AKUISISI BAHASA PERTAMA PADA ANAK AUTIS

AKUISISI BAHASA PERTAMA PADA ANAK AUTIS

 

Ira Safitri

 

Tugas Akhir Mata Kuliah Psycholinguistics

Dosen Pengampu Mata Kuliah: M. Rajabul Gufron, S.Pd., M.A

 

 

OPINI, MATARAM|Anak autis adalah kondisi anak yang mengalami gangguan perkembangan fungsi otak yang mencakup bidang sosial, komunikasi verbal dan non-verbal, imajinasi fleksibilitas, kognisi, dan atensi. Anak autis merupakana anak yang membutuhkan perhatian dan perlakuan khusus dari lingkungan sekitarnya yang berbeda dengan anak normal lainnya. Mereka seperti terbelenggu dengan dunianya sendiri karena mengalami hambatan dalam komunikasi dan intraksi sosial dengan orang lain. Anak autis mengalami kurangnya kemampuan dalam merespon sesuatu dari orang lain dan lingkungan sekitar sebagaimana mestinya dan ketika mereka memberikan respon balik sering menggunakan cara yang unik. Pada dasarnya anak autis bukanlah anak yang “bodoh” atau “idiot”. Mereka hanya anak-anak yang mengalami gangguan dan kekurangan dalm dirinya. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan proses akuisisi bahasa pertama pada anak autis, faktor yang mempengaruhinya, serta intervensi yang efektif. Terapi wicara dan metode sperti Applied Behavior Analysis (ABA) dapat mendukung perkembangan bahasa anak autis.

Anak autis memiliki variasi yang luas dalm kemampuan akuisisi bahasa pertama. Beberapa anak mungkin tidak berbicara sama sekali (nonverbal), sementara yang lain dapat berbicara tetapi menunjukkan keterlambatan atau pola yang tidak biasa. Beberapa faktor utama yang mempengaruhi akuisisi bahasa pertama pada anak autis. Contohnya intraksi sosial, kesulitan dalam menjalin kontak mata, bebrbagi pertahatian, dan membaca isyarat sosial mempengaruhi kemampuan anak untuk mempelajari bahasa melalui intraksi sehari-hari. Gangguan sensorik, banyak anak autis yang mengalamai gangguan sensorik yang mempengaruhi kemampuan mereka untuk memproses informasi autitori, seperti mengenali suara atau memahami intonasi. Lingkingan, simulasi verbal dan keterlibatan aktif keluarga mendukung perkembangan bahasa. Anak autis lebih identik dengan prilaku atau sifat yang suka menutup diri, keinnginan untuk sendiri dan tidak mau berintraksi dengan orang lain.

Hal yang lumrah apabila bagi penderita autisme mengalami gangguan dan kesulitan dalam berbicara maupun kegiatan berbahasa yang lain. Sebab pemerolehan bahasa pada penderita autis memiliki perbedaan dengan anak normal lainnya, anak-anak normal biasanya memproleh bahasa dalam kurun waktu 3 sampai 6 bulan sudah mampu mengucapkan kata-kata yang mudah. Bagi anak penderita autisme, mengucapkan kata per kata maupun mempelajari suatu bahasa adalah suatu hal yang bisa dilakukan oleh penderita tersebut. Meskipun dilakukan dengan menggunakan metode pengulangan.

Anak penderita autis harus terus berlatih mengucap secara ritun dan lebih sring dibandingkan anak normal. Hal ini disebabkan oleh gangguan saraf tersebut, maka aka semakin sulit dan usaha yang dilakukan agar anak autis mampu berbahasa. Bagi anak penderita autis pada dasarnya tidak dapat sembuh total seperti anak normal lainnya, tetapi gejala-gejala yang ditimbulkan oleh pe derita autis dapat dikurangi dan diminimalisasi, sehingga mengurangi hal-hal yang tidak normal dan meningkatkan kemampuan serta perkembangannya seperti anak lainnya.

Akusisi bahasa pertama pada anak autis memerlukan pendekatan khusus yang mmempertimbangkan intraksi sosial, gangguan sensorik, dan metode intervensi. Lingkungan yang mendukung dan intervensi dini dapat membantu anak autis mengembangkan kemampuan bahasa secara optimal.

 

 

*Penulis merupakan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, UNW Mataram, 2024

 

 

 

Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Email
Print
Scroll to Top