Ilustrasi/ist
JEJAKNTB.COM |Mudik Idulfitri 1446 Hijriyah dirasa berat oleh warga yang akan pulang kampung menggunakan bus. Pasalnya, harga tiket yang mereka beli naik hingga 300 persen
Sejumlah Pelajar dan Mahasiswa di Nusa Tenggara Barat mengeluhkan melambungnya harga tiket bus malam antar Kota antar propinsi (AKAP) yang melayani rute Bima – Mataram. Paska Hari Raya Idul Fitri harganya kian melambung tinggi hingga mencapai Rp 500rb per penumpang.
Hal tersebut berlaku sejak hari jelang lebaran hingga hari ini Minggu 6 April 2025. Terpantau, harga tarif bus malam termasuk travel mencekik pelajar dan mahasiswa yang seharusnya tidak perlu lagi adanya kenaikan karena sudah ditetapkan secara resmi pemerintah melalui Dinas terkait.
Salah satu pemudik yang merasakan hal tersebut ialah Rita (30) tahun yang akan pulang kampung dari Bima ke Lombok Barat pada Minggu , 6 April 2025 mengatakan harga tarif bus/sleeper maupun travel sepertinya seragam dan diduga kuat ada konspirasi. ” Semua armada bis malam termasuk sleeper harganya sangat mencekik rakyat terutama kami kaum pelajar dan mahasiswa,” ungkapnya.
Rita mengungkapkan, mudik yang dilakukannya kali ini terbilang mendadak, karena dirinya tidak memesan tiket bus sejak jauh-jauh hari.
“Baru kemarin saya pesan online (tiket busnya). Tapi harganya lumayan (tinggi),” ujar Rita kepada media jejakntb.com
Dia mengaku, tiket yang dia dapat dibanderol hingga Rp500 ribu atau lebih tinggi berkali-kali lipat dibanding massa di luar mudik.
“Harganya naik hingga 300 persen, biasanya cuma Rp200 ribuan,” ungkapnya
Kendati demikian, Rita tidak menyebut PO Bus yang dimaksud. Memang sejak H-7 Lebaran, seluruh harga tiket kendaraan sudah terkena Tuslah yang biasanya naik dua kali lipat dari harga biasanya.
Namun kenaikan harga tiket yang dialami Rita mencapai tiga kali lipat. Kenaikan harga tiket bus yang drastis tersebut, menurut Rita seharusnya bisa dikendalikan oleh pemerintah.
“Di mana-mana seperti ini harusnya pemerintah hadir,” tuturnya.
Lebih lanjut, dia mengutarakan anggaran yang harus disiapkan untuk melaksanakan mudik lebaran tahun ini.
“Ya minimal saya harus nyiapin Rp1 juta buat ongkos mudik. Itu belum sama ongkos balik lagi ke Jakarta nanti,” keluh Rita.
“Karena kan bukan cuma buat tiket, tapi kita juga harus nyiapin uang buat makan, jajan, ke toilet kan bayar semua,” demikian karyawan swasta itu menambahkan
Informasi yang diserap media JejakNTB semua armada bis malam jurusan Bima – Mataram kini berlomba lomba menaikkan tarif mungkin karena faktor hari raya dan liburan semester.
” Selain tiketnya mahal, layanannya juga sangat tidak baik. Banyak penumpang yang duduk sambil berdesakan selain ketidaknyamanan saat berkendara, kecepatannya sangat tinggi dan kita kerap mengingatkan supir armada manapun untuk selalu berhati-hati sebab nyawa penumpang tidak ada gantinya” katanya.
Senada dengan Aktifis, salah satu tenaga pengajar di salah satu PT di Mataram, Dianul Syahlevi (44) pada JejakNTB, Minggu (6/4) mengungkapkan kekecewaannya pada pemerintah provinsi NTB dibawah kendali Iqbal-Dinda yang belum mampu menertibkan dan memberikan layanan terbaik buat warga masyarakat bumi Gora.
“Ini salah satu kegagalan pemerintah daerah yang diwakili dishub yang belum mampu bersikap tegas terhadap armada AKAP yang melintasi 10 Kabupaten Kota, masa iya NTB bisa makmur jika kondisi harga tiket aja tidak bisa dinormalkan,” paparnya.
Dia menuding pemerintah daerah dalam hal ini Pemprov NTB hanya pencitraan. ” Ini pencitraan buktinya tiket begini adanya tidak ada yang menegur dan mengingatkan,” terangnya
Dinas Perhubungan Nusa Tenggara Barat yang dikonfirmasi media terkait informasi melambungnya harga tiket bus malam termasuk sleeper maupun travel belum bisa ditanggapi. Saat redaksi mencoba menghubungi Kepala Dinas tersebut melalui ponselnya dalam keadaan tidak aktif.(Tim)




















