JejakNTB.com |Sekolah Sepakbola (SSB) Persid Dena baru saja selesai menuntaskan laga kompetisi pertandingan sepak bola usia dini untuk kelompok anak berumur 10 hingga 12 tahun yang telah sukses dilaksanakan oleh sebuah klub bonafide Bima United Academy dengan total peserta 65 tim Se Pulau Sumbawa.
Untuk Kelompok Umur 10 tahun SSB Persid Dena keluar sebagai juara satu setelah menyingkirkan SSB Dompu United 3 -1 di laga semifinal dan SSB Power dengan skor 1 – 0 di laga final.
Ketangguhan anak anak telah terbukti dengan menjuarai sejumlah tournament berkat doa dan dukungan masyarakat terutama peran utama orang tua yang terus mendukung anak anaknya untuk bermain dan bertanding.
Hanya saja menurut salah seorang walimurid bernama Nukman sangat menyayangkan masih setengah hatinya para pengelola dan memanage SSB tersebut,
” Dari sisi manajemen masih amburadul dan vested interest nya sangat membuncah memicu lemahnya semangat untuk membangun organisasi bola yang solid,” ucapnya.
Dia mencontohkan betapa semangatnya para orang tua di Desa Dena Kecamatan Madapangga sampai meninggalkan pekerjaan pokok dan mata pencahariannya selama satu minggu hanya untuk bolak balik Kota dan Kabupaten Bima setiap harinya,
” Berapa kerugian waktu tenaga dan biaya para orang tua dan saudara saudara kita hanya untuk mensupport bakat anak anaknya,” lanjutnya.
Dirinya pun mencontohkan lagi bagaimana para ortu menuju pulau lombok, menuju Sumbawa Barat hanya untuk bertanding membawa nama baik Desa, Kecamatan bahkan Kabupaten Bima namun sayang tidak ada dukungan riil dari Pemerintah untuk menyokong kegiatan anak anak bangsa tersebut.
” Manajemen SSB Persid sangat amburadul tiba saat tiba akal tanpa perencanaan yang jelas dan terarah ditambah berbagai macam serba serbi internalnya yang tak berujung” terang Nukman.
Hal ini wajar disorot, karena sepengetahuan dirinya keikutsertaan dalam tournamen sudah sampai Mataram bahkan sebentar lagi akan ke Yogyakarta dalam momentum liga anak nusantara.
” Kami khawatir kejadian demi kejadian akan terulang mengingat kebersamaan pengurus masih sangat rapuh dan belum transparan mengelola keuangan sekolah sepakbola sesuai prosedural keorganisasian yang semestinya, selain itu tidak adanya bentuk pertanggungjawaban keuangan yang sistematis dan baik dari semua rangkaian manajemen organisasi SSB Persid Dena,” terangnya.
Lebih jauh Nukman mengungkapkan pengelolaannya masih sangat jauh dari harapan,
” Jangan hanya mau enaknya saja, saat berjuang enggan dan ragu bergerak bersama namun saat mendengar kemenangan lautan luas dan samudera terbentang seolah olah dekat untuk diseberangi,” kata mantan aktivist 98 itu pada media.
Walimurid M Anas Shabirah ini melihat sangat rapuhnya manajemen dan rendahnya perilaku kinerja dalam mengelola sekolah bola di Madapangga.
” Jika kita mau dibantu, mau dihargai kita harus memulai menghargai diri kita, sahabat dan orang dekat dan menghindari sifat gengsi serta mau membangun komunikasi yang baik dan sehat dengan siapapun,”
Belajarlah untuk mengakui segala kekurangan dan pandai pandailah untuk menjadi orang pintar merasa bukan merasa pintar dan sok pintar, hargailah siapapun yang bersama anda.
Kedepan, Ia berharap ada sistem dan managerial yang bagus yang didapatkan SSB Persid ini, bukan hanya sekedar menguasai teori dan praktek bermain bola saja namun juga dapat mengelola SSB yang dapat memakmurkan anggotanya.
Kami berharap agar benar benar SSB ini dapat menjadi secercah harapan untuk menata mental dan karakter serta jiwa peserta didik bukan wadah eksploitasi anak dalam modus operandi organisasi sekolah bola, belajar dari pengalaman negeri kita banyak orang pintar namun sedikit yang cerdas dan waras bekerja bersama sama melainkan ego kita masing masinglah yang membuncah bergelora.
” Semua butuh proses dan tidak tiba saat tiba akal, semua harus dengan menejemen yang baik bukan sesuka hati dan semau gue, dimana ada kemauan pasti disitu ada jalan, jangan ada dusta diantara kita” pungkasnya.
Redaksi




















