Generasi Z dan Hilangnya Etika Berbahasa

– M Wahidul Abror –

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, UNW Mataram, 2024

Tugas Akhir Mata Kuliah Psycholinguistics

Dosen Pengampu Mata Kuliah: M. Rajabul Gufron, S.Pd., M.A.

Generasi Z dan Hilangnya Etika Berbahasa

Perkembangan zaman yang semakin maju membawa berbagai kemudahan dalam komunikasi. Generasi Z, sebagai generasi yang tumbuh di era digital, memiliki keunikan dalam cara mereka berkomunikasi. Generasi ini sangat fasih menggunakan teknologi dan media sosial, tetapi di balik kemajuan tersebut, ada kekhawatiran terkait hilangnya etika berbahasa. Fenomena ini tampak dalam percakapan sehari-hari, baik di dunia maya maupun di dunia nyata.

Bahasa Sebagai Cerminan Kepribadian
Bahasa adalah cerminan dari kepribadian dan identitas seseorang. Dalam masyarakat tradisional, sopan santun dalam berbicara dianggap sebagai bagian penting dari kehidupan bermasyarakat. Namun, saat ini, norma-norma tersebut semakin terkikis. Generasi Z sering kali menggunakan bahasa yang terkesan informal, bahkan dalam situasi yang memerlukan formalitas. Sebagai contoh, penggunaan kata-kata singkatan seperti “gw,” “lu,” atau “wkwk” sering ditemukan dalam percakapan mereka, termasuk saat berbicara dengan orang yang lebih tua.

Pengaruh Media Sosial
Media sosial memainkan peran besar dalam perubahan etika berbahasa ini. Platform seperti Instagram, TikTok, dan Twitter mendorong penggunaan bahasa yang ringkas dan efisien. Di satu sisi, hal ini memungkinkan generasi Z mengekspresikan diri dengan cara yang kreatif. Namun, di sisi lain, penggunaan bahasa yang terlalu santai tanpa memperhatikan konteks dapat menyebabkan ketidaksopanan atau kesalahpahaman.

Contohnya, banyak generasi Z yang mengomentari unggahan publik figur atau rekan sejawat dengan nada sarkastik atau bercanda tanpa mempertimbangkan dampaknya. Hal ini berpotensi merusak hubungan interpersonal dan menimbulkan kesan kurang menghormati orang lain.

Dampak Hilangnya Etika Berbahasa
Hilangnya etika berbahasa tidak hanya berdampak pada hubungan sosial, tetapi juga pada dunia profesional. Dalam wawancara kerja, misalnya, seorang individu yang terbiasa menggunakan bahasa santai atau tidak formal dapat dianggap kurang kompeten. Selain itu, kebiasaan berbicara tanpa mempertimbangkan norma kesopanan juga berpotensi menurunkan citra generasi Z sebagai calon pemimpin masa depan.

Upaya Mengembalikan Etika Berbahasa
Sebagai generasi muda, generasi Z harus mulai menyadari pentingnya menjaga etika berbahasa. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

1. Meningkatkan Kesadaran Bahasa
Generasi Z perlu memahami bahwa setiap situasi memiliki konteks yang berbeda. Bahasa yang digunakan di media sosial tidak selalu sesuai untuk digunakan di dunia profesional atau dalam percakapan dengan orang yang lebih tua.

2. Pendidikan Etika Digital
Institusi pendidikan dan keluarga memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai kesopanan dalam berbahasa, terutama di ruang digital. Program literasi digital yang menekankan pentingnya etika dalam komunikasi dapat menjadi solusi.

3. Meningkatkan Teladan dari Generasi Sebelumnya
Generasi sebelumnya, seperti generasi X dan milenial, harus menjadi contoh yang baik dalam menjaga sopan santun berbahasa, baik di dunia nyata maupun digital.

Kesimpulan
Hilangnya etika berbahasa di kalangan generasi Z adalah tantangan yang harus dihadapi bersama. Generasi ini memiliki potensi besar untuk membawa perubahan positif, tetapi hal itu hanya dapat terwujud jika mereka mampu menjaga nilai-nilai dasar seperti sopan santun dalam berkomunikasi. Sebagai generasi yang menguasai teknologi, generasi Z diharapkan tidak hanya menjadi pengguna bahasa yang kreatif, tetapi juga bijaksana dan penuh penghormatan terhadap norma-norma sosial.

Opini ini diharapkan dapat menjadi refleksi untuk kita semua, terutama generasi Z, agar lebih peduli terhadap cara berkomunikasi yang baik dan santun, sebagai wujud penghormatan terhadap diri sendiri dan orang lain.


Artikel ini menunjukkan analisis pribadi saya sebagai mahasiswa yang peduli terhadap perkembangan sosial generasi muda. Semua argumen berdasarkan observasi dan refleksi saya terhadap fenomena di sekitar.

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print
Scroll to Top