MATARAM, JEJAKNTB|Ribuan relawan yang tergabung dalam Sahabat TGB mulai rapatkan barisan untuk balik kanan mendukung Paslon dengan nomor urut dua. Hal tersebut mereka lakukan karena melihat cara dan sikap TGB dalam suksesi kepemimpinan NTB satu. Khususnya mereka yang tersebar di Kota Bima, Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu telah mengambil sikap kembali ingin melanjutkan perjalanan menuju NTB Gemilang.
Mereka yang sebelumnya berada dalam posisi ketidakpastian, akhirnya bisa memutuskan pilihan setelah TGB KH Muhammad Zainul Majdi mengeluarkan pernyataan resmi mendukung Zulkieflimansyah bahkan keluar dari partai politik pengusung kakaknya dibaca sejumlah pihak sebagai sikap kontradiksi TGB atas konstelasi politik saat ini.
Barisan Sahabat TGB yang tadinya bimbang, akhirnya berani mengambil keputusan. Dan menyatakan secara tegas dan meyakinkan untuk memenangkan Dr Zulkieflimansyah – Suhaili FT SH.
“Begitu ada pernyataan Syekh TGB, kami langsung balik haluan, bergabung di Sahabat TGB menyamakan apa yang arahan beliau,” ujar Koordinator Relawan Sahabat TGB, Baharuddin Umar, Kamis, (7/11).
Dua poin pernyataan TGB yang dinilai memberi kepastian kepada relawan dan jamaah NWDI
Pertama, mendukung sahabatnya Zulkieflimansyah jadi Gubernur NTB dua periode. Tugas Zulkieflimansyah menurut TGB tidak cukup dengan satu periode, namun harus dilanjutkan pada periode kedua demi akselerasi pembangunan.
Kedua, NWDI, organisasi Islam terbesar di NTB yang ia pimpin, tidak mendukung pasangan Rohmi Djalilah – Musyafirin dalam Pilgub NTB 2024.
Secara substansial warga Sasak selama beberapa periode Gubernur memang tidak pernah dipimpin kaum hawa, sebab bagi mereka pemimpin sejati itulah laki -laki bukan perempuan.
Menurut Baharuddin, dua poin pernyataan itu jelas dan klir tentang sikap politik TGB mendukung Zulkieflimansyah yang saat ini berpasangan dengan Suhaili FT.
“Pernyataan TGB ini klir, tidak ada multitafsir. Kalau pun ada yang tafsirkan macam – macam, itu dari orang yang tidak bertanggungjawab,” tegas Behor, sapaannya.
Memang sempat ada keraguan dari para simpatisan, kader NWDI di Dana Mbojo. Tapi setelah diinformasikan secara langsung, diperkuat tayangan Podcast secara massif akhirnya dianggap sahih.
“Kita posisikan TGB ini sebagai simbol, lalu siapa lagi yang kita ikuti selain tuan guru?,” tegasnya
Sementara sebagian besar pengamat menilai sikap dan cara TGB dalam menyikapi pilkada dan Pilgub bukan malah menguatkan simpul dan trah politik keluarganya malah sebaliknya.
“Cara itu bisa kita baca, TGB dari awal telah menunjukkan sikap gimmick dan plin plan dalam memainkan performance politiknya sepertinya beliau tetap ingin memilih menjadi dirinya sendiri, sebagai ulama, beliau adalah seorang tokoh yang paling disegani dan sangat dihormati tak selayaknya berada dalam pusaran politik kekinian, apa yang dilakukan nya sudah sangat tepat untuk menjaga Marwah keilmuan dan keulamaannya, jika TGB tidak segera hijrah dan mufarraqah kembali ke khittah awal maka pamornya akan hancur sebagai tokoh yang bersahaja,”pungkas seorang pengamat yang enggan disebutkan namanya.(*)




















