Umi Lena Minta Warga Rasional, Bantah Sebagai Pelapor Jeng Fitri dan Penjarakan Siapapun— “Mari Tetap Merajut Kebersamaan”.
MATARAM, JEJAKNTB||Ibarat pepatah bijak, makin tinggi suatu pohon menjulang maka makin dahsyat angin yang akan menerpanya. Itulah kira kalimat yang sangat tepat diarahkan kepada Hj. Mahdalena anggota DPR RI dari FPKB Dapil Pulau Sumbawa. Berbagai sorotan tajam terus menderu mulai dari dugaan dugaan tidak masuk akal hingga ke ranah privasinya tak satupun mempan menumbangkan Srikandi NTB Satu ini.
Tak tanggung-tanggung mulai warga bisa hingga akademisi berburu gosip dan kian melancarkan serangan ke arah wanita tangguh ini namun alhamdulilah tak mempan meruntuhkan intelektual, kapasitas dan integritas yang dimiliki seorang Srikandi NTB yang mengendalikan kotak Pandora.
Di tengah hiruk-pikuk suara masyarakat yang mengaitkan dirinya sebagai pelapor dalam kasus yang melibatkan Jeng Fitri, Hj. Mahdalena yang akrab disapa Umi Lena mengeluarkan suara dengan penuh kesabaran dan kebaikan hati. Wanita yang dikenal ramah dan selalu menjunjung tinggi nilai kekeluargaan ini mengaku merasa berat hati melihat bagaimana informasi yang tidak benar terus berkembang dan membuat suasana menjadi semakin tegang.
“Saya mengerti betul perasaan khawatir dan cemas yang mungkin dirasakan oleh setiap pihak yang terlibat, termasuk keluarga dan teman-teman Jeng Fitri. Namun, saya harus dengan tegas menyatakan bahwa tuduhan yang mengatakan saya sebagai pelapor tidak sesuai dengan kenyataan. Sudah sangat jelas dalam berkas resmi pelaporan, nama yang tercantum adalah pihak yang benar-benar merasa dirugikan oleh peristiwa yang terjadi,” ucap Umi Lena dengan nada yang lembut namun tegas saat dikoordinasi melalui WhatsApp langsung pribadinya.
Sambil mengusap dada dengan penuh kesadaran, Umi Lena menceritakan bagaimana dirinya juga pernah mengalami masa-masa sulit dan memahami betul bahwa dalam setiap konflik, ada sisi manusiawi yang seringkali terlupakan. “Kita semua adalah makhluk yang memiliki hati dan perasaan. Tidak ada seorang pun yang ingin melihat saudara atau sesama manusia kita harus menghadapi kesulitan yang berat. Saya sendiri tidak bisa membayangkan jika harus melihat seseorang yang saya kenal harus berada dalam situasi sulit hanya karena kasus penghinaan. Manusia tidak mungkin sekejam itu – kita semua punya kesempatan untuk menyadari kesalahan, meminta maaf, dan memperbaiki diri,” ujarnya dengan rasa peduli yang mendalam.
Umi Lena kemudian mengajak dengan hangat agar pihak keluarga atau teman dekat dari terlapor mau mengambil langkah yang lebih harmonis untuk menyelesaikan masalah ini. “Saya selalu percaya bahwa komunikasi secara kekeluargaan adalah kunci terbaik untuk menyelesaikan setiap konflik. Mari kita temui pelapor atau keluarga pelapor dengan hati yang tulus, dengan niat untuk memahami satu sama lain dan mencari jalan keluar yang baik. Tidak ada hati yang tidak bisa luluh jika kita datang dengan rasa sungguh-sungguh menyadari perbuatan kita dan memiliki keinginan yang tulus untuk memperbaiki,” jelasnya sambil menekankan bahwa setiap langkah kebaikan akan selalu membawa hasil yang baik.
Menurut Umi Lena, terus menerus menggiring opini masyarakat agar menyalahkan dirinya sebagai pelapor hanya akan membuat masalah semakin berkepanjangan dan tidak ada yang mendapatkan kebaikan darinya. “Jika kita terus terjebak dalam isu yang tidak benar, maka fokus kita akan teralihkan dari hal yang paling penting – yaitu menyelesaikan masalah dengan cara yang menghormati hak dan martabat semua pihak. Kita tidak perlu menebarkan kebencian atau tuduhan yang tidak jelas. Mari kita bersama-sama menciptakan suasana yang damai dan mencari solusi yang penuh kasih,” pungkasnya dengan senyum hangat yang penuh harapan.
Di akhir kesempatan berbicara, Umi Lena juga mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang telah memberikan perhatian dan dukungan. Ia berharap bahwa semuanya bisa kembali ke kondisi yang baik dan kita bisa saling mendukung satu sama lain sebagai saudara sesama warga negara.(*)




















