak lagi mampu membaca betapa curamnya ketimpangan yang mengepung anak-anak kita. Di balik gemerlap kemajuan, tersimpan kenyataan pahit: banyak anak yang benar-benar tidak berdaya melawan lingkungan yang beracun karena mereka dibiarkan berjuang sendirian tanpa kompas moral yang kuat dari orang dewasa di sekitarnya.

 

Kebobrokan struktur sosial ini bukan sekadar masalah statistik, melainkan serangan jantung bagi kejiwaan generasi kita. Kerusakan psikologis yang dialami anak-anak kita telah sampai pada titik yang mengerikan; mereka tumbuh dengan kecemasan kronis, hilangnya harga diri, hingga trauma mendalam akibat kekerasan yang dianggap biasa oleh lingkungan.

Saat kita memilih menjadi penonton pasif, kita sebenarnya sedang membiarkan batin mereka hancur berkeping-keping. Mereka mengalami alienasi atau pengasingan diri, merasa tak memiliki tempat aman untuk pulang, sehingga kekosongan jiwa itu mereka isi dengan pelarian-pelarian destruktif.

Faktanya, di bawah hidung kita, geng-geng anak sekolah tumbuh subur bukan lagi sekadar kelompok bermain, melainkan struktur gelap yang mengisi kekosongan kasih sayang tersebut.

Begitu banyak anak-anak kita yang telah menjadi korban narkoba tanpa pernah terdeteksi oleh orang tua maupun guru, karena mereka telah mahir menyembunyikan luka psikologis di balik layar gadget.

Gadget telah mengambil alih seluruh interaksi manusiawi, menciptakan sekat tak kasat mata di mana anak-anak “pergi” ke tempat yang tak terjangkau oleh pengawasan kita meskipun mereka duduk tepat di depan mata. Dalam keterasingan digital itulah, agen perusak bekerja dengan presisi—menanamkan racun perundungan dan kecanduan—sementara kita tetap asyik dengan dunia kita sendiri, abai bahwa fondasi mental mereka tengah runtuh.

Momentum Hardiknas 2 Mei 2026 yang akan datang harus menjadi garis pembatas yang berani. Kita harus punya nyali untuk meninggalkan seremoni kaku dan menghadirkan empati nyata. Tidak ada gunanya upacara yang megah jika rumah-rumah kita telah “dijebol” oleh pengaruh destruktif dan anak-anak kita menderita dalam diam. Kita butuh gerakan yang terukur dan presisi untuk membongkar kebobrokan ini. Strategi kita bukan lagi sekadar himbauan administratif, melainkan sebuah reklamasi moral secara total atas ruang-ruang publik dan digital yang telah dikuasai oleh agen perusak.

 

Kita harus merebut kembali otoritas nurani yang telah lama kita gadaikan. Gerakan ini adalah sebuah “kejutan listrik” untuk menyembuhkan luka psikologis kolektif dan menyatukan kembali kepingan empati yang berserakan. Kita harus menghapus sekat antara “anak kandung” dan “anak orang lain” melalui sebuah kontrak batin semesta. Setiap orang dewasa—mulai dari tokoh masyarakat, pemuka adat, hingga warga di gang sempit—harus kembali menjadi perisai Peran Guru di Sekolah.

Guru memiliki peran besar dalam menciptakan lingkungan yang aman. Ketegasan guru terhadap ejekan kecil sekalipun adalah pesan kuat bahwa perundungan tidak ditoleransi.

Di salah satu SD, seorang guru menghentikan pelajaran ketika mendengar siswa mengejek
temannya. Guru tersebut mengajak kelas berdiskusi tentang perasaan jika diejek, lalu mengaitkannya dengan nilai Sabalong Samalewa. Sejak saat itu, suasana kelas menjadi lebih
saling menghargai.

Contoh sederhana ini menunjukkan bahwa pendidikan nilai tidak selalu membutuhkan cara yang rumit, tetapi membutuhkan kesadaran dan keteladanan.

Peran Orang Tua dan Tokoh Masyarakat

Orang tua adalah pendidik pertama. Anak yang terbiasa mendengar kata-kata kasar di rumah cenderung menirunya di luar. Sebaliknya, anak yang dibesarkan dengan bahasa yang lembut dan penuh penghargaan akan lebih mudah berempati.

Tokoh adat dan tokoh agama juga memiliki peran penting. Suara mereka masih memiliki wibawa untuk mengingatkan bahwa perundungan bertentangan dengan jati diri orang
Samawa.

Pesan Penutup untuk Guru dan Para Orang Tua Peserta Didik 

Guru dan orang tua adalah dua sosok yang paling dekat dengan anak. Dari merekalah anak belajar berbicara, bersikap, dan memperlakukan orang lain.Untuk para guru, sekolah bukan hanya tempat mengajar pelajaran, tetapi juga tempat menanamkan nilai kemanusiaan. Jangan pernah menganggap ejekan kecil sebagai hal sepele. Kata-kata yang kita biarkan hari ini bisa menjadi luka yang dibawa anak seumur hidup.

Guru yang mau mendengar dan melindungi akan selalu dikenang oleh muridnya. Untuk para orang tua, rumah adalah sekolah pertama. Cara kita berbicara di rumah, cara kita menghargai orang lain, dan cara kita menyelesaikan masalah akan ditiru oleh anak-anak. Ajarkan anak untuk menjaga kata, menjaga sikap, dan berani menolong teman yang disakiti. Jangan hanya bertanya tentang nilai pelajaran, tetapi tanyakan juga tentang perasaannya.

Mari kita hidupkan kembali nilai budaya Samawa: saling satingi dalam berbicara, saling tulung dalam bertindak, dan Sabalong Samalewa dalam hidup bersama. Anak-anak tidak hanya membutuhkan kecerdasan, tetapi juga rasa aman dan teladan. Karena tugas kita bukan sekadar membesarkan anak yang pintar, tetapi membesarkan manusia yang beradab dan berperikemanusiaan.[]

 

*Penulis adalah Guru dan Pemerhati Anak dan Pendidikan, tinggal di Sumbawa Besar

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print
Scroll to Top