JejakNTB.com, SUMBAWA| Lembaga Analisis dan Kajian Kebudayaan Daerah (Linkkar) menggelar acara nonton bareng (Nobar) film dokumenter drama (Dokudrama) “Barempuk” di lapangan sepak bola Desa Kakiang, Kecamatan Moyo hilir, Kabupaten Sumbawa-NTB pada, Senin (29/8) malam.
Hadir dalam acara tersebut, Direktur Linkkar Amilan Hatta, M. Si, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumbawa Abdul Rafiq, SH, Camat Moyo Hilir Deden Fitriadi, S. STP, M. Si, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kadisnakertrans) Sumbawa Dr. Budi Prasetyo, perwakilan Lembaga Adat Tana Samawa (LATS) Syukri Rahmat, S. Ag, Kepala Desa (Kades) Kakiang Erfan Darisman, Kasat Pol PP H. Sahabuddin, M.Si, Budayawan Sumbawa H. Hasanuddin HD, Manjasus, Tokoh Agama (Toga), Tokoh Masyarakat (Toma), serta masyarakat Desa Kakiang.
Pada kesempatan tersebut, Ketua DPRD Sumbawa Abdul Rafiq memberikan apresiasi kepada Linkkar dan tim produksi film Barempuk.
“Saya sangat mengapresiasi karya Linkkar ini,film Dokudrama salah satu tradisi kita yaitu “Barempuk”sangat Spesial dan bermakna sekali dan sangat luar biasa karya dengan tema budaya pada malam ini,” ucap Rafiq.
Abdul Rafiq juga mangajak masyarakat untuk menjaga dan melestarikan budaya Sumbawa.
“sangat penting kita menjaga dan melestarikan budaya kita karena itu adalah identitas kita, namanya identitas artinya sesuatu yang sangat pokok dalam kehidupan kita. Selain itu saya ingin melihat dari dimensi lain, Barempuk adalah sebuah budaya yang sebenarnya bisa kita jual, apalagi di era industri 4.0 ini sangat mudah sekali kita memperkenalkan budaya-budaya lokal kita Ucap Rafiq yang juga Pembina PGRI Sumbawa ini,
Kehadiran kelompok sinemais ini memberikan pesan kepada kita sejauh mana kita peduli dan sejauh mana kita berfikir apa dampak dari budaya-budaya kita di Sumbawa, apalagi desa Kakiang ditetapkan sebagai salah satu Desa Budaya di kabupaten Sumbawa, dengan adanya kegiatan Nobar film Dokudrama Barempuk ini ada multiplayer efek khususnya untuk masyarakat Kakiang umumnya masyarakat Sumbawa,” ucap Rafiq.
“Kegiatan ini adalah awalan dan juga “bandul” dalam pengembangan potensi Desa, Tinggal bagaimana nanti kita kemas untuk lebih memperkenalkan desa Kakiang, tentu persiapannya harus difikirkan. jangan sampai nanti Barempuknya sudah dikenal oleh masyarakat, namun warga Kakiang khususnya belum siap menerima kunjungan teman-teman kita yang dari jauh untuk menggali dan mendalami budaya kita.Ujar Rafiq yang juga Ketua IKLS Sumbawa ini.
Masih kata Rafiq, lebih-lebih dampak ekonominya harus kita dapatkan, sehingga ketika itu kita lakukan dan konsepkan secara bersama-sama, saya yakin budaya-budaya kita bisa kita jaga dan kita lestarikan, Dengan adanya kegiatan seperti ini ibu-ibu bisa mempersiapkan UMKM, kami di lembaga DPRD insyaAllah memberikan attensi terkait kegiatan seperti ini,” jelas Rafiq.
Lebih jauh rafiq mengajak efek domino sebuah film dalam mempromisikan wisata budaya seperti yang dilakukan daerah lain , sebut saja film Laskar Pelangi sukses menjadi ujung tombak promosi wisata di Blitung. Nah inilah yang kita kejar bagaimana desain, bagaimana konsep dari tampilan-tampilan film yang kita sajikan ini, apakah itu menjadi daya tarik yang sangat luar biasa bagi mereka atau sekedar biasa-biasa saja tidak seperti yang kita promosikan, inilah mungkin PR kita. Sehingga ketika pengunjung dari luar daerah datang untuk menonton acara seperti ini mereka akan membawa kabar yang bagus diluar daerah atau tempat masing masing dan mereka berkeinhinan kembali lagi untuk menonton kegiatan Barempuk ini,” Pungkas Rafiq.
Sebelumnya Direktur Eksekutif Linkkar Amilan Hatta dalam sambutannya menyebutkan bahwa pembuatan film budaya Dokudrama “Barempuk” merupakan sarana memperkenalkan objek pemajuan kebudayaan desa Kakiang yang didaftar ke Kemendikbud Ristek RI.
“Puji syukur kepada Allah SWT dan terimakasih sudah berkumpul bersama kami untuk menyaksikan salah satu kegiatan yang kami laksanakan bersama masyarakat desa Kakiang dalam 3-4 bulan terakhir ini didampingi oleh bapak Camat Moyo hilir dalam rangka pembuatan film Budaya Dokudrama (Dokumenter Drama) film “Barempuk” yang merupakan objek kebudayaan desa Kakiang yang didaftar ke Kemendikbud Ristek RI,” ucap Amilan Hatta.
“Film sebenarnya hanya salah satu instrumen atau alat untuk memperkenalkan salah satu Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) yang ada di desa Kakiang,” jelasnya.
“Yang terpenting menurut kami bagaimana kegiatan Barempuk ini benar-benar dibangkitkan kembali sebagai salah satu eksistensi budaya yang ada di desa Kakiang ini. Jadi tidak ada artinya jika film hanya sebuah tontonan tetapi esensi dari kegiatan Barempuknya itu tidak ada aktivitas di desa Kakiang. Saya mengimpikan Barempuk dan Karaci itu kita bangun bersama-sama lagi di desa Kakiang,” harapnya.
Ia juga menyampaikan pesan dari Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan (PPK) Kemendikbud dalam hal ini Pokja Pemajuan Kebudayaan Desa.
“Pertama, gunakan atau manfaatkan objek pemajuan kebudayaan di desa itu sebesar-besarnya untuk menjadi bernilai ekonomi buat masyarakat desa. Jadi esensi dari pemajuan kebudayaan itu bagaimana agar masyarakat desa itu bisa merasakan dampak kesejahteraan dari objek pemajuan kebudayaan yang ada. Kedua, OPK desa Kakiang dalam hal ini Barempuk dan Karaci harus benar-benar dibangkitkan eksistensinya oleh masyarakat Kakiang itu sendiri. Kita berharap desa Kakiang menjadi ujung tombak dalam kegiatan Barempuk ini, minimal Pemerintah Desa mampu menyusun dokumen pemajuan kebudayaan desa. Dari dokumen pemajuan kebudayaan desa kemudian menjadi RPJMDes kemudian akan menjadi RPJMD. Semoga ini akan mendapat atensi dari bapak ketua DPRD kab. Sumbawa,” terang Milan.
Selain itu, Amilan Hatta juga berpesan kepada masyarkat dan pemerintah desa Kakiang agar kedepan ada upaya gotong-royong menjadikan desa Kakiang benar-benar memiliki objek kebudayaan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Tidak ada artinya sebuah tontonan atraksi kebudayaan tetapi tidak dirasakan langsung dampaknya oleh masyarakat sebagai penyedia dan penikmat dari kegiatan kebudayaan itu sendiri, karena pendampingan dari Kemendikbud hanya 3 tahun, selanjutnya harus ada upaya gotong royong dari masyarakat dan pemerintah desa sebagai ujung tombak,” ungkap Milan.
Hampir senada Kades Kakiang Erfan Darisman dan Camat Moyo Hilir, Deden Fitriyadi, S.STP, M.Si mengapresiasi Desa Kakiang mampu memberikan konstribusi budaya kepada Kabupaten Sumbawa yaitu Karaci dan Barempuk.
“Kedepan budaya Karaci dan Barempuk perlu ditampilkan seperti di Bandara ataupun di event-event lain yang diselenggarakan di Sumbawa agar semakin dikenal oleh masyarakat luas,” harapnya. (Ruf)




















