PENGARUH MEDIA SOSIAL TERHADAP KEMAMPUAN BERBAHASA ANAK USIA DINI: TINJAUAN PSIKOLINGUISTIK

PENGARUH MEDIA SOSIAL TERHADAP KEMAMPUAN BERBAHASA ANAK USIA DINI: TINJAUAN PSIKOLINGUISTIK

Yesi Maharani

 

Mahasiswi Program Studi Pendidikan bahasa Inggris, UNW Mataram, 2024

Tugas Akhir Mata Kuliah Psycholinguistics

Dosen Pengampu Mata Kuliah: M. Rajabul Gufron, S.Pd., M.A.

 

 

Media sosial, merupakan landasan pacu informasi, pernyataan ini berangkat dari fenomena hari ini, di mana media sosial memberikan informasi-informasi yang kemudian itu mampu merubah perilaku masyarakat, seperti cara berbahasa. Di lansir dari rri.co.id pada tahun 2024 jumlah penggunaan media sosial yaitu 191 juta pengguna atau 37,7% dari populasi masyarakat indonesia, dari jumlah tersebut 167 juta atau 64,3% merupakan pengguna aktif media sosial.

Berangkat dari data di atas, artikel ini akan membahas bagaimana dampak media sosial terhadap perkembangan bahasa pada anak usia dini yang aktif menggunakan media sosial?.

Rentang umur anak usia dini adalah 0-6 tahun, sesuai dengan Pasal 28 UU Sisdiknas No.20/2003 ayat 1. di kutip dari generasimaju.co.id, anak yang berusia 3-5 tahun sedang dalam tahap rasa ingin tahu yang tinggi. Fakta hari ini menujukan, Untuk menyenangkan dan menenangkan buah hati, ibu-ibu memilih cara memberikan smarphone pada anak-anak, sendangkan pada usia ini anak usia dini sedang aktif merekam apa yang dilihat dan di dengar. Dengan berbagai konten mendia sosial baik itu negatif dan positif, akan memberikan ransangan yang signifikan bagi perkembangan bahasa anak.

Program seperti video animasi yang mengajarkan anak-anak alfabet, kosa kata baru, cerita bergambar, dan lagu-lagu yang menyenangkan dapat menjadi alat yang efektif untuk membantu anak-anak belajar bahasa. Konten seperti itu dapat membantu anak-anak berbicara dengan lebih baik dan mendengarkan dengan baik. Namun, perlu diingat bahwa tidak semua konten di media sosial bersifat positif. Konten negatif, seperti kata-kata kasar, ujaran kebenjian, dan informasi yang tidak akurat (HOAX), dapat mempengaruhi cara mereka berkomunikasi. Anak-anak yang terpapar konten semacam ini mungkin mulai mengikuti perilaku atau bahasa yang mereka lihat, yang dapat memengaruhi cara mereka berinteraksi dengan orang lain.

Orang tua dan pendidik sangat penting dalam situasi ini. Mereka harus memiliki kemampuan untuk memilih dan memantau konten yang diakses oleh anak-anak. Orang tua dapat mengambil pendekatan ini dengan memberi tahu anak-anak kata-kata atau kalimat baru yang mereka temui dan memberi mereka konteks yang sesuai. Dengan cara ini, orang tua dapat membantu anak-anak memperoleh pengetahuan bahasa dalam konteks yang tepat. Orang tua juga dapat mendorong anak-anak unruk untuk melakukan hal-hal lain, seperti membaca buku, bermain di luar, dan berhubungan dengan anak sebaya mereka. Ini memberikan pengalaman berbahasa yang lebih menarik dan bermanfaat. Anak-anak harus memiliki waktu yang cukup untuk berinteraksi secara sosial di dunia nyata, di mana mereka dapat belajar dari pengalaman langsung dan membangun keterampilan komunikasi yang kuat. Membatasi waktu mereka di layar dan menetapkan batasan yang jelas tentang kapan dan bagaimana mereka dapat menggunakan media sosial akan membantu meningkatkan keterampilan bahasa mereka.

Secara keseluruhan, media sosial sangat memengaruhi pembelajaran anak-anak di usia dini. Media sisoal dapat menjadi alat pembelajaran yang sangat bermanfaat jika digunakan dengan benar. Namun, penting untuk mempertimbangkan jenis konten yang dapat diakses oleh anak-anak dan pengawasan orang tua untuk memastikan bahwa anak-anak menikmati konten yang bermanfaat tanpa terpapar konten yang dapat menyebabkan gangguan perkembangan bahasa. Dengan metode yang tepat, kita dapat memastikan bahwa anak-anak tidak hanya menjadi pengguna media sosial yang baik tetapi juga dapat berbahasa dengan percaya diri.

 

 

 

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print
Scroll to Top