Kaitan Anjloknya Harga Jagung, Dewan Minta Pemda Panggil Pengusaha

JejakNTB.com | Anggota Komisi 1 DPRD Kabupaten Bima, Ma’rif Taqwa, menyoroti harga jagung yang menurun. Karena itu, DPRD Bima meminta Pemda Bima untuk memanggil pengusaha jagung. Agar diketahui masalah yang terjadi.

Anggota Komisi 1 DPRD Kabupaten Bima, Ma’rif Taqwa   mengatakan, alangkah baiknya jika semua pengusaha jagung itu diundang. Kemudian, bersama Pemda dan DPRD Bima, dilakukan diskusi bersama petani jagung di seluruh wilayah. “Sehingga hasil diskusi kita bisa tau apa masalahnya,” ujar Morris, akrab Wakil Ketua DPC Gerindra disapa, saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (11/3).

Menurut Wakil Ketua DPC Gerindra Kabupaten Bima ini, jika akar permasalahan sudah diketahui, maka akan muncul solusi terbaik. Sehingga keluhan petani jagung dapat terjawab. “Masalah dari pengusaha seperti apa, pemerintah seperti apa, petani seperti apa. Sehingga disitu akan muncul solusi. Ini yang kita kedepankan ketika ada masalah di masyarakat sehingga tidak bias karena kita sudah berdialog,” tambahnya.

Menurut Moris, setiap wilayah memiliki persoalan yang berbeda-beda. Disinilah peran camat sangat dibutuhkan, untuk menampung persoalan di masing-masing wilayahnya. Kemudian informasi yang didapat diteruskan ke Pimpinan Daerah.

Menurutnya, para pihak terkait harus berani bertemu. Peran paling vital adalah peran kepala wilayah, yakni camat. Karena itu, sebagai kepala wilayah, harus mengundang semua pengusaha jagung. Karena ketika kepala wilayah mengambil langkah-langkah sejak awal maka tidak akan bias permasalahannya. “Kita bedah disitu apa masalahnya. Ketika pola komunikasi itu kita lakukan, ini tidak akan bias karena sudah ada proteksi,” pungkasnya

Sementara Petani Jagung  Madapangga Nukman mencermati saat ini  harga jagung anjlok sangat merugikan para petani dan diduga menguntungkan oknum oknum vendor termasuk gudang jagung. Diduga pemicunya faktor cuaca ada permainan ditingkat harga dan oknum vendor PT CPI yang menggesa para petani sederhananya aji mumpung manfaatkan kesempatan dalam kesempitan.

” Jujur saya temukan ada dugaan yang mengarah ke obyek yakni petani dengan membuat hati dan emosinya cemas menggebu gebu takut jerih payahnya tidak diterima sehingga petani  buru buru jemur seadanya buru buru masukkan pick up dan trucknya antarkan jagungnya masuk berhubung PT baru akan buka setelah puasa begitu kira kira pesan yang mendrive mindset petani sehingga petani kita tergesa, oknum vendor merugikan para petani kita, polanya unik dan beragam. Saat cuaca bagus diumumkan harga jagung naik bahkan dengan kisaran harga 7.500 sekitar seminggu lalu namun tiba saat tiba akal hilang harga itu seiring jagung mulai dipanenkan dan ironinya saat cuaca kurang bersahabat tiba tiba anjlok hingga terpuruk ke harga Rp 4.500 bahkan bawah lagi selain itu ada oknum vendor di CPI yang sengaja mempengaruhi petani agar cenderung tergesa gesa menimbang jagungnya dalam kondisi masih kadar airnya tinggi padahal kadar air seperti 27 / 29 boleh dibilang jagung basah dan vendor meraup keuntungan lebih, akhirnya nanti mereka lempar lagi ke PT dengan kadar air ideal dengan harga bagus” bebernya

Masih Nukman, testimoninya pada petani Desa Dena dan petani Desa Tonda yang jumlah jagungnya hampir dua ton namun terjual dengan kisaran harga 4 ribuan lebih sedikit padahal saat itu jagung berada di bandrol 7.500 per kilogramnya data tersebut terbaca di kwitansi hasil penjualan jagung hibrida di salah satu PT bonafide di Madapangga.

“Kasihan petani kita sudah capek capek bertani selama 4 bulan dengan peluh keringat dan terlilit hutang untuk memodali aktifitas tani nya  namun harus merugi gegara ini, oknum vendor benar benar licik saya sarankan juga agar petani tidak tergoda imannya saat kondisi kantongnya mengempis usahakan bertani lah dengan professional dan agar tak tergiur  mengambil uang para vendor duluan (Ngebon) sebab dari hasil investigasinya rata rata petani terkendala saat eksekusi hasil bertaninya kendala biaya dan ongkos angkut dan tresser nah dari itulah oknum vendor masuk seolah olah datang bantu biayain namun memainkan petani pemilik jagung dari mengambil duluan cuannya barulah oknum memainkan pola muslihatnya dengan menyesuaikan yang diambil petani tadi dengan kondisi biji jagung yang dimilikinya saat itu,” tutupnya.

Dia berharap mumpung yang panen jagung saat ini baru satu dua orang bahkan bisa dihitung dengan jari sebaiknya legislatif segera bersikap dengan memanggil pengusaha jagung dari semua lapisan hingga gudang dalam waktu dekat jika tidak maka jejak langkah oknum oknum tertentu yang diduga bisa merusak nama baik perusahaan agar segera teratasi,

” Segera pak dewan panggil pemerintah dan pengusaha duduk bersama bahas ini sebab dugaan polarisasi dalam meraup keuntungan hasil tani akan massif nantinya dan sulit terbendung. Selain itu tolong dibina dan dibriefing vendor vendor perusahaan yang menangani jagung. Ingatkan mereka untuk menjaga nama baik perusahaan bukan sebaliknya sebab tanpa sadar praktik praktik itu bisa merusak merusak reputasi dan citra usaha,” tandasnya

Selain Nukman, hal senada dikatakan Doni warga Monggo. Doni pun sependapat dengan Bung Nukman oknum vendor Pt lah yang diduga bermain sehingga memperkeruh suasana harga jagung tetsebut,

” kita dibuat terburu buru dengan keadaan kadang informasinya perusahaan tutup ini itulah sehingga menggesa petani dan mengeringkan jagung dengan seadanya sekenanya jadinya kadar air jagung tinggi dan dibandrol dengan harga anjlok ,,,betul sekali apalagi kita yang baru pemula belajar bertani dan bercocok tanam sangat minim pengalaman saat memasarkan hasil produk kita yang tau tau nya buaya semua, mereka polarisasi kita sehingga hasil berpihak kepada oknum dan petani menjerit”tandasnya.

Hingga berita ditulis belum ada pihak PT CPI yang bisa dihubungi terkait dugaan tersebut namun media akan tetap mengkonfirmasi sejauhmana dugaan kebenaran dari pengakuan sejumlah petani kita yang sangat menjerit saat ini dengan harga jagung yang benar benar anjlok.

Saat ini jagung khusus wilayah Bolo Madapangga baru mulai dipanen itupun belum semua karena mereka menanam lebih awal karena mengejar patokan harga normal nya diatas 7.500 namun sial bagi petani kita karena kebijakan itu kurang bwrpihak(*)

 

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print
Scroll to Top